Menurut bapak-ibu guru di Sekolah, Belajar itu gak cuma dari sekolah tapi seumur hidup. Belajar bukan hanya menghafal membuka buku-buku, mendapat nilai, menerima rapot. Tetapi, bagaimana kita memaknai setiap pengalaman dan belajar dari sana. Ya, lagi lagi, kata guru dan tulisan kata mutiara di sekolah, sih, pengalaman adalah guru terbaik alias experience is the best teacher. Cara kita memaknai "guru-guru" dalam hidup dan mengambilnya menjadi sebuah pembelajaran itu yang penting sehingga kita bisa berkembang sebagai manusia seutuhnya.
Nastasha abigail di podcastnya, pernah bilang, kita ketemu seseorang itu pasti ada alesannya, either as a lesson or blessing. Tapi, saya akan mencoba melihat dari prespektif lain, dengan pertanyaan-pertanyaan... Dari mana kita tahu bahwa seseorang itu 'ditemukan' dengan alasan? Bagaimana kalau blessing dan lesson bisa datang dari orang yang sama?
ngga usah asumsi dan menduga-duga siapa. ini refleksi diri. cuma ditulis aja biar gak lupa.
Ada yang bilang gini, "kedewasaan seseorang itu gak diliat dari umur ya, ya itu contohnya si x". Ini mungkin menandakan bahwa ia belajar dan melihat tentang kedewasaan, bagaimana seseorang dengan perspektif tertentu menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya dan bertindak tidak sesuai umurnya. Ya, jelas, bertemu dengan orang seperti ini bukan blessing. ya lesson aja, kalo bisa jangan berurusan karena ngeselin sikapnya. Tapi, apa dengan ngeselin kita berhenti kenal, bicara, tahu, dan kerja sama dengan orang tersebut? Ya, kan, tentu saja tidak, apalagi dengan kondisi tertentu yang mengharuskan berhadapan dengan orang yang seperti itu.
Belajar itu dari mana saja. mungkin, bertemu dengan seseorang yang entah dari mana, mudah mengungkapkan pertanyaan yang membuat saya tercengang alias 'buseh ni orang baru ketemu dah nyari kesempatan nyari tau' WKWKW. Ya, saya pasti cuma cengar cengir, karena dia tidak perlu tau, hhh, kepo. Kalo ini, ya belajar untuk bisa menjelaskan keadaan sejujurnya dan seperlunya.
Tentu, ada yang terang-terangan mengatakan ia belajar sesuatu dari seseorang dan mensyukurinya. Nah, ini. apakah ini bisa masuk ke kategori apa? blessing bisa, lesson bisa. Ia mendapat pelajaran dari orang lain, tapi ia juga merasa mendapat blessing karena mengenal orang itu. Kedua hal ini didapat dari orang yang sama, berarti tidak bisa atau, tetapi blessing and lesson. Memilih mengenal seseorang yang menjadi blessing dan lesson adalah baik. Kita mengerti bahwa pelajaran bisa kita ambil dari orang itu, sekaligus bersyukur mengenal orang tersebut. Bersamaan. bukan berarti orang tersebut buruk atau baik sekali, tapi, ya, kita syukuri semua baiknya, pelajari buruknya. Blessing is a strong word and being a lesson to others too. Pelajaran yg buruk juga tetap pelajaran apalagi kalo kata orang tua, "jangan sampe kayak kakakmu tuh", hehe ini mengutip nastasha abigail juga.
ya, meski ngutip-ngutip, pernah bertemu nastasha abigail ya blessing, punya pengalaman di acara 'mendengar bersama' dan playlist itu yang selalu didengerin kalau lagi mumet. But, this time, saya sedang melihat kembali dan berusaha menerapkan hal ini bahwa seseorang yang hadir di dalam hidup itu selalu datang sebagai keduanya, lessons and blessings. Some good times, its a blessings. Some tough times, its a lessons. Jadi, bukan suatu pilihan, ia sebagai blessing atau lessons, but both, dan yuk, sama-sama belajar satu sama lain, berusaha perbaiki diri, heal from each other traumas, oh your traumas youve made, it sticks and i really try to accept and deny its not coming from you. Tapi, gapapa.
cheeeers