22 Nov 2021

Mikirin Kata Orang?

This is been a trouble to me the last 5 years and still counting kayanya. Dulu, saya menganggap orang tuh segitu mengganggunya buat saya sehingga apapun katanya akan saya pikirkan sampai masuk ke dalam pikiran dan sedalam itu. Ya, saya pun sampai merasa terganggu dengan pikiran saya sendiri.

 

Memikirkan kata orang, memang tak akan ada habisnya. Saya bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya banyak mengubah cara saya memandang dunia. Singkat memang, tapi caranya menyampaikan kekompleksan cara memandang dunia itu membuat saya memikirkan ulang banyak hal.

 

Pada akhirnya, kata-kata dia lah yang saya pikirkan. Ia mengubah saya yang pemarah menjadi seseorang yang… “ya ngapain marah”, karena saya sempat bertanya, “lo gak pernah marah ya?”. Ia sempat bercerita tentang marahnya dan kapan ia marah dan yaa... karena saya gak pernah lihat dia marah jadi gak bisa ngebayanginnya gimana.

 

Siapapun yg kenal saya, pasti tahu saya gak pernah terlihat marah. Yaaaaa… jangan dah.

 

Membiasakan diri seperti sekarang bukan proses yang mudah. Setelah orang itu pergi, tentu saja, saya kembali menjadi orang yang pemarah, ketus, and I see myself as the meanest person I’ve ever known. Ya, lagi-lagi, datang orang lain yang menyadarkan saya dan mampu menenangkan ‘amukan’ yang tak teredam dalam diri saya. Tapi, ini membuat saya justru mematikan rasa dalam diri saya. Dari seorang yang sulit berekspresi, saya semakin tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik (sampai sekarang dan masih terus belajar memperbaiki ini).

 

Banyak hal dalam hidup saya yang memaksa saya ‘mengeluarkan’ emosi atau perasaan saya, tetapi karena saya sudah ‘dipaksa’ meredam perasaan saya sejak kecil, hal ini menjadi sesuatu yang sulit. Pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik.

 

Oke, balik ke kata orang….

 

Kata orang, saya bukan orang yang gampang dipancing emosi. Iya. Emang. Walaupun dulu saya pemarah, saya mungkin marah karena banyak memikirkan perkataan orang. Setelah saya belajar ‘tidak marah’ dari teman saya itu, saya justru lebih memperhatikan hal lain, yaitu tidak memikirkan perkataan orang. 

 

Hal ini memang sesuatu yang sangat tidak mudah. Tapi, hidup memang sejatinya memilih, kan? Saya memilih untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak mau saya pikirkan. Buat apa saya membuat Lelah diri memikirkan hal yang tidak menyenangkan yang dikatakan orang lain? Selama saya tidak mengusik hidup orang, tidak mengganggu orang lain, dan melakukan hal yang membuat saya senang, kenapa saya harus memikirkan kata orang?

 

Saya berusaha tidak memikirkan kata orang dan kasak-kusuk tentang saya. Buat apa? Gossip dan ngomongin orang di belakang… mending ngomong langsung lah, sini. Saya akan tanggapi daripada ngomong di belakang saya dan menyebar gossip yang tidak-tidak. Kalau iri, bilang dan lebih baik kenalan dan berteman dengan saya agar tahu kebenarannya, bukan ngomongin di belakang.

7 Nov 2021

“Happiness is a choice, not an achievement” – Bungkus Choco Pie

 Sebenernya, kalo dipikir tentang bahagia… Siapa yang tau tentang bahagianya sesesorang? Coba, kalau ditanya, “kamu sudah bahagia belum?”Mungkin, bagi beberapa orang, ia bisa menjawab sudah dan mengatakan bagaimana ia merasa bahagia. Tapi, ada juga orang yang masih mengusahakan bahagianya.

 

Kalau ditanya apa arti bahagia bagi saya, entah, saya juga belum menemukannya. Kalau dibilang, bahagia itu pilihan… saya bingung mengatakannya. Memang sih, rasa bahagia itu tak bisa selamanya, kan hidup itu dinamis, kadang ada masa sedih, kadang bahagia. Tapi, saya bisa dengan yakin mengatakan kapan-kapan saja saya merasa bahagia, meski belum sepenuhnya.

 

Kalau dibilang pilihan… saya ingin memilih untuk berada di memori itu selamanya. Walaupun di muka, saya bilang kalau saya ingin menghidupi saat ini apa adanya, tapi ada waktu-waktu kamu ingin menyimpan memori saat kamu bahagia. Rasanya ingin menghentikan waktu saat itu terjadi, dan saat sudah lewat, tentunya kamu ingin kembali lagi merasakan hal yang sama.

 

Tapi, untuk sampai pada titik perasaan yang sama, bukanlah yang yang mudah, bahkan mustahil.

 

Bahagia pun menjadi hal yang berbeda setiap saat aku merasakannya. Perasaan bahagia itu perasaan yang penuh. Ia seakan memenuhi ruang-ruang hati dan membuatmu merasa hangat. Mungkin perasaan itulah yang ingin dijaga, disimpan, rasa hangat atas bahagia.

 

Kalau dibilang bahagia itu pilihan. Banyak hal yang rasanya ingin saya pilih, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalau saja itu benar bisa membuat saya bahagia. Tapi, perasaan ragu akan kebenaran bisa membuatku bahagia atau tidak inilah yang selalu membuatku ragu memilih. Biasanya, aku membiarkan seseorang memilihkan untukku atau ya katamu, karena ngalir aja.

 

Pilihan yang tidak dipaksakan itu memang membahagiakan. Saya ingin memilih bersama orang-orang yang tidak membuatku merasa buruk. Mengerti, bahkan mengusahakan apapun. Secara pribadi, dan kalau yang dikatakan teman saya benar, aku punya tes bagi orang-orang di sekitarku. Ia yang tak lolos, biasanya belum tentu kuanggap teman. Hanya sebagian kecil, kecil sekali, yang bisa menembus tes itu, dan ada satu yang mampu lolos sempurna. Sayangnya,say belum memilih bahagia itu.

 

Menelisik ke belakang, orang-orang begitu dinamis. Tak selamanya yang dikatakannya pada tes itu selamanya sama. Tunggu saja bertahun, ia lelah biasanya. Aku bersyukur kalau tidak berubah. Sayangnya, tak mungkin kan… aku pun berubah. Bahagiaku menjadi lebih sederhana, dalam pandanganku. Menghabiskan waktu, sentuhan sederhana, perhatian kecil. Bahagia.

 

Kalau bahagia itu pilihan… kenapa omongan dan pilihan seseorang dapat memengaruhi bahagia orang lain? Tak bisakah, sesuatu tetap adanya sehingga bahagia seseorang tak mengusik orang lain? Lagi-lagi, memang bahagia bukan pencapaian, tapi aku juga tidak yakin kalau itu pilihan. Pilihan sih pasti, tapi apa benar itu pilihan yang tepat untuk bahagia seseorang? Apa pilihan ku tepat?