21 Jan 2016

Ia Berkata,“Mai piu’ la Guerra!” – Jangan Ada Lagi Perang!






            Karol Józef Wojtyla, lebih dikenal sebagai Santo Paus Yohanes Paulus II, Paus yang terpilih di luar dari Italia. Ia lahir di Wadowice, Polandia, pada tanggal 18 Mei 1920. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia dibesarkan pada saat Polandia diduduki oleh Jerman, disaat situasi dimana kebebasan dan martabat manusia dilanggar. Pada saat dia masih belajar di Universitas Jaggiellonian pada tahun 1939, Ia harus bekerja di pertambangan dan kemudian bekerja di pabrik kimia Solvay agar tidak di deportasi ke Jerman.

            Penderitaan yang telah dialami oleh Paus Yohanes Paulus II membuatnya berkomitmen untuk melawan itu dan Ia merasa harus memberi tahu orang yang lebih muda darinya untuk tidak berperang. Komitmen tersebut mengantarnya pada tahbisan imamat, uskup, menjadi kardinal, dan akhirnya menjadi paus. Ia ditahbiskan menjadi imam pada tanggal 1 November 1946. Ia diangkat menjadi Uskup Tituler Ombi (4 Juli 1958) dan Uskup pembantu Krakow (28 September 1958). Lalu, tanggal 3 Januari 1964 diangkat menjadi Uskup Agung Krakow. Tanggal 26 Juni 1967, Paus Paulus VI menjadikannya Kardinal. Ia juga mengambil bagian pada saat Konsili Vatikan II, dimana peran Kardinal Wojtyla sangat penting dalam rancangan Konstitusi Gaudium et Spes, ia berpartisipasi dalam pertemuan Sinode para Uskup. 16 Oktober 1978, pada saat konklaf para Kardinal memilihnya menjadi paus dan memilih nama Yohanes Paulus II. Ia memulai pelayanannya sebagai pengganti Petrus ke 263 pada tanggal 22 Oktober 1978. Ia menjabat kurang lebih 27 tahun. Ia menyerukan damai, cinta kasih, dan pengampunan ke seluruh dunia. Ia merupakan penggagas “Hari Orang Muda Se-dunia” Ia juga berkata “Kalian orang muda, kalian harapan Gereja, kalian harapanku” (Roma, 31 Maret 1985). Ia juga hampir ditembak oleh orang Islam dari Turki, Mehmet Ali Agca, pada tahun 2000. Ia pun dihukum seumur hidup. Paus setelah ia pulih ia menyampaikan pemberian maaf kepadanya dan mengunjungi Mehmet Ali di penjara dan berbicara dengannya. Dan sejak itu Mehmet Ali sangat mengagumi Paus Yohanes Paulus II yang pemaaf itu. Paus Yohanes Paulus II merupakan orang yang humoris. Ia mempunyai sebuah kolam renang di rumah musim panas kepausan, bebrapa orang mempertanyakan biaya kolam renang tersebut dan ia menjawab, “A Conclave would lost a lot more” (pemilihan paus pasti menghabiskan lebih banyak biaya lagi). Lalu, ketika diberi gelar “Man of the year” oleh majalah TIME ia memberi sambutan begini, “I see that in the past you have given this honor also to Stalin and Hitler” ia sangat tahu kekerasan yang dilakukan oleh kedua orang tersebut karena ia juga mengalaminnya. Dia juga suka bermain “hide and seek” bersama anak karyawan di Villa Kepausan. Saat ajal menjemputnya dan berita resmi diumumkan , seluruh dunia terhenyak dan kehilangan salah satu tokoh dunia. Jutaan orang datang ke basilica St. Petrus di Vatican, termasuk pemimpin negara dan agama, untuk memberi penghormatan terakhir. Ia bukan hanya pemimpin Gereja tetapi ia pemimpin semua orang dan meruntuhkan tembok agama, status ekonomi, ras, dan aliran politik.

           
Saya melihat Paus Yohanes Paulus II sebagai sosok yang sangat hangat dan terbuka. Ia telah mengunjungi 129 negara dan menyapa banyak orang. Ia sangat menginspirasi saya untuk bisa memaafkan orang lain, sekalipun orang tersebut berbuat yang tidak baik kepada saya. Dari sikapnya yang mau berdialog dengan semua orang dan mau terbuka, Ia juga membuat saya belajar untuk terbuka terhadap orang lain. Dan sikapnya untuk menghalangi lagi adanya perang karena dia sudah mengalami pahit dan kelamnya masa peperangan, ia mengajarkan untuk tidak mencelakakan orang lain. Dan satu hal yang menurut saya paling penting yang saya ambil dari semua perbuatan Paus Yohanes Paulus II adalah live your life maksudnya agar mempergunakan waktu dalam hidup dengan baik dan perbuatan baik, sehingga saat waktu Tuhan memanggil kita kelak semua orang tahu siapa kita dan semua orang mengakui keberadaan kita.






“Freedom consists not in doing what we like but in having the right to do what we ought”

Pope John Paul II

10 Jan 2016

Putri Duyung Terakhir


Woiiiiii. muncul lagi nih. Gue mau kasih tulisan lama gue. Iya dulu sempet bikin cerpen gitu, buat pelatihan menulis Agenda18. Tapi aneh juga kalo dibaca lagi, haha. yaudela, enjoy reading deh!


Putri Duyung Terakhir


Menurut legenda, aku akan menjadi buih jika aku membongkar indentitasku atau jika ada seseorang yang melihatku. Dan benar, aku menjadi buih. Seorang manusia telah melihatku.

                                                                                                ***

                Aku sudah terbiasa tinggal disini. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Tempat itu sudah hancur sebelum aku meninggalkanya. Selama aku tidak terkena air, aku baik – baik saja dan identitasku tidak akan terbongkar. Sejujurnya aku rindu tempat itu dan aku tahu risiko tinggal di tempat ini, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya pergi ke tempat itu saat orang lain sedang sibuk dan tidak menyadari kebedaraanku.

                Saat ini aku menjejakkan kakiku di tempat itu. Sebatas daerah yang kering karena disini masih bagaikan lautan manusia. Setelah orang – orang itu pergi, kurang lebih tengah malam aku mulai pergi ke tempatku. Aku terus mengarungi daerah basah yang disebut oleh semua orang laut. Aku terus mencari tempatku bertengger untuk mengalunkan sebuah nada. Aku mencari tempat dimana semua orang sekiranya tak mungkin melihatku. Aku naik ke sebuah batu besar, duduk di sana dan mengalunkan nada yang sudah mulai kulupakan.

                Sebenarnya, aku tahu kalau dimalam hari sering ada penangkap teman – temanku yang lewat, tetapi apa peduliku? Mungkin, mereka juga sudah tidak ingat denganku. Aku mulai turun dari tempatku dan mencari rumahku yang dahulu. Semuanya berubah, teman – temanku tak lagi mau menyapaku.

Tiba – tiba ada seorang sahabat lamaku berlari ke arahku, menatapku dengan tatapan kekecewaan yang tak sanggup kulihat, dan dia mulai berkata – kata kepadaku dengan air mata, “Mengapa setelah selama ini kau baru kembali lagi? Apa kau sudah tidak peduli pada kami? Sejak kau meninggalkan kami, tempat ini begitu kacau. Dan semua keluarga dan saudara – saudaramu tidak ada satupun yang masih hidup. Mereka semua berubah menjadi buih, karena para manusia sudah menemukan tempat tinggal duyung. Dan rumahmu, sudah dihancurkan dan diubah menjadi sebuah tempat aneh yang sering dikunjungi manusia untuk kegiatan yang mereka sebut wisata di bawah laut.”

                Aku menelan semua perkataan sahabat kecilku itu. Dengan meneteskan air mata pula aku memeluknya. “Aku tidak penah bermaksud begitu, sahabat kecilku. Aku tidak ingin mengingat lagi kenangan buruk yang sudah terjadi di tempat ini. Aku tidak ingin membuat kalian semua sedih, karena aku tidak kembali kemari. Tetapi percayalah aku selalu ada di hati kalian masing – masing, kawan.”

Aku tidak kuat menahan semua air mataku yang sudah lama kupendam. Aku telah meninggalkan tempat ini sejak tempat ini mengalami bencana. Bencana akibat racun yang diberikan manusia yang menginginkan kami untuk di teliti. Entah mereka membuat racun memakai bahan apa,yang jelas aku melihat saudaraku mulai kaku, padahal ibuku sudah menceritakan tentang legenda itu, tetapi manusia memang tidak pernah habis akal untuk mengincar kami. Ibuku menyuruhku untuk pergi sejauh – jauhnya dari rumahku. Aku menurutinya dan pergi, aku tidak pernah tahu apa pun yang terjadi setelahnya karena aku sudah naik ke daratan. Sejak itu siripku berubah menjadi kaki. Dan akan kembali menjadi sirip bila terkena air. Aku mulai tinggal di daratan, di dunia manusia. Dan dari tempat ini aku banyak mendengar tentang diriku termasuk legenda dan mitos tentangku. Aku juga banyak melihat banyak orang yang tidak percaya akan keberadaanku. Ya apapun kata mereka yang jelas aku sekarang ada di tengah – tengah mereka, dan berwujud seperti mereka.

                                                                                                ***

                Setelah berpamitan, aku mulai meninggalkan spesies laut unik, kecil, dan bercorak mencolok, ya, ikan badut itu yang bisa disebut sahabatku kecilku itu. Aku cepat – cepat naik kedaratan sebelum ada seseorang yang melihatku. Tetapi gerakan siripku kurang cepat dan ada seseorang yang melihatku dan aku pun mulai berubah sedikit – sedikit menjadi butiran buih dan terbang dibawa angin malam. Keturunan terakhir dari keluargaku adalah aku, dan aku tidak berhasil menyelamatkan keturunanku. Aku malahan membuat keturunanku punah. Tidak, tidak ada lagi duyung yang hidup, mereka semua telah berubah menjadi buih. 
The End.
  
Ntar kapan - kapan kalo iseng mau nulis cerpen lagi, ah!