Woiiiiii. muncul lagi nih. Gue mau kasih tulisan lama gue. Iya dulu sempet bikin cerpen gitu, buat pelatihan menulis Agenda18. Tapi aneh juga kalo dibaca lagi, haha. yaudela, enjoy reading deh!
Putri Duyung Terakhir
Menurut
legenda, aku akan menjadi buih jika aku membongkar indentitasku atau jika ada seseorang yang melihatku. Dan benar, aku menjadi
buih. Seorang manusia telah melihatku.
***
Aku sudah terbiasa tinggal
disini. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Tempat itu sudah hancur
sebelum aku meninggalkanya. Selama aku tidak terkena air, aku baik – baik saja
dan identitasku tidak akan terbongkar. Sejujurnya aku rindu tempat itu dan aku
tahu risiko tinggal di tempat ini, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya pergi ke
tempat itu saat orang lain sedang sibuk dan tidak menyadari kebedaraanku.
Saat ini aku menjejakkan kakiku
di tempat itu. Sebatas daerah yang kering karena disini masih bagaikan lautan
manusia. Setelah orang – orang itu pergi, kurang lebih tengah malam aku mulai
pergi ke tempatku. Aku terus mengarungi daerah basah yang disebut oleh semua
orang laut. Aku terus mencari tempatku bertengger untuk mengalunkan sebuah
nada. Aku mencari tempat dimana semua orang sekiranya tak mungkin melihatku.
Aku naik ke sebuah batu besar, duduk di sana dan mengalunkan nada yang sudah
mulai kulupakan.
Sebenarnya, aku tahu kalau
dimalam hari sering ada penangkap teman – temanku yang lewat, tetapi apa
peduliku? Mungkin, mereka juga sudah tidak ingat denganku. Aku mulai turun dari
tempatku dan mencari rumahku yang dahulu. Semuanya berubah, teman – temanku tak
lagi mau menyapaku.
Tiba – tiba
ada seorang sahabat lamaku berlari ke arahku, menatapku dengan tatapan
kekecewaan yang tak sanggup kulihat, dan dia mulai berkata – kata kepadaku
dengan air mata, “Mengapa setelah selama ini kau baru kembali lagi? Apa kau
sudah tidak peduli pada kami? Sejak kau meninggalkan kami, tempat ini begitu
kacau. Dan semua keluarga dan saudara – saudaramu tidak ada satupun yang masih
hidup. Mereka semua berubah menjadi buih, karena para manusia sudah menemukan
tempat tinggal duyung. Dan rumahmu, sudah dihancurkan dan diubah menjadi sebuah
tempat aneh yang sering dikunjungi manusia untuk kegiatan yang mereka sebut
wisata di bawah laut.”
Aku menelan semua perkataan
sahabat kecilku itu. Dengan meneteskan air mata pula aku memeluknya. “Aku tidak
penah bermaksud begitu, sahabat kecilku. Aku tidak ingin mengingat lagi
kenangan buruk yang sudah terjadi di tempat ini. Aku tidak ingin membuat kalian
semua sedih, karena aku tidak kembali kemari. Tetapi percayalah aku selalu ada di hati kalian masing – masing, kawan.”
Aku tidak
kuat menahan semua air mataku yang sudah lama kupendam. Aku telah meninggalkan
tempat ini sejak tempat ini mengalami bencana. Bencana akibat racun yang
diberikan manusia yang menginginkan kami untuk di teliti. Entah mereka membuat racun memakai bahan apa,yang jelas aku
melihat saudaraku mulai kaku, padahal ibuku sudah menceritakan tentang legenda
itu, tetapi manusia memang tidak pernah habis akal untuk mengincar kami. Ibuku
menyuruhku untuk pergi sejauh – jauhnya dari rumahku. Aku menurutinya dan
pergi, aku tidak pernah tahu apa pun yang terjadi setelahnya karena aku sudah
naik ke daratan. Sejak itu siripku berubah menjadi
kaki. Dan akan kembali menjadi sirip bila terkena air. Aku mulai tinggal di
daratan, di dunia manusia. Dan dari tempat ini aku banyak mendengar tentang
diriku termasuk legenda dan mitos tentangku. Aku juga banyak melihat banyak
orang yang tidak percaya akan keberadaanku. Ya apapun kata mereka yang jelas
aku sekarang ada di tengah – tengah mereka, dan berwujud seperti mereka.
***
Setelah berpamitan, aku mulai
meninggalkan spesies laut unik, kecil, dan bercorak mencolok, ya, ikan badut itu yang bisa disebut sahabatku kecilku itu. Aku
cepat – cepat naik kedaratan sebelum ada seseorang yang melihatku. Tetapi
gerakan siripku kurang cepat dan ada seseorang yang melihatku dan aku pun mulai
berubah sedikit – sedikit menjadi butiran buih dan terbang dibawa angin malam.
Keturunan terakhir dari keluargaku adalah aku, dan aku tidak berhasil
menyelamatkan keturunanku. Aku malahan membuat keturunanku punah. Tidak, tidak
ada lagi duyung yang hidup, mereka semua telah berubah menjadi buih.
The End.
Ntar kapan - kapan kalo iseng mau nulis cerpen lagi, ah!