27 Sep 2022

“Are you happy, Stephen?”

Sekitar bulan mei, saya sempat mengurangi melihat postingan Instagram dan twitter, alias social media yang biasanya saya gunakan. Bukan berarti ngga ngikutin atau detoks social media, engga, hanya melewati story atau cuitan atau postingan teman-teman. Lalu, ketika saya membuka dan melihat kembali, ada satu perasaan yang muncul dalam hati. Mungkin, tepat kalau dikatakan iri. Kalau kata filsafat stoa, iri merupakan salah satu emosi negatif yang tidak sejalan dengan alam. Nah, yang katanya, kalau kita mempraktikkan latihan ajaran stoa ini hendak dikurangi bahkan tidak ada sehingga ada bahagia.

 

Bahagia. Jadi ingat, Stephen Strange yang ditanya Christine, “Are you happy, Stephen?”

 

Bahagia, lagi-lagi kalau menurut salah satu filsuf stoa, saat kita tidak merasa cemas, sedih, dan takut. Salah satu lini penting dalam mengendalikan “emosi negatif” ini ya dengan melatih apa yang bisa kita kendalikan dan tidak. Tapi kan ya… (lagi-lagi pemaklumkan yang tidak seharusnya digunakan) namanya juga manusia, susah dong kalau harus dipaksa mengendalikan emosi negatif yang terkadnag gak bisa dikendalikan ini. Kalau cara filosofi stoa ya, dilatih.

 

TAPI, ini kan refleksi bahagia menurut saya, sekaligus merapel absennya tulisan di sini, karena menyelesaikan buku filosofi teras, jadi ya sekalian aja tulisan pembacaaan filosofi teras kali ya…

 

Balik, ke pertanyaan Christine ke Strange, ya, (sok ikrib bgt strange Christine wqwq) Strange gengsi lah ya ke nikahan mantan bilangnya ngga hepi. Hehe ya ini ngga lagi ngulik marvel kok. Bahagia buat masing-masing orang artinya beda-beda. Beberapa waktu lalu, pas mulai tulisan ini, ada baru ngomongin kalo ada orang yang pengen nyari cara ngebahagiain orang. Ya susah.

 

Menurut saya, pencapaian kebahagiaan seseorang hanya bisa dicapai dan diketahui oleh masing-masing orang. Arti bahagia kan berbeda-beda. Ini akan muter-muter aja kayanya karena saya sendiri belum bisa memastikan apakah saya sudah seratus persen bahagia (pastinya tidak dan belum). Maksudnya adalah tujuan hidup orang yang berbeda-beda membuat bahagia menurut satu orang dengan orang lai itu berbeda. Kalau dalam filosofi teras, Henry Manampiring menjelaskan bahwa bahagia itu bukan tujuan, tetapi efek dari tujuan hidup seseorang. 

 

Membaca filosofi teras, saya jadi mengerti bahwa tidak ada nasib baik dan nasib buruk dalam hidup seseorang. Semua kejadian dalam hidup ini netral, tapi bagaimana diri kita sendiri mengartikannya yang menjadikan kejadian tersebut baik atau buruk. Dalam konteks bahagia menurut saya pun begitu, bahagia itu bagaimana kita mengartikan hal-hal sederhana dalam hidup dan mensyukurinya. Kalau sejalan dengan tujuan hidup kita, hal tersebut sudah selayaknya membuat kita bahagia.

 

Nah, balik ke mengusahakan bahagia, menurut saya (setelah membaca stoa), itu ternyata bisa dan ada, karena kebahagiaan sejati menurut stoa akan bisa dicapai dan bisa dilatih. Kalau dipikir-pikir saya sudah melatihnya sejak lama, ya, sejak banyak kesempatan menahan emosi. Tapi, menahan emosi dengan mengendalikan emosi negatif itu beda. Menahan emosi, ya, emosinya tetap ada di sana, hanya saja tidak disampaikan. Sedangkan, mengendalikan emosi, ya, emosi negatif tersebut, yang utamanya seharusnya tidak perlu ada, karena berasal dari luar (tidak bisa kita kendalikan) dan sesuatu yang netral, kita bisa menyikapinya dengan respon yang baik dan berfokus pada solusi. 

 

Dalam setiap kejadian yang menimbulkan emosi negatif ini, ada baiknya kita mengambil jeda, berpikir dengan tenang emosi apa yang ada dan timbul dari kejadian tersebut (mengingat bahwa kejadiana tersebut netral dan emosi yang timbul adalah interprestasi kita), dan setelah tenang, kita dapat memikirkan respon yang bisa kita keluarkan. Jadi, sebuah kejadian terjadi, dan membuat kita merasakan emosi negatif (iri, cemburu, kesal, marah), bukan sesuatu yang harus disikapi atau direspon negatif dan tidak seharusnya mengganggu kita.

 

Tapi, ya berhubung kalau ada kejadian mesti pikirin dulu negatifnya diolah biar dikendalikan itu susah, ya harus dilatih-latih terus, apalagi kalau ada sesuatu yang triggering peristiwa buruk dalam hidup kita. Latihan menjadi bahagia ala stoa ini gak mudah tapi bisa dan mungkin dilakukan. Saya mau berusaha melatihnya, tapi rasanya kalau sudah menyangkut orang terdekat ya mending keluarin aja ya marahnya wkwkw. Gak gak, ga gitu konsepnya wq.

 

Intinya… kebahagiaan seseorang itu tidak bisa dicapai oleh orang lain, hanya orang tersebut sendirilah yang bisa mencapai kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati yang katanya, tidak ada emosi negatif itu ya bahkan filsuf stoa pun tidak ada yang benar-benar mengklaim dirinya seratus persen bisa mencapai ‘sejati’ itu. Kebahagiaan itu bahkan bukanlah tujuan hidup kita, tetapi efek dari proses kita dalam menjalani dan mencapai tujuan hidup kita. 

 

Dalam hidup kita, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk respon orang lain, kesehatan, harta, pekerjaan, dan lainnya yang terjadi karena pengaruh dan campur tangan orang lain. Begitu pula dengan permasalahan dalam hidup, kita bisa menganggap suatu kejadian saebagai masalah apabila kita menganggap nya begitu. Interpretasi kita akan suatu keadaanlah yang mendefinisikan sebuah keadaan sebagai hal buruk atau hal baik. Kalau kita fokus terhadap apa yang kita kendalikan, kita mengendalikan pikiran kita agar memandang suatu kejadian sebagai suatu hal baik sehingga tidak terpuruk dalam suatu keadaan.

 

Dalam keadaan yang tidak diinginkan, kita pasti akan langsung berpikir dan merespon dengan kurang baik. Ada baiknya kita berhenti terlebih dahulu, kemudian memikirkan, “Apakah hal ini terjadi sepenuhnya karena kita? Apakah kita sendiri yang menginginkan hal tersebut? Kenapa saya harus kesal/sedih/marah/iri dengan keadaan ini?” Kalau hal ini terjadi di luar kendali kita, kita bisa mencoba memikirkan respon yang tepat dengan kepala dingin. Kemudian, kita baru merespon kejadian tersebut dengan baik dan memiliki solusi yang tepat.

 

Kalau kita berfokus pada solusi, kita tentu akan berusaha pada hal tersebut dan bukan pada ‘masalah’ atau ‘kejadian buruk’nya. Kita tahu apa yag harus dilakukan setelahnya. Premeditatio malorum yang dalam filosofi teras adalah bagaimana kita mengontemplasi derita atau memikirkan seua kemungkinan terburuk yang terjadi. Saya selalu melakukan hal ini. Kalau di filosofi teras mungkin disarankan pagi hari, tapi saya biasa melakukannya malam hari, sebelum tidur, dan memikirkan bukan yang akan terjadi keesokan hari saja tetapi untuk ke depannya. Overthinking lah kalo kata anak jaman now. Saya sering sekali memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Tetapi, kalau saya sudah pernah memikirkannya, saya pun sudah memikirkan bagaimana dan solusi apa kalau benar sampai terjadi hal tersebut. Artinya, saya sudah siap menghadapi hal buruk tersebut, meski belum terjadi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan.

 

Nah, saya pun masih terus melatih respon otomatis dalam pikiran saya agar tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang tidak bisa saya kendalikan dan berfokus pada apa yang bisa saya kendalikan. Terkadang, banyak hal masih membuat saya mudah tergelitik dan terdorong untuk marah/sedih/kesal, padahal hal tersebut bisa dihadapi dengan tenang. Mudah-mudahan rasa marah/sedih/kesal/iri saya yang datang secara otomatis dalam menghadapi suatu kejadian dapat tersalur dengan baik dalam bentuk yang baik (menulis seperti ini misalnya) sehingga tidak memberikan dampak buruk pada orang lain dan diri saya sendiri. *finger crossed* cheeeeers!

27 Mei 2022

yayayaa, gajian yeyeye

 Habis membaca cuitan seseorang bahwa ia belajar agar tidak terlalu totalitas di tempat kerja. Ya memang, kerja memang sewajarnya dan seperlunya. Tapi bukan berarti tidak totalitas pada apa yang menjadi job description pekerjaan kita. Ini juga dituliskan pada cuitan berikutnya. bahwa ia melakukan yang terbaik dan bertanggung jawab. Tidak totalitas bukan berarti kerja awur-awuran dan seadanya, maksud si pencuit adalah bekerjalah sesuai job description sebaik-baiknya.

 

Bekerja sebaik-baiknya dan sesuai porsinya berarti kita tidak mengorbankan sesuatu di luar pekerjaan kita. Kalau bahasanya pencuit tulisan ini, “sampe ga punya kehidupan” (selain bekerja). Orang mungkin melihat bahwa saya sebelumnya adalah seseorang yang total dalam pekerjaan saya sampai terlihat tidak punya kehidupan. Padahal, tidak seperti itu. Ya… keliatannya aja. Padahal di luar kerja ya tetep aktif inainu. Tapi, saat jamnya kerja, ya saya melakukan apapun itu sebaik-baiknya, setotal-totalnya, dan tetap seperlunya. Kalau terlalu baik, ya saya juga sadar tidak seberapa dihargainya.

 

Menelisik pada organisasi lain yang saya ikuti, di luar kerja, saya tahu bahwa memang seharusnya melakukan sesuatu itu seperlunya. Meski dalam hal ini adalah melakukan pelayanan. Tetapi, kalau tetalu total dan (lagi-lagi) sampai tidak punya kehidupan selain itu dan terkesan dimanfaatkan karena bisa apa saja. Ya, memang sebaiknya kurangi dan cobalah mencari aktifitas lain.

 

Selain itu, saya juga memandang bahwa keperluan di kantor itu memang seperlunya. Kalau pekerjaan sudah, ya, sudah. Dengan pengalaman segitunya saat kerja dan berorganisasi, saya merasa bahwa waktu istirahat, meluangkan waktu bersama orang lain di luar kantor dan organisasi, bahkan waktu dengan diri sendiri, adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa miliki. Kalau kantor atau organisasi, dimana kita menjadi bagian di dalamnya, sudah memberi kita ruang untuk hal ini, kita tentu patut bersyukur.

 

Mengembangkan diri dalam pekerjaan atau organisasi itu tak melulu harus terlalu total hingga tak punya waktu untuk diri sendiri. Tetapi, bagaimana kita sebagai manusia bisa bertumbuh sebagaimana mestinya tanpa merugikan orang lain dan, yang terpenting, diri sendiri. Diri sendiri yang utuh dan sehat secara fisik dan mental tentu akan memberi pengaruh terhadap hubungan dengan orang lain pula.

 

Berkaca dari pengalaman berpindah-pindah tempat magang (dan sekali tempat kerja), saya pun melihat bagaimana suasana kantor juga mempengaruhi “totalitas” bekerja itu sendiri. Tempat dan suasana kerja itu tentu berpengaruh pada cara kita “mengabdi” pada kerja kita, mulai dari beban kerja, rekan kerja, tempat bekerja, minat dan bakat, dan (tidak bisa dipungkiri) upah dan jaminan kerja. Perbedaan-perbedaan ini tentu saya rasakan, kalau ditempat ini kelebihan dan kekurangannya apa saja, dan di tempat yang lain bagaimana.

 

Berhubung, tulisan ini dipublikasi di tanggal-tanggal gajian… hehe. Ayo semangat kerja ya, totalitas sesuai jobdesc aja, habis itu hura-hura. Jangan lupa istirahat, minum air putih, nonton Netflix, dan olahraga. Saya juga masih belajar untuk menyeimbangkan ritme kerja dan di luar kerja, hubungan pekerjaan dan personal, dan fokus mengembangkan diri lebih baik lagi. Ya tentunya, mengurangi terlalu focus kerja dan gapunya kehidupan di luar, berusaha kembali mengambangkan diri, nulis-nulis lagi, nonton series lagi, olahraga lagi. Lagian, ini kan refleksi untuk diri saya sendiri. Kelak kalau lupa, bisa baca lagi. Semangat aku, dan kamu semua yang membaca tulisan ini.

 

 

20 Apr 2022

Mengutip @yajugaya, "Yang Lain Mencari Perhatian, Aku Mencuri"

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk paling caper di muka bumi. Hal ini berarti 7 milyar lebih manusia di bumi ini melakukan sesuatu demi dilihat, diperhatikan, dipedulikan orang lain. Entah, itu kolektif atau personal, seseorang ingin mencari perhatian orang lain. Mau ngomong apasik u, lagi caper yy? Ya karena abis ngeliatin orang caper di demo yg didokumentasikan dan tersebar luas di jagat maya.

Demonstrasi mahasiswa, katanya, yg ada di depan DPR minggu lalu sepertinya masih saja terlihat ditungganggi pihak-pihak gak bertanggung jawab. Ya, lihat aja, pengeroyokan dosen UI itu. Tapi, sebenarnya, selama aspirasi itu disampaikan pada forum yang tepat (re: demonstrasi misalnya) ya sudahlah, setidaknya tersampaikan pada pihak berwenang dan pihak DPR juga bertemu dan berbicaran pada pihak pendemo. Namun, tulisan ini tidak akan membahas dema-demo dan tujuan politik demo tersebut, tetapi cara mahasiswa yang cari perhatian dengan tulisan-tulisan pada spanduk demonya.

yang menurut saya, yaelah awikwok bgt ni elah. frik u. bentuk capernya ngga bgt.

Susah-susah, aktivis perempuan melakukan women's march pada hari perempuan dan memperjuangkan RUU TPKS (yang sekarang sudah SAH!!!!) agar perempuan tidak diobjektifikasi. Tapi, tulisan yang dibawa-bawa perempuan ini cenderung menyiratkan sikap seksis dan melanggengkan objektifikasi pada perempuan. Padahal, tidak ada yang lucu dan menarik pada tulisan tersebut. Kata dan frasa yang digunakan memang seolah-olah sengaja menggunakan kata yang ambigu dan seakan mewajarkan objektifikasi pada jenis kelamin tertentu (dalam hal ini, tentu saja, perempuan).

apakah pantas menggunakan kata-kata 'ayang yg naik', 'bercinta tiga ronde', 'harga mi-chat' dan menaruhnya pada poster tulisan besar seakan hal ini normal dan wajar dikatakan secara biasa saja?

Ya, tidak wajar kata-kata seksis dan merendahkan ini dinormalisasi. Kalau ada siapapun yang bercanda dengan kata-kata seksis sebaiknya tidak pantas ditanggapi dan ditertawakan. Sama sekali tidak lucu. Saya sering mengeluhkan dan menemukan meme bernada seksis pada akun-akun shitpost, tapi buat apa dikeluhkan, jelas-jelas dia mendeklarasi akunnya untuk mengunggah hal-hal 'shit'. Yang salah adalah menormalisasi hal tersebut dan menganggap lucu hal-hal yang mengobjektifikasi dan merendahkan orang lain.

Memang ada-ada saja cara untuk mencari perhatian orang lain. Salah satunya, mungkin, mengunggah kata-kata uang kontroversial, seksis, sehinggal viral dan diperbincangkan di jagad maya. Setelahnya, baru deh, penulisnya melakukan klarifikasi yang tetep ngga banget alesannya (ya jelas-jelas salah dan merendahkan). Di era digital ini, orang mudah sekali mencari perhatian dengan membuat sesuatu yang kontroversial sehingga menjadi buah bibir di media sosial dan viral. Viral atas sesuatu yang baik dan mendorong kebaikan sih ngga apa-apa. Tetapi, kalau viral atas sesuatu yang buruk tentunya tidak diinginkan dan tertinggal di dunia maya sampai kapanpun. Jejak digital, kiwari, penyebutannya. Ya, jejak digital itu akan selalu ada dan tertempel pada profil seseorang hingga kapan pun.

Jadi, lakukan hal baik hingga viral dan mencuri perhatian. Jangan lakukan hal buruk untuk viral dan mencari perhatian. Saya bukan anak sastra kayak mbaknya yang menulis tulisan seksis di poster demo tersebut, tapi saya bisa membuat kata-kata yang berasonansi dan tetap berpegang pada esensi. hehe. cheers!



21 Mar 2022

Seperti Gendam, eeh, Dendam maksudnya

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, kata gnolbo alias Eka Kurniawan, yang didaptasi menjadi film dan menang Locarno. Ya kalo di film sih, Iteung mati-matian bales dendam untuk Ajo Kawir. Tapi, apakah dendam itu perlu? benci itu begitu kuat hingga dendam? Dendam itu apa? lalu kenapa saya merasa tidak perlu mendendam pada seseorang?


Dendam artinya, menurut kbbi, berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Tetapi, apakah seseorang begitu pantas untuk dibalas perlakuan buruknya? Perlakuan apapun dari seseorang, apalagi yang buruk, tidak perlu dibalas. Menurut saya, Yang Maha Kuasa dan Maha tahu lah yang berhak menentukan balasan atas perbuatan seseorang. Kita, manusia, tidak punya hak sedikit pun menentukan balasan perbuatan seseorang.

Kita hanya bisa menduga, mengira-ngira, dan mendoakan orang tersebut. Entah baik atau pun buruk. Kalau kata mas Tulus dan lagunya yang viral, mah, ya, hati-hati di jalan. Tapi, kalau di twitter seliweran tweet yang tidak mendoakan hati-hati di jalan, juga tidak apa-apa. Manusia hanya bisa berdoa, tapi semua rencana atas seluruh hidup kita, itu sudah digariskan dengan bersahaja oleh Yang Kuasa. 

Sebenarnya tulisan ini tercetus karena seseorang mengatakan, "kamu jangan dendam." Lalu, saya berpikir dan berpikir... tidak terbesit sedikit pun rasa dendam. Pada hari yang sama, hari minggu, bacaan kitab suci di Gereja pun mengatakan perihal yang sama, untuk tidak mendendam. lukas 6: 27-38, hukum kasih. Dalam permenungan pada homili romo, Ia mengisahkan bagaimana rentetan kekerasan itu tidak akan hilang, kalau hanya berpikir tentang balas membalas. Ada hal lain yang bisa dilakukan untuk melawan tanpa harus membalas, kalau kata romo.

Saya juga tidak ingin melawan. Pikiran untuk mendendam kok dilawan, yang bener mah gak kepikiran karena tidak membenci. Justru sebulan ini, saya berefleksi lebih dalam. Menilik, apakah benar saya sepenuhnya dulu seperti itu hingga harus mendendam? atau malah saya (atau dia) sudah mendapat ganjarannya dari Tuhan tanpa kami, masing-masing, sadari, hingga akhirnya kami memang diarahkan untuk berjalan ke arah berbeda.

Saya menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya. rasa itu nyata, iya betul. Kepedulian orang sekitar saya, tentunya, nyata. Tapi, bagi saya, rasa itu tidak sepenuhnya alasan utama. Jadi, memang, saya tidak mendendam, bukan karena saya tidak ada rasa, tidak kesal, tidak membenci. Terlebih semata-mata, saya ingin belajar menerima, bahwa banyak hal memang harus berjalan sebagaimana ingin-Nya, bukan rencana-rencana buatan manusia.




Saya percaya bahwa menerima keadaan itu adalah hal yang tidak mudah. Tapi, dia mengajarkan saya untuk menerima. Kalau tidak sesuai keinginan, yaudah, yaudahlah mau gimana lagi. Bukan pasrah, tapi, menerima bahwa sesuatu itu di luar kendali kita. Kita bisa memilih mana yang bisa kita kendalikan dan tidak, terutama untuk membenci atau tidak, mendendam atau tidak. Semata-mata bukan untuk orang lain, diri kita lah yang perlu untuk diajak memahami keadaan dan menerimanya sebagaimana adanya.

27 Feb 2022

Belajar Seumur Hidup

Menurut bapak-ibu guru di Sekolah, Belajar itu gak cuma dari sekolah tapi seumur hidup. Belajar bukan hanya menghafal membuka buku-buku, mendapat nilai, menerima rapot. Tetapi, bagaimana kita memaknai setiap pengalaman dan belajar dari sana. Ya, lagi lagi, kata guru dan tulisan kata mutiara di sekolah, sih, pengalaman adalah guru terbaik alias experience is the best teacher. Cara kita memaknai "guru-guru" dalam hidup dan mengambilnya menjadi sebuah pembelajaran itu yang penting sehingga kita bisa berkembang sebagai manusia seutuhnya.


Nastasha abigail di podcastnya, pernah bilang, kita ketemu seseorang itu pasti ada alesannya, either as a lesson or blessing. Tapi, saya akan mencoba melihat dari prespektif lain, dengan pertanyaan-pertanyaan... Dari mana kita tahu bahwa seseorang itu 'ditemukan' dengan alasan? Bagaimana kalau blessing dan lesson bisa datang dari orang yang sama? 

ngga usah asumsi dan menduga-duga siapa. ini refleksi diri. cuma ditulis aja biar gak lupa.

Ada yang bilang gini, "kedewasaan seseorang itu gak diliat dari umur ya, ya itu contohnya si x". Ini mungkin menandakan bahwa ia belajar dan melihat tentang kedewasaan, bagaimana seseorang dengan perspektif tertentu menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya dan bertindak tidak sesuai umurnya. Ya, jelas, bertemu dengan orang seperti ini bukan blessing. ya lesson aja, kalo bisa jangan berurusan karena ngeselin sikapnya. Tapi, apa dengan ngeselin kita berhenti kenal, bicara, tahu, dan kerja sama dengan orang tersebut? Ya, kan, tentu saja tidak, apalagi dengan kondisi tertentu yang mengharuskan berhadapan dengan orang yang seperti itu.

Belajar itu dari mana saja. mungkin, bertemu dengan seseorang yang entah dari mana, mudah mengungkapkan pertanyaan yang membuat saya tercengang alias 'buseh ni orang baru ketemu dah nyari kesempatan nyari tau' WKWKW. Ya, saya pasti cuma cengar cengir, karena dia tidak perlu tau, hhh, kepo. Kalo ini, ya belajar untuk bisa menjelaskan keadaan sejujurnya dan seperlunya.

Tentu, ada yang terang-terangan mengatakan ia belajar sesuatu dari seseorang dan mensyukurinya. Nah, ini. apakah ini bisa masuk ke kategori apa? blessing bisa, lesson bisa. Ia mendapat pelajaran dari orang lain, tapi ia juga merasa mendapat blessing karena mengenal orang itu. Kedua hal ini didapat dari orang yang sama, berarti tidak bisa atau, tetapi blessing and lesson. Memilih mengenal seseorang yang menjadi blessing dan lesson adalah baik. Kita mengerti bahwa pelajaran bisa kita ambil dari orang itu, sekaligus bersyukur mengenal orang tersebut. Bersamaan. bukan berarti orang tersebut buruk atau baik sekali, tapi, ya, kita syukuri semua baiknya, pelajari buruknya. Blessing is a strong word and being a lesson to others too. Pelajaran yg buruk juga tetap pelajaran apalagi kalo kata orang tua, "jangan sampe kayak kakakmu tuh", hehe ini mengutip nastasha abigail juga.

ya, meski ngutip-ngutip, pernah bertemu nastasha abigail ya blessing, punya pengalaman di acara 'mendengar bersama' dan playlist itu yang selalu didengerin kalau lagi mumet. But, this time, saya sedang melihat kembali dan berusaha menerapkan hal ini bahwa seseorang yang hadir di dalam hidup itu selalu datang sebagai keduanya, lessons and blessings. Some good times, its a blessings. Some tough times, its a lessons. Jadi, bukan suatu pilihan, ia sebagai blessing atau lessons, but both, dan yuk, sama-sama belajar satu sama lain, berusaha perbaiki diri, heal from each other traumas, oh your traumas youve made, it sticks and i really try to accept and deny its not coming from you. Tapi, gapapa.

cheeeers