22 Nov 2021

Mikirin Kata Orang?

This is been a trouble to me the last 5 years and still counting kayanya. Dulu, saya menganggap orang tuh segitu mengganggunya buat saya sehingga apapun katanya akan saya pikirkan sampai masuk ke dalam pikiran dan sedalam itu. Ya, saya pun sampai merasa terganggu dengan pikiran saya sendiri.

 

Memikirkan kata orang, memang tak akan ada habisnya. Saya bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya banyak mengubah cara saya memandang dunia. Singkat memang, tapi caranya menyampaikan kekompleksan cara memandang dunia itu membuat saya memikirkan ulang banyak hal.

 

Pada akhirnya, kata-kata dia lah yang saya pikirkan. Ia mengubah saya yang pemarah menjadi seseorang yang… “ya ngapain marah”, karena saya sempat bertanya, “lo gak pernah marah ya?”. Ia sempat bercerita tentang marahnya dan kapan ia marah dan yaa... karena saya gak pernah lihat dia marah jadi gak bisa ngebayanginnya gimana.

 

Siapapun yg kenal saya, pasti tahu saya gak pernah terlihat marah. Yaaaaa… jangan dah.

 

Membiasakan diri seperti sekarang bukan proses yang mudah. Setelah orang itu pergi, tentu saja, saya kembali menjadi orang yang pemarah, ketus, and I see myself as the meanest person I’ve ever known. Ya, lagi-lagi, datang orang lain yang menyadarkan saya dan mampu menenangkan ‘amukan’ yang tak teredam dalam diri saya. Tapi, ini membuat saya justru mematikan rasa dalam diri saya. Dari seorang yang sulit berekspresi, saya semakin tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik (sampai sekarang dan masih terus belajar memperbaiki ini).

 

Banyak hal dalam hidup saya yang memaksa saya ‘mengeluarkan’ emosi atau perasaan saya, tetapi karena saya sudah ‘dipaksa’ meredam perasaan saya sejak kecil, hal ini menjadi sesuatu yang sulit. Pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik.

 

Oke, balik ke kata orang….

 

Kata orang, saya bukan orang yang gampang dipancing emosi. Iya. Emang. Walaupun dulu saya pemarah, saya mungkin marah karena banyak memikirkan perkataan orang. Setelah saya belajar ‘tidak marah’ dari teman saya itu, saya justru lebih memperhatikan hal lain, yaitu tidak memikirkan perkataan orang. 

 

Hal ini memang sesuatu yang sangat tidak mudah. Tapi, hidup memang sejatinya memilih, kan? Saya memilih untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak mau saya pikirkan. Buat apa saya membuat Lelah diri memikirkan hal yang tidak menyenangkan yang dikatakan orang lain? Selama saya tidak mengusik hidup orang, tidak mengganggu orang lain, dan melakukan hal yang membuat saya senang, kenapa saya harus memikirkan kata orang?

 

Saya berusaha tidak memikirkan kata orang dan kasak-kusuk tentang saya. Buat apa? Gossip dan ngomongin orang di belakang… mending ngomong langsung lah, sini. Saya akan tanggapi daripada ngomong di belakang saya dan menyebar gossip yang tidak-tidak. Kalau iri, bilang dan lebih baik kenalan dan berteman dengan saya agar tahu kebenarannya, bukan ngomongin di belakang.

7 Nov 2021

“Happiness is a choice, not an achievement” – Bungkus Choco Pie

 Sebenernya, kalo dipikir tentang bahagia… Siapa yang tau tentang bahagianya sesesorang? Coba, kalau ditanya, “kamu sudah bahagia belum?”Mungkin, bagi beberapa orang, ia bisa menjawab sudah dan mengatakan bagaimana ia merasa bahagia. Tapi, ada juga orang yang masih mengusahakan bahagianya.

 

Kalau ditanya apa arti bahagia bagi saya, entah, saya juga belum menemukannya. Kalau dibilang, bahagia itu pilihan… saya bingung mengatakannya. Memang sih, rasa bahagia itu tak bisa selamanya, kan hidup itu dinamis, kadang ada masa sedih, kadang bahagia. Tapi, saya bisa dengan yakin mengatakan kapan-kapan saja saya merasa bahagia, meski belum sepenuhnya.

 

Kalau dibilang pilihan… saya ingin memilih untuk berada di memori itu selamanya. Walaupun di muka, saya bilang kalau saya ingin menghidupi saat ini apa adanya, tapi ada waktu-waktu kamu ingin menyimpan memori saat kamu bahagia. Rasanya ingin menghentikan waktu saat itu terjadi, dan saat sudah lewat, tentunya kamu ingin kembali lagi merasakan hal yang sama.

 

Tapi, untuk sampai pada titik perasaan yang sama, bukanlah yang yang mudah, bahkan mustahil.

 

Bahagia pun menjadi hal yang berbeda setiap saat aku merasakannya. Perasaan bahagia itu perasaan yang penuh. Ia seakan memenuhi ruang-ruang hati dan membuatmu merasa hangat. Mungkin perasaan itulah yang ingin dijaga, disimpan, rasa hangat atas bahagia.

 

Kalau dibilang bahagia itu pilihan. Banyak hal yang rasanya ingin saya pilih, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalau saja itu benar bisa membuat saya bahagia. Tapi, perasaan ragu akan kebenaran bisa membuatku bahagia atau tidak inilah yang selalu membuatku ragu memilih. Biasanya, aku membiarkan seseorang memilihkan untukku atau ya katamu, karena ngalir aja.

 

Pilihan yang tidak dipaksakan itu memang membahagiakan. Saya ingin memilih bersama orang-orang yang tidak membuatku merasa buruk. Mengerti, bahkan mengusahakan apapun. Secara pribadi, dan kalau yang dikatakan teman saya benar, aku punya tes bagi orang-orang di sekitarku. Ia yang tak lolos, biasanya belum tentu kuanggap teman. Hanya sebagian kecil, kecil sekali, yang bisa menembus tes itu, dan ada satu yang mampu lolos sempurna. Sayangnya,say belum memilih bahagia itu.

 

Menelisik ke belakang, orang-orang begitu dinamis. Tak selamanya yang dikatakannya pada tes itu selamanya sama. Tunggu saja bertahun, ia lelah biasanya. Aku bersyukur kalau tidak berubah. Sayangnya, tak mungkin kan… aku pun berubah. Bahagiaku menjadi lebih sederhana, dalam pandanganku. Menghabiskan waktu, sentuhan sederhana, perhatian kecil. Bahagia.

 

Kalau bahagia itu pilihan… kenapa omongan dan pilihan seseorang dapat memengaruhi bahagia orang lain? Tak bisakah, sesuatu tetap adanya sehingga bahagia seseorang tak mengusik orang lain? Lagi-lagi, memang bahagia bukan pencapaian, tapi aku juga tidak yakin kalau itu pilihan. Pilihan sih pasti, tapi apa benar itu pilihan yang tepat untuk bahagia seseorang? Apa pilihan ku tepat?

23 Okt 2021

Yaaaa... "Namanya juga Manusia"

Kayaknya selama kerja, minggu lalu paling banyak kelewatnya. Inginnya sih, mencari-cari alasan atas kelalaian ini, dan memang ada yang bilang kalau memaklumi ‘skip’nya saya minggu lalu. Tapi, tetap saja, ini saya yang salah. WKWKKW. maaf ya gaes.

 

Dulu, saya dan teman pernah mendiskusikan perihal pemakluman atas perilaku buruk atau ceroboh manusia. Ini diawali dengan frasa, “namanya juga manusia”. Seseorang cenderung menggunakan kalimat itu untuk, secara tidak langsung, meminta orang memaklumi bahwa ia tidak sempurna dan bisa salah.

 

Ya, memang kesempurnaan hanya milik yang Kuasa. Kita hanya kumpulan manusia yang tidak sempurna.

 

Tapi, bukan berarti itu alasan bagi seseorang untuk membuat pemakluman diri atas kelalaian atau kecerobohannya. Saya tahu, dalam postingan beberapa minggu lalu, saya dengan angkuhnya bilang, ‘bukan dalam hal pekerjaan’, bahwa saya ceroboh. Tapi, ternyata, ada juga cerobohnya di minggu lalu.

 

Padahal, minggu itu adalah minggu kedua, dua episode tayang perdana. Untungnya sih memang gaada masalah, tapi kan jadi nambah kerjaan orang lain, yang harusnya saya sudah siapkan. Ya memang sudah disiapkan sih, hanya lupa ditaruh ke project yang dikerjakan.

 

Mau dibilang sudah dimaklumi, tetap saja, perasaan bahwa saya melalaikan tanggung jawab di minggu lalu itu tidak hilang. Hehehehe. Rasanya pingin minta maaf terus, yang saya juga tahu jawabannya gak apa-apa.

 

Di luar skip di kerja, banyak banget skip ketinggalan barang. Yang gini gini, saya jadi ngerepotin orang buat dititipin. Makasi ya, rangorang yang saya titip-titipin. Sekali, dua kali, mungkin gak apa, kalau berkali-kali, bisa saja mereka jengah dengan perilaku saya.

 

Semoga saya, jiwa-jiwa baik itu tetap ada ya. HEHE.

 

Ya kembali lagi, pada diskusi saya dan teman saya perihal “namanya juga manusia”. Pemakluman itu memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Tapi, kami berpikir bahwa tidak baik kalau frasa itu digunakan untuk pemakluman sifat buruk seseorang. Ada yang namanya usaha untuk memperbaiki diri, baik secara perilaku maupun kesalahan yang dilakukan.

 

Tidak. Saya tidak perlu menggurui siapapun yang hendak menggunakan frasa itu sebagai pemakluman atas tindakan buruknya. Namun, ada baiknya mengakui dan meminta maa kalau ada perilaku yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tersinggung. Tentu saja, setelahnya, kita harus memperbaiki diri agar tidak perlu mengeluarkan jurus “yaah, namanya juga manusia”.

17 Okt 2021

Life changes, katanya sih gitu

 3 Events in 1 Week

Oke. Ada baiknya kita memulai perjalanan menelisik minggu lali ini dengan yang menyenangkan terlebih dahulu. Ya, gak menyenangkan-menyenangkan amat sih, kan dijadiin refleksi.

Ya, Namanya juga kerja ketemu berbagai masalah yunik yang tida diduga.  Mulai dari harus ngebantu tim yang masih kekurangan orang, sampai ada kabar tidak menyenangkan, sampai kedatangan teman lama ke tim. 

Konteks membantu tim yang kekurangan orang ini sebentulnya membantu saya lebih mengembangkan diri dan membuat saya kembali membiasakan diri untuk mewawancarai narasumber. Pertama kali diberi tugas, rasa deg-degan itu tidak hilang seharian. Detak jantung yang berdegup cepat membuat lupa perihal  penting, pertanyaan narasumber.

Saat itu, saya tentu fokus untuk membriefing narsum tentang pertanyaan saya. Tapi saat kamera menyala, perekam suara berjalan, buyar sudah. Saya hanya bisa mengeluarkan pertanyaan yang ada dibenak sekenanya sambal berusaha melihat kembali catatan pertanyaan untuk narasumber yang ada di gawai saya. Saat itu saya lupa untuk mematikan fitur sleep otomatis di gawai saya. 

Namun, setelah sekali wawancara berjalan, saya mulai bisa terbiasa. Meski rasa deg-degan itu tak hilang. Tetapi, saya tidak berpikir bahwa melakukan wawancara ini adalah beban, meski memang bukan job description saya. Saya haya melihat ini sebagai peluang, bahwa ke depannya, saya mungkin bisa mendapat kesempatan untuk menjalani job description yang lain. Tapi, saat ini, saya masih ingin berdinamika di pola baru dan cara kerja ini. Heu. Life changes emang.

Setelah wawancara ini, datanglah hari, dimana, teman saya bergabung dalam tim yang  kurang orang ini. Ia yang sebelumnya belum pernah kerja di media bentuk ini tentu mengalami culture shock kali ya. Ya, akhirnya ia memang mendapat teguran dari atasan, tetapi saya terus meyakinkannya agar tidak menyerah. Bisa lah, belum nyesuaiin aja kali ya.

Kabar lain lagi, dateng dari bagian lain lagi. Ini minggu emang lagi temanya perubahan kali ya. Ada rumor tentang perubahan lain yang kayaknya akan ganggu flow kerja, ya untungnya diinterupsi dan gak jadi. 

Tapi, kalo pun beneran ada perubahan, ya gak apa-apa. Life change, people change. Work flow change. WKWKWKW. 

Oke penutupnya harus rada rapihan kali ya, ini mah curhat nanggung aja. Dalam hidup, memang adaptasi itu tak terhindarkan sifatnya. Kita gak bisa seenaknya memilih, “aku gak suka”, lalu pindah gitu aja. Tapi, ada sistem yang lebih besar yang sudah berjalan. Kita lah yang harus beradaptasi, bukan sistem besar itu yang mengikuti mau kita. Egois itu namanya. Ada baiknya kita melihat situasi yang lebih besar  dahulu, baru kita melihat keadaan diri kita sendiri.

 

9 Okt 2021

Merenungkan Arti Hidup dari Serial Squid Game

Pekan lalu, saya baru menyelesaikan serial tv berjudul ‘Squid Game’. Bagi yang menontonnya, mungkin, kalian paham bagaimana kontrovesial dan menggugah rasa kemanusiaan dalam diri kita. Namun, selain permainan anak-anak dan adegan ‘berdarah’ lain dalam serial itu, saya tertarik membahas episode terakhir tentang pandangan Il-Nam dan Gi-Hun tentang memandang hidup.

Il-Nam mengatakan, saya gubah versi saya dengan inti yang sama karena dari bahasa korea ya khaaan, dia mengatakan, bahwa orang yang tidak memiliki uang dan memiliki terlalu banyak uang memiliki persamaan, yaitu sama-sama tidak menyenangkan. Ia juga mengatakan saat memiliki terlalu banyak uang, apa pun yang dibeli, makan, minum, akan membosankan pada akhirnya. Lagi-lagi berakhir tidak menyenangkan.

Lalu, apa dong arti menyenangkan dalam hidup dan uang bagi seseorang yang memiliki banyak dan tidak punya uang?

Hidup menjadi terlihat berbeda, terutama saat kita memandang orang lain mempunyai sesuatu yang lebih dari kita. Padahal, kita bisa saja sama-sama iri akan hal yang tidak dimiliki orang lain. Bagi Gi-Hun, uang adalah hal yang penting dalam hidupnya karena ia berutang dan hidup berkekurangan. Sedangkan bagi Il-Nam, hidupnya terlalu membosankan karena memiliki uang yang berlebih dan apapun yang diinginkan bisa tercapai.

Nah, kebosanan dalam hidup Il-Nam itu mendorongnya untuk mengikuti Squid Game karena ingin merasakan senangnya bermain sewaktu kecil. Sedangkan, Gi-Hun terpaksa ikut Squid Game karena iming-iming hadiah uang besar yang ditawarkan. Satu menganggap hal itu menyenangkan, satu pergi karena keterpaksaan dan perlu uang untuk hidup.

Saya merenungkan bahwa hidup tak melulu soal uang. Iya, uang memang penting dalam hidup kita. Apa sih yang gratis di dunia ini? Tetapi, pelajaran pentingnya adalah bagaimana kita memaknai hidup kita dan mengarahkan diri pada sesuatu yang berharga bagi diri sendiri dan orang yang paling kita sayangi. Il-Nam yang ingin kembali ke masa kecil dan merasakan kesenangan yang sama. Gi-Hun yang ingin berjuang untuk anak dan ibunya.

Tujuan hidup seseorang memang berbeda. Tetapi, selain sukses, orang ingin menjadi pribadi yang bahagia. Bahagia pun memiliki arti berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang perlu uang dan menjadi kaya untuk menjadi bahagia pas sudah kaya, malah gak bahagia kayak Gi-Hun. Ada yang punya banyak uang, susah mencari kebahagiaan karena selalu tersedia kayak Il-Nam.

Bagi saya, bahagia adalah bagaimana menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang yang saya sayangi. Waktu tidak bisa dibeli seperti barang. Tetapi, waktu adalah hal yang diprioritaskan seseorang, yang disediakan seseorang untuk suatu hal atau orang lain. Memberikan waktu berarti kita memberikan bagian dari hidup yang yang tidak bisa diambil kembali. Mana bisa kita memutarbalikkan waktu, kan?

Memberikan bagian hidup kita haruslah dihabiskan pada orang yang tepat. Kita tentu tak ingin memberikan bagian hidup yang paling berharga kepada sesuatu yang salah. Menikmati yang disukai memang tidak ada salahnya. Tetapi ada baiknya, kita memikirkan jauh ke depan. Bagaimana kita memaknai hidup kita di dunia ini? Apakah sudah diberikan ke orang yang tepat atau hanya membuang-buang waktu dan menyesal pada kemudian hari?

Semoga kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri sehingga dapat mengisi makna hidup kita lebih baik lagi!

2 Okt 2021

Experience is What Makes Who You Are Today

 new saturday, new reflections of last week.

Saya membuka tulisan dengan mengganti pepatah yang tertulis di SD saya dulu, “Experience is the best teacher”. Ya, kalau untuk kecerobohan saya ditulisan minggu lalu, pepatah ini tepat. Namun, saya rasa judul tulisan ini lebih tepat, pengalaman adalah yang membentuk dirimu hari ini.

Saat saya dibangku SD, pepatah ini dipasang dipapan dan setiap lantai. Memang sih, ada pepatah lain yang dipasang untuk memotivasi anak-anak SD yang belajar di sana. Tetapi, pepatah itu tidak sekadar dipasang, para guru pun berulang kali mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Ia memang guru terbaik sekaligus ‘tukang pukul’, ‘penagih hutang’, ‘sahabat’, ‘orang tua’ terbaik. Makanya saya memilih untuk menggantinya untuk judul tulisan ini. Kali ini, saya ingin merefleksikan pengalaman saya menghadapi seseorang yang ditegur oleh orang lain dengan ‘agak keras’ karena kesalahannya sendiri.

Saya memiliki berbagai pengalaman ditempa dan bertemu dengan orang yang superior dan memarahi saya dengan keras. Entah orang tua, senior, bahkan mengikuti pelatihan dengan tentara. Saat mengikuti pelatihan dengan tentara, saya berada di bangku SMP. Saat itu, saya dan teman-teman saya tentu hanya bisa mengeluh sembari menjalani hari di pelatihan yang keras. Itu merupakan kali pertama saya tidur di barak, mandi dengan menyaring air yang tercampur laron, tiarap setiap hari, dan makan dengan diburu waktu.

Teman SMP yang masuk SMA yang sama dengan saya sempat bertanya kepada saya, karena pada suatu mata pelajaran mengajukan pertanyaan itu pada masing-masing siswanya, “menurutmu, apa pengalaman hidup yang mengubah hidupmu?” Saya pun menjawab, “Ikut LDK OSIS-MPK dan pelatihan bersama tentara yang waktu itu, lho” “iya juga ya”

Pengalaman itu jelas yang terlintas pertama dihidup saya yang mengubah diri saya. Walaupun ada pengalaman lainnya, tetapi pengalaman itu membekas dalam diri saya dan membentuk sayan menjado pribadi yang lebih tangguh. Pengalaman itu mengajarkan banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup, tetapi kamu harus menghadapinya. Inilah awal saya mengenal pengalaman ‘survival’ atau bertahan hidup dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Setelah itu, saya memiliki berbagai pengalaman organisasi yang mengharuskan saya bertemu dengan pihak yang berbeda-beda sikapnya. Saya menyadari bahwa orang memiliki cara tersendiri dalam menegur orang lain. Ada yang tegas dan keras. Ada pula yang lembut dan perlahan.

Pengalaman lain yang pernah saya jalani adalah bergabung dengan organisasi pecinta alam di masa perkuliahan. Kalau kamu mencari berita tentang ini di internet, kamu tahu betapa ngerinya ditakuti oleh berita buruk tentang organisasi ini. Tapi, saya justru tidak takut menghadapinya hingga pelantikan anggota.

Saya punya dasar pengalaman dari pelatihan tentara tadi. Saya tidak takut ‘dirancang’ untuk hidup di alam bebas yang tidak menguntungkan. Tidak hanya alam, sih, teman dan anggota yang kurang sejalan pemikirannya, tetapi harus bekerja sama, juga sering ditemui. Selain itu, kalau dari organisasi, saya juga belajar bagaimana perbedaan dalam berbicara kepada senior dan kepada teman. Ini juga termasuk dalam bagaimana menempatkan diri saat serius dan bercanda, serta mengeluh.

Pengalaman ini pun dibangun dengan saya yang pernah melakukan kerja magang di berbagai tempat. Saya melihat bagaimana seseorang bekerja dan terlibat dalam kerja di suatu perusahaan. Dari sinilah, saya melihat bahwa menghormati orang lain itu penting dalam dunia kerja. Tak hanya masalah besar dan tentang pekerjaan, tetapi juga masalah sepele seperti mengomunikasikan keperluanmu pada atasan atau rekan kerja lain, misalnya.

Pekan lalu, rekan kerja saya dari bagian lain, terkena tegur atasan. Ia ‘tidak sengaja’ mengungkap keluhannya dan ‘setengah memaksa’ untuk menggunakan tempat yang sedang digunakan bagian saya. Saat itu sedang dalam jam kerja bagian saya dan saya sedang mengerjakan sesuatu. Ia datang dan ditegur oleh atasan dan rekan kerja saya dengan ‘agak keras’.

Saya yang sedang bekerja tentu bingung harus berbuat apa karena saya sendag mengerjakan tugas saya. Tanpa kami tahu saat itu, Ia menangis. Saya, rekan, dan atasan saya baru mengetahui setelahnya, bahwa ia menangis karena teguran tadi. Entah apa alasannya yang terburu-buru ingin meminjam tempat itu, tetapi ia salah karena ‘memaksa’ dan ‘memotong’ kerja orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu sebelumnya.

Setelah itu, saya merenung dan berpikir. Kalau saya berada di posisi dia dan mendapat teguran keras, apa yang akan saya lakukan? Apa saya akan menangis juga?

Menilik kembali pengalaman saya, menangis tentu bukan hal yang akan saya lakukan. Saya tentu akan menerima bahwa saya salah karena tidak sopan dan meminta izin untuk menggunakan tempat itu setelah mereka selesai. Saya sudah ditempa dengan menyaksikan dan merasakan berbagai orang yang menegur dengan keras sehingga hal itu biasa.

Namun, baginya, itu bukanlah hal yang biasa ia dapatkan. Kita juga tidak pernah tahu ia pernah mengalami atau mungkin trauma dibentak. Yang jelas, saya tahu bahwa pengalaman saya inilah yang membentuk saya sekarang. Seseorang itu dibentuk berdasarkan tingkatan pengalaman apa yang pernah dialaminya hingga hari ini. Jadi, jangan pernah menyamakan seseorang dengan orang lain karena perbedaan pengalaman itu nyata dan sangat berpengaruh membentuk seseorang.


27 Sep 2021

Pelajaran dari Ketidakberuntungan

Setiap perjalanan hidup, seseorang tentu tidak diberikan jalan yang mulus. Memang, kadang tidak diberi tantangan berat dan terlihat sepele bagi sebagian orang. Begitu pula saya. Memasuki dunia kerja memang tidak mudah. Tantangan terberat memang kecerobohan diri.

Saya memang mengakui bahwa saya orang yang ceroboh. Bukan dalam hal pekerjaan, Kecerobohan saya ini dari bagaimana saya menempatkan fisik saya. Ya, kesandung, terpeleset, dan jatuh adalah hal yang biasa bagi saya. Kalau lihat saya memar dan luka di tungkai bawah dan lutut, coba tanya saja, “habis jatuh ya?” atau “kepentok apa lagi?”

Secara fisik, kecerobohan itu tidak berakhir di masa kanak-kanak. Hingga usia awal 20-an ini, saya masih mengalaminya, bahkan di hari awal kerja yang belum genap 20 hari. Biasanya tidak saya catat, tapi karena ini ada kecerobohan alias ketidakberuntungan beruntun, saya kebetulan mencatatnya.

Hari-13: Kehilangan pulpen (ya, ini kecerobohan lain, selain fisik)
Hari-14: Nyolong pulpen orang, terus hilang juga pulpennya
Hari-15: Kesandung karpet WC, hampir jatoh, alias malu banget karena itu depan mushola
Hari-16: Salah naik bis, Salah subject email

Setelah, dilihat kembali, kecerobohannya gak hanya fisik ya, haha. Teledor meletakkan barang dan tidak teliti memperhatikan nomor koridor angkutan umum alias bis ke arah kantor. Selain itu, kecerobohan di pekerjaan pun ada, meski sepele sekali. Tetapi, tetap saja, saya malu karena salah subject email ini membuat saya menjadi bahan tertawaan divisi lain di kantor.

Terkadang, kecerobohan yang bisa diantisipasi kedepannya membuat saya ingat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu itu. Tetapi, kepentok, kesandung, kepeleset, hingga terjatuh yang tidak disengaja, kecerobohan ini sulit saya antisipasi. Sekalipun saya berhati-hati, terkadang, kaki saya menginjak pijakan yang salah tanpa saya sadari. Kalau hanya kesandung, saya masih bisa berusaha menyeimbangkan diri. Kalau keseimbangan itu hilang, saya sudah tidak punya antisipasi lain, kecuali berpasrah akan keadaan.

Kembali mengarah pada judul tulisan ini, ketidakberuntungan yang beruntun ini membuat saya melihat dan memetik pelajaran atasnya. Saya jadi lebih berhati-hati. Walaupun berhati-hati dalam bertindak saja tidak cukup, kadang, hidup memberi sesuatu yang tidak dapat diduga. Tidak ada cukup mitigasi dan antiisipasi yang terlintas, sehingga kita cukup memasrahkan diri pada keadaan yang tak terduga itu.

Tetapi, memasrahkan diri tidak sama dengan tidak berdaya untuk melakukan sesuatu.

Saat kita berpasrah dan melepas semua ego dalam diri, saat itu pula, kita bisa berpikir dan bertindak untuk keluar dari situasi yang tak terduga itu. Kita bahkan bisa memikirkan cara untuk melampaui batas diri kita itu.

 Memangnya, menyeimbangkan diri saat tersandung keras itu mudah? Sepele memang. Tapi, kalau dilihat secara luas, saya jadi mendapat hikmah bahwa tidak apa tersandung keras dan jatuh, asalkan saya dapat mengetahui cara untuk melompat kembali lebih tinggi dan seimbang.

WKWK. Sekian, refleksi diri dari kecerobohan minggu lalu. Sampai bertemu minggu depan!

26 Sep 2021

Mempromosikan Hidup Panggilan Secara Nyata

Disclaimer: tulisan ini dibuat sekitar minggu panggilan 2021. April. Sayang dibuang refleksi ini.

source: misafajava.org
source: misafajava.org

Memasuki minggu panggilan, para suster, bruder, dan rama berbondong-bondong mempromosikan kongregasinya. Hal ini juga dilakukan oleh setiap seksi panggilan pada paroki dan Gereja. Sebelum pandemi, saya melihat promosi minggu panggilan justru ‘menggunakan’ anak-anak.

Anak-anak melakukan perarakan memasuki gereja untuk memulai Ekaristi minggu panggilan dengan berdandan menjadi Uskup, Suster, dan Bruder. Namun, saya melihat ketiga orang yang saya dengar hasil wawancaranya ini tidak menemukan panggilannya pada masa kanak-kanak.

Salah satu suster menemukan panggilannya di masa SMA dan kuliah. Ia bahkan diminta bekerja terlebih dahulu oleh ibunya sebelum direstui untuk hidup membiara. Seorang Bruder menemukan panggilannya sewaktu SMA karena ia terlahir dengan keluarga dengan berbagai keyakinan. Ia pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim semasa kanak-kanak. Seorang Rama menemukan panggilannya saat masa sekolahnya karena ia ingin mendalami ilmu agama. Ia tidak ingin agama menjadi sebuah perpecahan, tetapi hal yang menyatukan banyak orang.

Tantangan yang dialami setiap orang ini berbeda karena latar belakang keluarganya. Ada yang terbentur orang tua dan menuntutnya untuk menyelesaikan kuliah dan bekerja terlebih dahulu. Ada anak bungsu yang keinginan masuk biara didukung oleh keluarga. Namun, keluarganya tidak memahami apa dan bagaimana menjadi seorang terpanggil itu sehingga memunculkan pertanyaan, “Pasangannya mana?” setiap berkunjung dengan keluarga. Ada pula yang merasa hidup panggilannya lurus dan mulus saja.

Saya menyaksikan wawancara ketiga orang terpanggil ini karena saya duduk di belakang layar dan menyunting hasil rekaman video mereka. Memangnya apa yang saya dapat hanya dari melihat video? Banyak. Ada yang tidak percaya diri sebelum diwawancara. Ada yang sebentar-sebentar minta dipotong jawabannya. Ada pula yang santai saja, sekalipun mengulang wawancaranya lagi, tidak apa-apa.

Melalui jawaban yang minta dipotong inilah, saya melihat tiga orang yang terpanggil ini secara nyata. Off the record, bahasa jurnalistiknya. Saya melihat sisi manusia dan bagaimana mereka menjaga panggilannya melalui itu. Sayang, ia meminta bagian itu dihilangkan. Ia merasa bagian itu membuat orang ragu untuk masuk ke biara.

Padahal, saya rasa setiap umat Katolik atau bahkan setiap orang perlu tahu apa yang dihadapi dan dirasakan orang yang terpanggil secara gamblang karena dunia mereka mungkin sempit dan terbatas. Mereka memang bisa mendalami ilmu agamanya secara penuh, tetapi mereka juga kehilangan teman dan keluarga di sepanjang membaktikan dirinya. Ini yang perlu setiap umat ketahui.

Cara setiap terpanggil menghadapi pergumulannya. Misalnya, kerinduan untuk bertemu keluarga saat ditugaskan di tempat yang jauh, mengakrabkan diri dengan sesama rekan se-biara, hingga menghadapi kesepiannya. Hal ini justru dapat membuka simpati orang untuk datang ke biara ‘menilik’ para Suster, Bruder, dan Rama.

Memang, tidak bisa selalu melakukan kunjungan, terutama di masa pandemi ini. Tetapi, hal sederhana seperti menyapa dan menemani beberapa menit sudah bisa mengobati rasa sepi mereka. Sepi adalah konsekuensi dari panggilan mereka. Para terpanggil bergumul dengan masalahnya sendiri dalam diam dan hidup bakti mereka pada Tuhan.

Mempromosikan hidup panggilan adalah kesempatan untuk menyampaikan pergumulan itu dengan sukacita. Tidak harus melulu menyampaikan hal baik dari hidup membiara. Tetapi, para terpanggil ini dapat menyampaikan kisah pembiaraannya dengan jujur dan tulus sehingga setiap pesan panggilan dapat tersalur dengan baik dalam hati setiap orang. Tetap semangat menjalani hidup bakti, ya, Suster, Bruder, dan Rama!