This is been a trouble to me the last 5 years and still counting kayanya. Dulu, saya menganggap orang tuh segitu mengganggunya buat saya sehingga apapun katanya akan saya pikirkan sampai masuk ke dalam pikiran dan sedalam itu. Ya, saya pun sampai merasa terganggu dengan pikiran saya sendiri.
Memikirkan kata orang, memang tak akan ada habisnya. Saya bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya banyak mengubah cara saya memandang dunia. Singkat memang, tapi caranya menyampaikan kekompleksan cara memandang dunia itu membuat saya memikirkan ulang banyak hal.
Pada akhirnya, kata-kata dia lah yang saya pikirkan. Ia mengubah saya yang pemarah menjadi seseorang yang… “ya ngapain marah”, karena saya sempat bertanya, “lo gak pernah marah ya?”. Ia sempat bercerita tentang marahnya dan kapan ia marah dan yaa... karena saya gak pernah lihat dia marah jadi gak bisa ngebayanginnya gimana.
Siapapun yg kenal saya, pasti tahu saya gak pernah terlihat marah. Yaaaaa… jangan dah.
Membiasakan diri seperti sekarang bukan proses yang mudah. Setelah orang itu pergi, tentu saja, saya kembali menjadi orang yang pemarah, ketus, and I see myself as the meanest person I’ve ever known. Ya, lagi-lagi, datang orang lain yang menyadarkan saya dan mampu menenangkan ‘amukan’ yang tak teredam dalam diri saya. Tapi, ini membuat saya justru mematikan rasa dalam diri saya. Dari seorang yang sulit berekspresi, saya semakin tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik (sampai sekarang dan masih terus belajar memperbaiki ini).
Banyak hal dalam hidup saya yang memaksa saya ‘mengeluarkan’ emosi atau perasaan saya, tetapi karena saya sudah ‘dipaksa’ meredam perasaan saya sejak kecil, hal ini menjadi sesuatu yang sulit. Pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik.
Oke, balik ke kata orang….
Kata orang, saya bukan orang yang gampang dipancing emosi. Iya. Emang. Walaupun dulu saya pemarah, saya mungkin marah karena banyak memikirkan perkataan orang. Setelah saya belajar ‘tidak marah’ dari teman saya itu, saya justru lebih memperhatikan hal lain, yaitu tidak memikirkan perkataan orang.
Hal ini memang sesuatu yang sangat tidak mudah. Tapi, hidup memang sejatinya memilih, kan? Saya memilih untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak mau saya pikirkan. Buat apa saya membuat Lelah diri memikirkan hal yang tidak menyenangkan yang dikatakan orang lain? Selama saya tidak mengusik hidup orang, tidak mengganggu orang lain, dan melakukan hal yang membuat saya senang, kenapa saya harus memikirkan kata orang?
Saya berusaha tidak memikirkan kata orang dan kasak-kusuk tentang saya. Buat apa? Gossip dan ngomongin orang di belakang… mending ngomong langsung lah, sini. Saya akan tanggapi daripada ngomong di belakang saya dan menyebar gossip yang tidak-tidak. Kalau iri, bilang dan lebih baik kenalan dan berteman dengan saya agar tahu kebenarannya, bukan ngomongin di belakang.


