Setiap perjalanan hidup, seseorang tentu tidak diberikan jalan yang mulus. Memang, kadang tidak diberi tantangan berat dan terlihat sepele bagi sebagian orang. Begitu pula saya. Memasuki dunia kerja memang tidak mudah. Tantangan terberat memang kecerobohan diri.
Saya memang mengakui bahwa saya
orang yang ceroboh. Bukan dalam hal pekerjaan, Kecerobohan saya ini dari
bagaimana saya menempatkan fisik saya. Ya, kesandung, terpeleset, dan jatuh adalah
hal yang biasa bagi saya. Kalau lihat saya memar dan luka di tungkai bawah dan
lutut, coba tanya saja, “habis jatuh ya?” atau “kepentok apa lagi?”
Secara fisik, kecerobohan itu
tidak berakhir di masa kanak-kanak. Hingga usia awal 20-an ini, saya masih
mengalaminya, bahkan di hari awal kerja yang belum genap 20 hari. Biasanya
tidak saya catat, tapi karena ini ada kecerobohan alias ketidakberuntungan
beruntun, saya kebetulan mencatatnya.
Setelah, dilihat kembali,
kecerobohannya gak hanya fisik ya, haha. Teledor meletakkan barang dan tidak
teliti memperhatikan nomor koridor angkutan umum alias bis ke arah kantor.
Selain itu, kecerobohan di pekerjaan pun ada, meski sepele sekali. Tetapi,
tetap saja, saya malu karena salah subject email ini membuat saya menjadi bahan
tertawaan divisi lain di kantor.
Terkadang, kecerobohan yang bisa
diantisipasi kedepannya membuat saya ingat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan
sesuatu itu. Tetapi, kepentok, kesandung, kepeleset, hingga terjatuh yang tidak
disengaja, kecerobohan ini sulit saya antisipasi. Sekalipun saya berhati-hati,
terkadang, kaki saya menginjak pijakan yang salah tanpa saya sadari. Kalau
hanya kesandung, saya masih bisa berusaha menyeimbangkan diri. Kalau
keseimbangan itu hilang, saya sudah tidak punya antisipasi lain, kecuali
berpasrah akan keadaan.
Kembali mengarah pada judul
tulisan ini, ketidakberuntungan yang beruntun ini membuat saya melihat dan memetik
pelajaran atasnya. Saya jadi lebih berhati-hati. Walaupun berhati-hati dalam
bertindak saja tidak cukup, kadang, hidup memberi sesuatu yang tidak dapat
diduga. Tidak ada cukup mitigasi dan antiisipasi yang terlintas, sehingga kita
cukup memasrahkan diri pada keadaan yang tak terduga itu.
Tetapi, memasrahkan diri tidak
sama dengan tidak berdaya untuk melakukan sesuatu.
Saat kita berpasrah dan melepas
semua ego dalam diri, saat itu pula, kita bisa berpikir dan bertindak untuk
keluar dari situasi yang tak terduga itu. Kita bahkan bisa memikirkan cara
untuk melampaui batas diri kita itu.
Memangnya, menyeimbangkan diri saat tersandung
keras itu mudah? Sepele memang. Tapi, kalau dilihat secara luas, saya jadi
mendapat hikmah bahwa tidak apa tersandung keras dan jatuh, asalkan saya dapat
mengetahui cara untuk melompat kembali lebih tinggi dan seimbang.
