27 Sep 2022

“Are you happy, Stephen?”

Sekitar bulan mei, saya sempat mengurangi melihat postingan Instagram dan twitter, alias social media yang biasanya saya gunakan. Bukan berarti ngga ngikutin atau detoks social media, engga, hanya melewati story atau cuitan atau postingan teman-teman. Lalu, ketika saya membuka dan melihat kembali, ada satu perasaan yang muncul dalam hati. Mungkin, tepat kalau dikatakan iri. Kalau kata filsafat stoa, iri merupakan salah satu emosi negatif yang tidak sejalan dengan alam. Nah, yang katanya, kalau kita mempraktikkan latihan ajaran stoa ini hendak dikurangi bahkan tidak ada sehingga ada bahagia.

 

Bahagia. Jadi ingat, Stephen Strange yang ditanya Christine, “Are you happy, Stephen?”

 

Bahagia, lagi-lagi kalau menurut salah satu filsuf stoa, saat kita tidak merasa cemas, sedih, dan takut. Salah satu lini penting dalam mengendalikan “emosi negatif” ini ya dengan melatih apa yang bisa kita kendalikan dan tidak. Tapi kan ya… (lagi-lagi pemaklumkan yang tidak seharusnya digunakan) namanya juga manusia, susah dong kalau harus dipaksa mengendalikan emosi negatif yang terkadnag gak bisa dikendalikan ini. Kalau cara filosofi stoa ya, dilatih.

 

TAPI, ini kan refleksi bahagia menurut saya, sekaligus merapel absennya tulisan di sini, karena menyelesaikan buku filosofi teras, jadi ya sekalian aja tulisan pembacaaan filosofi teras kali ya…

 

Balik, ke pertanyaan Christine ke Strange, ya, (sok ikrib bgt strange Christine wqwq) Strange gengsi lah ya ke nikahan mantan bilangnya ngga hepi. Hehe ya ini ngga lagi ngulik marvel kok. Bahagia buat masing-masing orang artinya beda-beda. Beberapa waktu lalu, pas mulai tulisan ini, ada baru ngomongin kalo ada orang yang pengen nyari cara ngebahagiain orang. Ya susah.

 

Menurut saya, pencapaian kebahagiaan seseorang hanya bisa dicapai dan diketahui oleh masing-masing orang. Arti bahagia kan berbeda-beda. Ini akan muter-muter aja kayanya karena saya sendiri belum bisa memastikan apakah saya sudah seratus persen bahagia (pastinya tidak dan belum). Maksudnya adalah tujuan hidup orang yang berbeda-beda membuat bahagia menurut satu orang dengan orang lai itu berbeda. Kalau dalam filosofi teras, Henry Manampiring menjelaskan bahwa bahagia itu bukan tujuan, tetapi efek dari tujuan hidup seseorang. 

 

Membaca filosofi teras, saya jadi mengerti bahwa tidak ada nasib baik dan nasib buruk dalam hidup seseorang. Semua kejadian dalam hidup ini netral, tapi bagaimana diri kita sendiri mengartikannya yang menjadikan kejadian tersebut baik atau buruk. Dalam konteks bahagia menurut saya pun begitu, bahagia itu bagaimana kita mengartikan hal-hal sederhana dalam hidup dan mensyukurinya. Kalau sejalan dengan tujuan hidup kita, hal tersebut sudah selayaknya membuat kita bahagia.

 

Nah, balik ke mengusahakan bahagia, menurut saya (setelah membaca stoa), itu ternyata bisa dan ada, karena kebahagiaan sejati menurut stoa akan bisa dicapai dan bisa dilatih. Kalau dipikir-pikir saya sudah melatihnya sejak lama, ya, sejak banyak kesempatan menahan emosi. Tapi, menahan emosi dengan mengendalikan emosi negatif itu beda. Menahan emosi, ya, emosinya tetap ada di sana, hanya saja tidak disampaikan. Sedangkan, mengendalikan emosi, ya, emosi negatif tersebut, yang utamanya seharusnya tidak perlu ada, karena berasal dari luar (tidak bisa kita kendalikan) dan sesuatu yang netral, kita bisa menyikapinya dengan respon yang baik dan berfokus pada solusi. 

 

Dalam setiap kejadian yang menimbulkan emosi negatif ini, ada baiknya kita mengambil jeda, berpikir dengan tenang emosi apa yang ada dan timbul dari kejadian tersebut (mengingat bahwa kejadiana tersebut netral dan emosi yang timbul adalah interprestasi kita), dan setelah tenang, kita dapat memikirkan respon yang bisa kita keluarkan. Jadi, sebuah kejadian terjadi, dan membuat kita merasakan emosi negatif (iri, cemburu, kesal, marah), bukan sesuatu yang harus disikapi atau direspon negatif dan tidak seharusnya mengganggu kita.

 

Tapi, ya berhubung kalau ada kejadian mesti pikirin dulu negatifnya diolah biar dikendalikan itu susah, ya harus dilatih-latih terus, apalagi kalau ada sesuatu yang triggering peristiwa buruk dalam hidup kita. Latihan menjadi bahagia ala stoa ini gak mudah tapi bisa dan mungkin dilakukan. Saya mau berusaha melatihnya, tapi rasanya kalau sudah menyangkut orang terdekat ya mending keluarin aja ya marahnya wkwkw. Gak gak, ga gitu konsepnya wq.

 

Intinya… kebahagiaan seseorang itu tidak bisa dicapai oleh orang lain, hanya orang tersebut sendirilah yang bisa mencapai kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati yang katanya, tidak ada emosi negatif itu ya bahkan filsuf stoa pun tidak ada yang benar-benar mengklaim dirinya seratus persen bisa mencapai ‘sejati’ itu. Kebahagiaan itu bahkan bukanlah tujuan hidup kita, tetapi efek dari proses kita dalam menjalani dan mencapai tujuan hidup kita. 

 

Dalam hidup kita, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk respon orang lain, kesehatan, harta, pekerjaan, dan lainnya yang terjadi karena pengaruh dan campur tangan orang lain. Begitu pula dengan permasalahan dalam hidup, kita bisa menganggap suatu kejadian saebagai masalah apabila kita menganggap nya begitu. Interpretasi kita akan suatu keadaanlah yang mendefinisikan sebuah keadaan sebagai hal buruk atau hal baik. Kalau kita fokus terhadap apa yang kita kendalikan, kita mengendalikan pikiran kita agar memandang suatu kejadian sebagai suatu hal baik sehingga tidak terpuruk dalam suatu keadaan.

 

Dalam keadaan yang tidak diinginkan, kita pasti akan langsung berpikir dan merespon dengan kurang baik. Ada baiknya kita berhenti terlebih dahulu, kemudian memikirkan, “Apakah hal ini terjadi sepenuhnya karena kita? Apakah kita sendiri yang menginginkan hal tersebut? Kenapa saya harus kesal/sedih/marah/iri dengan keadaan ini?” Kalau hal ini terjadi di luar kendali kita, kita bisa mencoba memikirkan respon yang tepat dengan kepala dingin. Kemudian, kita baru merespon kejadian tersebut dengan baik dan memiliki solusi yang tepat.

 

Kalau kita berfokus pada solusi, kita tentu akan berusaha pada hal tersebut dan bukan pada ‘masalah’ atau ‘kejadian buruk’nya. Kita tahu apa yag harus dilakukan setelahnya. Premeditatio malorum yang dalam filosofi teras adalah bagaimana kita mengontemplasi derita atau memikirkan seua kemungkinan terburuk yang terjadi. Saya selalu melakukan hal ini. Kalau di filosofi teras mungkin disarankan pagi hari, tapi saya biasa melakukannya malam hari, sebelum tidur, dan memikirkan bukan yang akan terjadi keesokan hari saja tetapi untuk ke depannya. Overthinking lah kalo kata anak jaman now. Saya sering sekali memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Tetapi, kalau saya sudah pernah memikirkannya, saya pun sudah memikirkan bagaimana dan solusi apa kalau benar sampai terjadi hal tersebut. Artinya, saya sudah siap menghadapi hal buruk tersebut, meski belum terjadi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan.

 

Nah, saya pun masih terus melatih respon otomatis dalam pikiran saya agar tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang tidak bisa saya kendalikan dan berfokus pada apa yang bisa saya kendalikan. Terkadang, banyak hal masih membuat saya mudah tergelitik dan terdorong untuk marah/sedih/kesal, padahal hal tersebut bisa dihadapi dengan tenang. Mudah-mudahan rasa marah/sedih/kesal/iri saya yang datang secara otomatis dalam menghadapi suatu kejadian dapat tersalur dengan baik dalam bentuk yang baik (menulis seperti ini misalnya) sehingga tidak memberikan dampak buruk pada orang lain dan diri saya sendiri. *finger crossed* cheeeeers!