Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, kata gnolbo alias Eka Kurniawan, yang didaptasi menjadi film dan menang Locarno. Ya kalo di film sih, Iteung mati-matian bales dendam untuk Ajo Kawir. Tapi, apakah dendam itu perlu? benci itu begitu kuat hingga dendam? Dendam itu apa? lalu kenapa saya merasa tidak perlu mendendam pada seseorang?
Dendam artinya, menurut kbbi, berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Tetapi, apakah seseorang begitu pantas untuk dibalas perlakuan buruknya? Perlakuan apapun dari seseorang, apalagi yang buruk, tidak perlu dibalas. Menurut saya, Yang Maha Kuasa dan Maha tahu lah yang berhak menentukan balasan atas perbuatan seseorang. Kita, manusia, tidak punya hak sedikit pun menentukan balasan perbuatan seseorang.
Kita hanya bisa menduga, mengira-ngira, dan mendoakan orang tersebut. Entah baik atau pun buruk. Kalau kata mas Tulus dan lagunya yang viral, mah, ya, hati-hati di jalan. Tapi, kalau di twitter seliweran tweet yang tidak mendoakan hati-hati di jalan, juga tidak apa-apa. Manusia hanya bisa berdoa, tapi semua rencana atas seluruh hidup kita, itu sudah digariskan dengan bersahaja oleh Yang Kuasa.
Sebenarnya tulisan ini tercetus karena seseorang mengatakan, "kamu jangan dendam." Lalu, saya berpikir dan berpikir... tidak terbesit sedikit pun rasa dendam. Pada hari yang sama, hari minggu, bacaan kitab suci di Gereja pun mengatakan perihal yang sama, untuk tidak mendendam. lukas 6: 27-38, hukum kasih. Dalam permenungan pada homili romo, Ia mengisahkan bagaimana rentetan kekerasan itu tidak akan hilang, kalau hanya berpikir tentang balas membalas. Ada hal lain yang bisa dilakukan untuk melawan tanpa harus membalas, kalau kata romo.
Saya juga tidak ingin melawan. Pikiran untuk mendendam kok dilawan, yang bener mah gak kepikiran karena tidak membenci. Justru sebulan ini, saya berefleksi lebih dalam. Menilik, apakah benar saya sepenuhnya dulu seperti itu hingga harus mendendam? atau malah saya (atau dia) sudah mendapat ganjarannya dari Tuhan tanpa kami, masing-masing, sadari, hingga akhirnya kami memang diarahkan untuk berjalan ke arah berbeda.
Saya menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya. rasa itu nyata, iya betul. Kepedulian orang sekitar saya, tentunya, nyata. Tapi, bagi saya, rasa itu tidak sepenuhnya alasan utama. Jadi, memang, saya tidak mendendam, bukan karena saya tidak ada rasa, tidak kesal, tidak membenci. Terlebih semata-mata, saya ingin belajar menerima, bahwa banyak hal memang harus berjalan sebagaimana ingin-Nya, bukan rencana-rencana buatan manusia.
Saya percaya bahwa menerima keadaan itu adalah hal yang tidak mudah. Tapi, dia mengajarkan saya untuk menerima. Kalau tidak sesuai keinginan, yaudah, yaudahlah mau gimana lagi. Bukan pasrah, tapi, menerima bahwa sesuatu itu di luar kendali kita. Kita bisa memilih mana yang bisa kita kendalikan dan tidak, terutama untuk membenci atau tidak, mendendam atau tidak. Semata-mata bukan untuk orang lain, diri kita lah yang perlu untuk diajak memahami keadaan dan menerimanya sebagaimana adanya.