Pada dasarnya, manusia adalah makhluk paling caper di muka bumi. Hal ini berarti 7 milyar lebih manusia di bumi ini melakukan sesuatu demi dilihat, diperhatikan, dipedulikan orang lain. Entah, itu kolektif atau personal, seseorang ingin mencari perhatian orang lain. Mau ngomong apasik u, lagi caper yy? Ya karena abis ngeliatin orang caper di demo yg didokumentasikan dan tersebar luas di jagat maya.
Demonstrasi mahasiswa, katanya, yg ada di depan DPR minggu lalu sepertinya masih saja terlihat ditungganggi pihak-pihak gak bertanggung jawab. Ya, lihat aja, pengeroyokan dosen UI itu. Tapi, sebenarnya, selama aspirasi itu disampaikan pada forum yang tepat (re: demonstrasi misalnya) ya sudahlah, setidaknya tersampaikan pada pihak berwenang dan pihak DPR juga bertemu dan berbicaran pada pihak pendemo. Namun, tulisan ini tidak akan membahas dema-demo dan tujuan politik demo tersebut, tetapi cara mahasiswa yang cari perhatian dengan tulisan-tulisan pada spanduk demonya.
yang menurut saya, yaelah awikwok bgt ni elah. frik u. bentuk capernya ngga bgt.
Susah-susah, aktivis perempuan melakukan women's march pada hari perempuan dan memperjuangkan RUU TPKS (yang sekarang sudah SAH!!!!) agar perempuan tidak diobjektifikasi. Tapi, tulisan yang dibawa-bawa perempuan ini cenderung menyiratkan sikap seksis dan melanggengkan objektifikasi pada perempuan. Padahal, tidak ada yang lucu dan menarik pada tulisan tersebut. Kata dan frasa yang digunakan memang seolah-olah sengaja menggunakan kata yang ambigu dan seakan mewajarkan objektifikasi pada jenis kelamin tertentu (dalam hal ini, tentu saja, perempuan).
apakah pantas menggunakan kata-kata 'ayang yg naik', 'bercinta tiga ronde', 'harga mi-chat' dan menaruhnya pada poster tulisan besar seakan hal ini normal dan wajar dikatakan secara biasa saja?
Ya, tidak wajar kata-kata seksis dan merendahkan ini dinormalisasi. Kalau ada siapapun yang bercanda dengan kata-kata seksis sebaiknya tidak pantas ditanggapi dan ditertawakan. Sama sekali tidak lucu. Saya sering mengeluhkan dan menemukan meme bernada seksis pada akun-akun shitpost, tapi buat apa dikeluhkan, jelas-jelas dia mendeklarasi akunnya untuk mengunggah hal-hal 'shit'. Yang salah adalah menormalisasi hal tersebut dan menganggap lucu hal-hal yang mengobjektifikasi dan merendahkan orang lain.
Memang ada-ada saja cara untuk mencari perhatian orang lain. Salah satunya, mungkin, mengunggah kata-kata uang kontroversial, seksis, sehinggal viral dan diperbincangkan di jagad maya. Setelahnya, baru deh, penulisnya melakukan klarifikasi yang tetep ngga banget alesannya (ya jelas-jelas salah dan merendahkan). Di era digital ini, orang mudah sekali mencari perhatian dengan membuat sesuatu yang kontroversial sehingga menjadi buah bibir di media sosial dan viral. Viral atas sesuatu yang baik dan mendorong kebaikan sih ngga apa-apa. Tetapi, kalau viral atas sesuatu yang buruk tentunya tidak diinginkan dan tertinggal di dunia maya sampai kapanpun. Jejak digital, kiwari, penyebutannya. Ya, jejak digital itu akan selalu ada dan tertempel pada profil seseorang hingga kapan pun.
Jadi, lakukan hal baik hingga viral dan mencuri perhatian. Jangan lakukan hal buruk untuk viral dan mencari perhatian. Saya bukan anak sastra kayak mbaknya yang menulis tulisan seksis di poster demo tersebut, tapi saya bisa membuat kata-kata yang berasonansi dan tetap berpegang pada esensi. hehe. cheers!