Sebenernya, kalo dipikir tentang bahagia… Siapa yang tau tentang bahagianya sesesorang? Coba, kalau ditanya, “kamu sudah bahagia belum?”Mungkin, bagi beberapa orang, ia bisa menjawab sudah dan mengatakan bagaimana ia merasa bahagia. Tapi, ada juga orang yang masih mengusahakan bahagianya.
Kalau ditanya apa arti bahagia bagi saya, entah, saya juga belum menemukannya. Kalau dibilang, bahagia itu pilihan… saya bingung mengatakannya. Memang sih, rasa bahagia itu tak bisa selamanya, kan hidup itu dinamis, kadang ada masa sedih, kadang bahagia. Tapi, saya bisa dengan yakin mengatakan kapan-kapan saja saya merasa bahagia, meski belum sepenuhnya.
Kalau dibilang pilihan… saya ingin memilih untuk berada di memori itu selamanya. Walaupun di muka, saya bilang kalau saya ingin menghidupi saat ini apa adanya, tapi ada waktu-waktu kamu ingin menyimpan memori saat kamu bahagia. Rasanya ingin menghentikan waktu saat itu terjadi, dan saat sudah lewat, tentunya kamu ingin kembali lagi merasakan hal yang sama.
Tapi, untuk sampai pada titik perasaan yang sama, bukanlah yang yang mudah, bahkan mustahil.
Bahagia pun menjadi hal yang berbeda setiap saat aku merasakannya. Perasaan bahagia itu perasaan yang penuh. Ia seakan memenuhi ruang-ruang hati dan membuatmu merasa hangat. Mungkin perasaan itulah yang ingin dijaga, disimpan, rasa hangat atas bahagia.
Kalau dibilang bahagia itu pilihan. Banyak hal yang rasanya ingin saya pilih, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalau saja itu benar bisa membuat saya bahagia. Tapi, perasaan ragu akan kebenaran bisa membuatku bahagia atau tidak inilah yang selalu membuatku ragu memilih. Biasanya, aku membiarkan seseorang memilihkan untukku atau ya katamu, karena ngalir aja.
Pilihan yang tidak dipaksakan itu memang membahagiakan. Saya ingin memilih bersama orang-orang yang tidak membuatku merasa buruk. Mengerti, bahkan mengusahakan apapun. Secara pribadi, dan kalau yang dikatakan teman saya benar, aku punya tes bagi orang-orang di sekitarku. Ia yang tak lolos, biasanya belum tentu kuanggap teman. Hanya sebagian kecil, kecil sekali, yang bisa menembus tes itu, dan ada satu yang mampu lolos sempurna. Sayangnya,say belum memilih bahagia itu.
Menelisik ke belakang, orang-orang begitu dinamis. Tak selamanya yang dikatakannya pada tes itu selamanya sama. Tunggu saja bertahun, ia lelah biasanya. Aku bersyukur kalau tidak berubah. Sayangnya, tak mungkin kan… aku pun berubah. Bahagiaku menjadi lebih sederhana, dalam pandanganku. Menghabiskan waktu, sentuhan sederhana, perhatian kecil. Bahagia.
Kalau bahagia itu pilihan… kenapa omongan dan pilihan seseorang dapat memengaruhi bahagia orang lain? Tak bisakah, sesuatu tetap adanya sehingga bahagia seseorang tak mengusik orang lain? Lagi-lagi, memang bahagia bukan pencapaian, tapi aku juga tidak yakin kalau itu pilihan. Pilihan sih pasti, tapi apa benar itu pilihan yang tepat untuk bahagia seseorang? Apa pilihan ku tepat?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar