Habis membaca cuitan seseorang bahwa ia belajar agar tidak terlalu totalitas di tempat kerja. Ya memang, kerja memang sewajarnya dan seperlunya. Tapi bukan berarti tidak totalitas pada apa yang menjadi job description pekerjaan kita. Ini juga dituliskan pada cuitan berikutnya. bahwa ia melakukan yang terbaik dan bertanggung jawab. Tidak totalitas bukan berarti kerja awur-awuran dan seadanya, maksud si pencuit adalah bekerjalah sesuai job description sebaik-baiknya.
Bekerja sebaik-baiknya dan sesuai porsinya berarti kita tidak mengorbankan sesuatu di luar pekerjaan kita. Kalau bahasanya pencuit tulisan ini, “sampe ga punya kehidupan” (selain bekerja). Orang mungkin melihat bahwa saya sebelumnya adalah seseorang yang total dalam pekerjaan saya sampai terlihat tidak punya kehidupan. Padahal, tidak seperti itu. Ya… keliatannya aja. Padahal di luar kerja ya tetep aktif inainu. Tapi, saat jamnya kerja, ya saya melakukan apapun itu sebaik-baiknya, setotal-totalnya, dan tetap seperlunya. Kalau terlalu baik, ya saya juga sadar tidak seberapa dihargainya.
Menelisik pada organisasi lain yang saya ikuti, di luar kerja, saya tahu bahwa memang seharusnya melakukan sesuatu itu seperlunya. Meski dalam hal ini adalah melakukan pelayanan. Tetapi, kalau tetalu total dan (lagi-lagi) sampai tidak punya kehidupan selain itu dan terkesan dimanfaatkan karena bisa apa saja. Ya, memang sebaiknya kurangi dan cobalah mencari aktifitas lain.
Selain itu, saya juga memandang bahwa keperluan di kantor itu memang seperlunya. Kalau pekerjaan sudah, ya, sudah. Dengan pengalaman segitunya saat kerja dan berorganisasi, saya merasa bahwa waktu istirahat, meluangkan waktu bersama orang lain di luar kantor dan organisasi, bahkan waktu dengan diri sendiri, adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa miliki. Kalau kantor atau organisasi, dimana kita menjadi bagian di dalamnya, sudah memberi kita ruang untuk hal ini, kita tentu patut bersyukur.
Mengembangkan diri dalam pekerjaan atau organisasi itu tak melulu harus terlalu total hingga tak punya waktu untuk diri sendiri. Tetapi, bagaimana kita sebagai manusia bisa bertumbuh sebagaimana mestinya tanpa merugikan orang lain dan, yang terpenting, diri sendiri. Diri sendiri yang utuh dan sehat secara fisik dan mental tentu akan memberi pengaruh terhadap hubungan dengan orang lain pula.
Berkaca dari pengalaman berpindah-pindah tempat magang (dan sekali tempat kerja), saya pun melihat bagaimana suasana kantor juga mempengaruhi “totalitas” bekerja itu sendiri. Tempat dan suasana kerja itu tentu berpengaruh pada cara kita “mengabdi” pada kerja kita, mulai dari beban kerja, rekan kerja, tempat bekerja, minat dan bakat, dan (tidak bisa dipungkiri) upah dan jaminan kerja. Perbedaan-perbedaan ini tentu saya rasakan, kalau ditempat ini kelebihan dan kekurangannya apa saja, dan di tempat yang lain bagaimana.
Berhubung, tulisan ini dipublikasi di tanggal-tanggal gajian… hehe. Ayo semangat kerja ya, totalitas sesuai jobdesc aja, habis itu hura-hura. Jangan lupa istirahat, minum air putih, nonton Netflix, dan olahraga. Saya juga masih belajar untuk menyeimbangkan ritme kerja dan di luar kerja, hubungan pekerjaan dan personal, dan fokus mengembangkan diri lebih baik lagi. Ya tentunya, mengurangi terlalu focus kerja dan gapunya kehidupan di luar, berusaha kembali mengambangkan diri, nulis-nulis lagi, nonton series lagi, olahraga lagi. Lagian, ini kan refleksi untuk diri saya sendiri. Kelak kalau lupa, bisa baca lagi. Semangat aku, dan kamu semua yang membaca tulisan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar