Dulu, menulis bagi saya adalah ruang menumpahkan unek-unek yang bisa saya manfaatkan menjadi "sesuatu". "Sesuatu" yang bisa menjadi pekerjaan atau ruang untuk merefleksikan diri dan berpikir kritis. Namun, kini, dunia audiovisual menguasai ruang semua pihak, terutama sejak pandemi. Muncul banyak pemberitaan singkat, cepat, dan langsung. Artis-artis media sosial baru bermunculan dan makin marak dengan sebutan selebgram, influencer, ataupun konten kreator. Media sosial pun mengubah fokus dari visual dan tulisan menjadi tampilan video singkat. Lalu, siapa lagi hendak membaca tulisan esai panjang?
.
Idealisme, tai kucing. Bisa makan apa kita dari idealisme? Waktu saya kuliah, ada teman saya mengatakan, disclaimer katanya ia kutip dari bapaknya, "kalau sampe umur dua-lima, lo masih idelis dan jadi aktivis..." hehe... lupa saya kata-kata tepatnya, intinya, kalau sampai umur segitu masih mendahulukan idealisme, kamu tidak realistis. Saya pernah hanya menganggap ini pernyataan kosong, jadi saya anggap angin lalu. Saat itu, saya sedang getol "bersuara", bermedium tulisan, ikut aksi berbagai LSM dan gerakan (meski tidak selalu dan rutin konsisten), juga datang ke berbagai pameran di ruang kolektif yang menyediakan ruang untuk seniman independen dan ruang untuk kaum marjinal. Masa itu, saya melihat bagaimana turun langsung ke lapangan, meninjau keadaan aslinya, itu berdampak, sangat berdampak, bagi siapapun untuk memahami bahwa perhatian dan usaha menjadi sepaham itu penting. Hal ini terutama dalam memahami kaum marjinal dan minoritas yang ruang suaranya diambil mayoritas. Rasanya, ini adalah titik puncak saya dalam memandang suatu secara kritis, "sok aktivis", dan........ belum mencapai krisis. haha.
Perjalanan saya dengan segala ke-idealis-an saya, mulai dari kritik pemerintah, alam, perempuan, kaum muda, dan lawan patriarki. Ya, pasti masih sampai sekarang, tapi saya sudah tidak lagi ikut gerakan sesuatu atau "sok sok" lainnya. Paham tetap dalam pikiran, tapi perbedaan cara pikir merespon terhadap yang berseberangan yang berubah. Ya ngga berubah banyak, karena vokal juga ngga terlalu tapi ikut serta aja.
Titik baliknya adalah krisis skripsi wqwq dan pandemi. Selama awal kuliah dan mundur ke belakang, saya menjadi pembaca yang masif dan mendorong diri lebih kritis dalam berpikir apapun. Namun, sejak bergeser dari buku dan lebih aware terhadap dunia digital, saya justru mulai mengkikis cara berpikir yang sudah dibangun dari membaca (buku) tersebut. Pada gawai, awalnya, saya masih membaca berbagai berita panjang dan esai, juga tulisan mendalam sampai mengikuti nawala dari suatu media yang cukup populer. Lalu, berbagai aktivitas kegiatan mahasiswa ternyata cukup menyita energi dan waktu hingga waktu membaca dan menulis tersebut sulit dicari kembali. Semakin naik jenjang, saya semakin tidak mengikuti dan tidak membaca sampai akhirnya krisis itu. Pada titik balik itu, kebetulan waktunya hampir bersamaan, ini diawali dengan magang di suatu kantor. Berbagai demo dan segala macam gerakan, dulu, saya mungkin turun ikut serta. Namun, saat itu saya "bekerja" meski magang. Saya punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, saya diberi upah oleh kantor tersebut. persetan kapitalisme tapi saya dibayar korporat untuk menambah pemasukkan. Realistis.
Hilanglah sudah rasa menyuarakan keadilan secara utuh, turun langsung ke lapangan dan lainnya. Saat itu membaca masih. Bergeser ke skripsi dan pandemi, bacaan saya pun jadi hanya seputar pendukung skripsi dan nonton netflix. Tidak ada lagi bacaan lain yang membantu mengasah kemampuan berpikir kritis itu. Menjadi Realistis, harus lulus, segera. Padahal materi skripsi saya terkait kritis, bagaimana media menggunakan pengaruhnya pada reporternya dan memperngaruhi tulisannya. Lalu, saya lulus dan fokus utama harua kerja, apa aja. setelah kerja, pindah kerja, sekarang lalilulelo bles~ hilang~ yang penting kerja dapat uang, realistis dan minim kritis.
Pandemi pun mengubah diri saya. Bagaimana proses seseorang yang selalu meluap-luap dan melihat ke luar menjadi fokus akan dirinya. Bagaimana semua diajak untuk fokus akan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu, baru keluarga, teman, rekan, dan lain sebagainya. Berusaha Realistis pada diri sendiri dan selesaibakan permasalahan apapun dalam diri.
Perlahan tapi pasti memang, saya berusaha mengembalikan kebiasaan membaca itu. Saya mulai dari buku lagi. Seakan kembali ke rasa menyukai buku segitunya, saya berusaha kembali membaca banyak buku. Tidak serta-merta, saya langsung bisa fafifuwasweswos buku, literasi, kritis, alam, perempuan, pemerintah. Setidaknya kembali mengenal proses dan cara pikirnya. Tidak, tidak akan kembali, setidaknya cukup pada diri sendiri bisa kembali kritis dan bisa selesai akan diri sendiri.
Kembali pada tidak realistis kalau idealis di umur dua-lima. Saya memandang hal ini bahwa bukan tidak realistis tetapi sebagai manusia kita berubah. Bukan jadi sailor moon, tapi manusia senantiasa berubah sesuai tuntutan zaman, tuntutan usia. Usia yang memasuki awal "dewasa" ini adalah awal untuk seseorang menentukan arah hidupnya. Bukan tidak kritis, ya itu, mungkin, ada yang fokusnya sudah berubah tidak lagi bisa mendahulukan idealisme. Ia harus mendahulukan tuntutan kebutuhan keluarga, finansial, dan lain sebagainya. Selamat memikirkan arah hidup sobi-sobi quarter life crisis yang diambil pandemi krisisnya~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar