7 Des 2015

Sekali - sekali konten postnya begini gapapa lah, ya.

‘Kata - kata usang yang tak ingin disampaikan, dibuat dengan sendu, di masa silam, dari pengandai yang berusaha terbuka pada harapnya.’ semoga dapat terbuka pula memahaminya. Selamat menikmati kata yang tak seberapa dan semoga berjumpa dikata terakhir.

"Teruntuk perangkul mimpi - mimpi yang kelewat tinggi ke langit, dongaklah dan lihat sesekali saja mimpimu diatas sana. Karena kalau kelewat sering kau tengok, sudah sakit leher, sakit pula pikiranmu."

"Ingin ku tampik semua kenangan tentangmu saat ia memanggil. Tapi semua kenangan tentangmu itu terasa menyenangkan, sampai aku lupa bahwa kenyataan tentangmu begitu menyakitkan."

"Boleh saja kita tak bertatap dan tak bercakap, menjauh dan melupa agar tidak saling menyakiti. Jadilah aku hanya bisa berharap kepadaNya, karena aku ingin tetap dekat dengamu di dalamNya."

"Seandainya aku tidak mengenalmu dari dulu, mungkin aku tidak akan tahu rasanya bertahan seperti batu karang di lautan. Diterpa ombak, angin, badai pun aku tetap bergeming menunggumu sadar akan segera menabrak, karena kamu melihat kejauhan dan lupa sekeliling."

"Kadang ku gantung kamu di langit - langit kamarku, supaya aku bisa melihat dan meraihmu kapan saja. Sayangnya aku terlalu jauh menggantungmu sampai ke bintang di langit."

"Aku seakan meminum pemanis buatan setiap kali ku ingat kenangan kita, begitu manis di bibir namun pahit di tenggorokan bahkan air tawar pun tak mempan menjadi penawar."

"Kamu rusakkan apa yang ku andai, dan kau injak semua yang ku harap. Tanpa menyadari bahwa dalam andai dan harap yang ku ucap berisikan kamu yang lebih baik."

"Bisa saja kita hanya menghabiskan waktu selama 147 menit, yang bagiku serasa 147 tahun waktu terlewat bersamamu. Iya, terkadang kata bolehlah dilebihkan untuk mengandaikanmu karena tak ada apapun di dunia ini yang melebihimu."

"Biarkan aku milikmu dalam kata yang kutulis. Karena dalam kata yang kita suarakan saat berjumpa, tak akan kutemui kata bahwa aku milikmu."

"Koreksi diri untuk harapan yang baik, tuturkan kata yang baik, dan menyusun kepingan masa depan yang baik."

"Umur yang bertambah tak memastikan kedewasaan. Tapi kata yang terucap dari cocotmu, langkah yang dipilih sikilmu, dan perbuatan yang dilakukan jemarimu membuktikan kata orang tentang kedewasaan."

"Jika bingung, haruslah kita bertanya. Kita saling bertanya memang, tapi tetap saja masih ada pertanyaan yang terselip di hati yang terus membuat gundah karena jawabannya tidak pasti."

"Tapi, sayang, semua akan berubah apabila kamu peduli padaku seperti bunga yang mekar di padang gersang."

"Aktor, pengusaha, guru bahkan pahlawan tumbuh dalam didikan keluarga yang benar. Lupakah kamu bahwa koruptor, maling, dan pengecut juga tumbuh dalam didikan keluarga yang benar? Tergantung bagaimana keluarga tersebut tetap mengamalkan didikan itu seiring tumbuhnya anak."

"Aku hanya ingin, kamu berandai tentangku, bermimpi tentangku dalam keliaran cara berpikirmu. Sekali saja dalam hidupku, aku hanya ingin jadi sedikit orang yang mampu merasuki pikiran gilamu, dan mencairkan hati bekumu."

"Jika sedihmu kau berikan padaku, lantas senangmu mengapa kau berikan kepada dia? Memangnya dia mau menerima sedihmu? Dia hanya ingin kau beri jubah gula manis, bukan ampas kopi. Sedang aku? Bahkan kalau kau racuni aku, mungkin aku terima karena itu pemberianmu."

"Tetap saja, dalam setiap doaku terselip kamu. Walaupun aku belum tentu kau selipkan dalam setiap doa mu."

"Sewaktu memulai sesuatu mungkin kita lupa sesuatu sehingga gagal. Dan sesuatu itu adalah memanjatkan doa."

"Biar saja rasaku ini luruh bersama kataku. Sampai tak terasa lagi sisa rasa yang setiap kupandang potret kita membuatku jantungku berdegup."

"biarkan aku ada dalam dekapmu bersama bau tubuh dan tembakaumu karena di dalamnya, aku merasa damai tanpa khawatir apapun."

"tak ada kata sayang terucap di antara kita, sayang. Tapi, perbuatan sayangmu itu tak bisa membohongi kata-kata yang tak sampai itu."

"Biarkan aku milikmu malam ini. Karena, dalam pagi dan siang, takkan kutemui kita yang begitu akrab. Matahari membuat kita terasing."

"Meski tanpa kata-kata, kamu tahu aku peduli padamu, sayang. Lewat perilaku sederhanamu, tatapanmu, sentuhanmu, aku tahu-aku tahu."

‘Kata - kata diatas ini multitafsir, karena pribadi kita unik, perspektif kita berbeda, dan pikiran (juga hati) tak bisa diprediksi.’ Ga nyangka bisa bikin ginian. Ada beberapa yang udah lama ada juga yang baru. Sebagian besar sih baru. Haha. Ya, sepotong - sepotong sih, emang.... Yaudahlahyaaa. Sekali sekali bikin ginian juga gapapalahyaaaa.