10 Jan 2016

Putri Duyung Terakhir


Woiiiiii. muncul lagi nih. Gue mau kasih tulisan lama gue. Iya dulu sempet bikin cerpen gitu, buat pelatihan menulis Agenda18. Tapi aneh juga kalo dibaca lagi, haha. yaudela, enjoy reading deh!


Putri Duyung Terakhir


Menurut legenda, aku akan menjadi buih jika aku membongkar indentitasku atau jika ada seseorang yang melihatku. Dan benar, aku menjadi buih. Seorang manusia telah melihatku.

                                                                                                ***

                Aku sudah terbiasa tinggal disini. Aku tidak mau kembali lagi ke tempat itu. Tempat itu sudah hancur sebelum aku meninggalkanya. Selama aku tidak terkena air, aku baik – baik saja dan identitasku tidak akan terbongkar. Sejujurnya aku rindu tempat itu dan aku tahu risiko tinggal di tempat ini, tetapi aku tidak peduli. Aku hanya pergi ke tempat itu saat orang lain sedang sibuk dan tidak menyadari kebedaraanku.

                Saat ini aku menjejakkan kakiku di tempat itu. Sebatas daerah yang kering karena disini masih bagaikan lautan manusia. Setelah orang – orang itu pergi, kurang lebih tengah malam aku mulai pergi ke tempatku. Aku terus mengarungi daerah basah yang disebut oleh semua orang laut. Aku terus mencari tempatku bertengger untuk mengalunkan sebuah nada. Aku mencari tempat dimana semua orang sekiranya tak mungkin melihatku. Aku naik ke sebuah batu besar, duduk di sana dan mengalunkan nada yang sudah mulai kulupakan.

                Sebenarnya, aku tahu kalau dimalam hari sering ada penangkap teman – temanku yang lewat, tetapi apa peduliku? Mungkin, mereka juga sudah tidak ingat denganku. Aku mulai turun dari tempatku dan mencari rumahku yang dahulu. Semuanya berubah, teman – temanku tak lagi mau menyapaku.

Tiba – tiba ada seorang sahabat lamaku berlari ke arahku, menatapku dengan tatapan kekecewaan yang tak sanggup kulihat, dan dia mulai berkata – kata kepadaku dengan air mata, “Mengapa setelah selama ini kau baru kembali lagi? Apa kau sudah tidak peduli pada kami? Sejak kau meninggalkan kami, tempat ini begitu kacau. Dan semua keluarga dan saudara – saudaramu tidak ada satupun yang masih hidup. Mereka semua berubah menjadi buih, karena para manusia sudah menemukan tempat tinggal duyung. Dan rumahmu, sudah dihancurkan dan diubah menjadi sebuah tempat aneh yang sering dikunjungi manusia untuk kegiatan yang mereka sebut wisata di bawah laut.”

                Aku menelan semua perkataan sahabat kecilku itu. Dengan meneteskan air mata pula aku memeluknya. “Aku tidak penah bermaksud begitu, sahabat kecilku. Aku tidak ingin mengingat lagi kenangan buruk yang sudah terjadi di tempat ini. Aku tidak ingin membuat kalian semua sedih, karena aku tidak kembali kemari. Tetapi percayalah aku selalu ada di hati kalian masing – masing, kawan.”

Aku tidak kuat menahan semua air mataku yang sudah lama kupendam. Aku telah meninggalkan tempat ini sejak tempat ini mengalami bencana. Bencana akibat racun yang diberikan manusia yang menginginkan kami untuk di teliti. Entah mereka membuat racun memakai bahan apa,yang jelas aku melihat saudaraku mulai kaku, padahal ibuku sudah menceritakan tentang legenda itu, tetapi manusia memang tidak pernah habis akal untuk mengincar kami. Ibuku menyuruhku untuk pergi sejauh – jauhnya dari rumahku. Aku menurutinya dan pergi, aku tidak pernah tahu apa pun yang terjadi setelahnya karena aku sudah naik ke daratan. Sejak itu siripku berubah menjadi kaki. Dan akan kembali menjadi sirip bila terkena air. Aku mulai tinggal di daratan, di dunia manusia. Dan dari tempat ini aku banyak mendengar tentang diriku termasuk legenda dan mitos tentangku. Aku juga banyak melihat banyak orang yang tidak percaya akan keberadaanku. Ya apapun kata mereka yang jelas aku sekarang ada di tengah – tengah mereka, dan berwujud seperti mereka.

                                                                                                ***

                Setelah berpamitan, aku mulai meninggalkan spesies laut unik, kecil, dan bercorak mencolok, ya, ikan badut itu yang bisa disebut sahabatku kecilku itu. Aku cepat – cepat naik kedaratan sebelum ada seseorang yang melihatku. Tetapi gerakan siripku kurang cepat dan ada seseorang yang melihatku dan aku pun mulai berubah sedikit – sedikit menjadi butiran buih dan terbang dibawa angin malam. Keturunan terakhir dari keluargaku adalah aku, dan aku tidak berhasil menyelamatkan keturunanku. Aku malahan membuat keturunanku punah. Tidak, tidak ada lagi duyung yang hidup, mereka semua telah berubah menjadi buih. 
The End.
  
Ntar kapan - kapan kalo iseng mau nulis cerpen lagi, ah!