27 Sep 2021

Pelajaran dari Ketidakberuntungan

Setiap perjalanan hidup, seseorang tentu tidak diberikan jalan yang mulus. Memang, kadang tidak diberi tantangan berat dan terlihat sepele bagi sebagian orang. Begitu pula saya. Memasuki dunia kerja memang tidak mudah. Tantangan terberat memang kecerobohan diri.

Saya memang mengakui bahwa saya orang yang ceroboh. Bukan dalam hal pekerjaan, Kecerobohan saya ini dari bagaimana saya menempatkan fisik saya. Ya, kesandung, terpeleset, dan jatuh adalah hal yang biasa bagi saya. Kalau lihat saya memar dan luka di tungkai bawah dan lutut, coba tanya saja, “habis jatuh ya?” atau “kepentok apa lagi?”

Secara fisik, kecerobohan itu tidak berakhir di masa kanak-kanak. Hingga usia awal 20-an ini, saya masih mengalaminya, bahkan di hari awal kerja yang belum genap 20 hari. Biasanya tidak saya catat, tapi karena ini ada kecerobohan alias ketidakberuntungan beruntun, saya kebetulan mencatatnya.

Hari-13: Kehilangan pulpen (ya, ini kecerobohan lain, selain fisik)
Hari-14: Nyolong pulpen orang, terus hilang juga pulpennya
Hari-15: Kesandung karpet WC, hampir jatoh, alias malu banget karena itu depan mushola
Hari-16: Salah naik bis, Salah subject email

Setelah, dilihat kembali, kecerobohannya gak hanya fisik ya, haha. Teledor meletakkan barang dan tidak teliti memperhatikan nomor koridor angkutan umum alias bis ke arah kantor. Selain itu, kecerobohan di pekerjaan pun ada, meski sepele sekali. Tetapi, tetap saja, saya malu karena salah subject email ini membuat saya menjadi bahan tertawaan divisi lain di kantor.

Terkadang, kecerobohan yang bisa diantisipasi kedepannya membuat saya ingat untuk lebih berhati-hati dalam melakukan sesuatu itu. Tetapi, kepentok, kesandung, kepeleset, hingga terjatuh yang tidak disengaja, kecerobohan ini sulit saya antisipasi. Sekalipun saya berhati-hati, terkadang, kaki saya menginjak pijakan yang salah tanpa saya sadari. Kalau hanya kesandung, saya masih bisa berusaha menyeimbangkan diri. Kalau keseimbangan itu hilang, saya sudah tidak punya antisipasi lain, kecuali berpasrah akan keadaan.

Kembali mengarah pada judul tulisan ini, ketidakberuntungan yang beruntun ini membuat saya melihat dan memetik pelajaran atasnya. Saya jadi lebih berhati-hati. Walaupun berhati-hati dalam bertindak saja tidak cukup, kadang, hidup memberi sesuatu yang tidak dapat diduga. Tidak ada cukup mitigasi dan antiisipasi yang terlintas, sehingga kita cukup memasrahkan diri pada keadaan yang tak terduga itu.

Tetapi, memasrahkan diri tidak sama dengan tidak berdaya untuk melakukan sesuatu.

Saat kita berpasrah dan melepas semua ego dalam diri, saat itu pula, kita bisa berpikir dan bertindak untuk keluar dari situasi yang tak terduga itu. Kita bahkan bisa memikirkan cara untuk melampaui batas diri kita itu.

 Memangnya, menyeimbangkan diri saat tersandung keras itu mudah? Sepele memang. Tapi, kalau dilihat secara luas, saya jadi mendapat hikmah bahwa tidak apa tersandung keras dan jatuh, asalkan saya dapat mengetahui cara untuk melompat kembali lebih tinggi dan seimbang.

WKWK. Sekian, refleksi diri dari kecerobohan minggu lalu. Sampai bertemu minggu depan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar