Disclaimer: tulisan ini dibuat sekitar minggu panggilan 2021. April. Sayang dibuang refleksi ini.
Memasuki minggu panggilan, para suster, bruder, dan rama berbondong-bondong mempromosikan kongregasinya. Hal ini juga dilakukan oleh setiap seksi panggilan pada paroki dan Gereja. Sebelum pandemi, saya melihat promosi minggu panggilan justru ‘menggunakan’ anak-anak.
Anak-anak melakukan perarakan memasuki
gereja untuk memulai Ekaristi minggu panggilan dengan berdandan menjadi Uskup,
Suster, dan Bruder. Namun, saya melihat ketiga orang yang saya dengar hasil
wawancaranya ini tidak menemukan panggilannya pada masa kanak-kanak.
Salah satu suster menemukan
panggilannya di masa SMA dan kuliah. Ia bahkan diminta bekerja terlebih dahulu
oleh ibunya sebelum direstui untuk hidup membiara. Seorang Bruder menemukan
panggilannya sewaktu SMA karena ia terlahir dengan keluarga dengan berbagai
keyakinan. Ia pernah menjalani hidup sebagai seorang muslim semasa kanak-kanak.
Seorang Rama menemukan panggilannya saat masa sekolahnya karena ia ingin
mendalami ilmu agama. Ia tidak ingin agama menjadi sebuah perpecahan, tetapi
hal yang menyatukan banyak orang.
Tantangan yang dialami setiap
orang ini berbeda karena latar belakang keluarganya. Ada yang terbentur orang
tua dan menuntutnya untuk menyelesaikan kuliah dan bekerja terlebih dahulu. Ada
anak bungsu yang keinginan masuk biara didukung oleh keluarga. Namun,
keluarganya tidak memahami apa dan bagaimana menjadi seorang terpanggil itu
sehingga memunculkan pertanyaan, “Pasangannya mana?” setiap berkunjung dengan
keluarga. Ada pula yang merasa hidup panggilannya lurus dan mulus saja.
Saya menyaksikan wawancara ketiga
orang terpanggil ini karena saya duduk di belakang layar dan menyunting hasil
rekaman video mereka. Memangnya apa yang saya dapat hanya dari melihat video?
Banyak. Ada yang tidak percaya diri sebelum diwawancara. Ada yang
sebentar-sebentar minta dipotong jawabannya. Ada pula yang santai saja,
sekalipun mengulang wawancaranya lagi, tidak apa-apa.
Melalui jawaban yang minta
dipotong inilah, saya melihat tiga orang yang terpanggil ini secara nyata. Off the record, bahasa jurnalistiknya. Saya
melihat sisi manusia dan bagaimana mereka menjaga panggilannya melalui itu.
Sayang, ia meminta bagian itu dihilangkan. Ia merasa bagian itu membuat orang
ragu untuk masuk ke biara.
Padahal, saya rasa setiap umat Katolik atau bahkan setiap orang perlu tahu apa yang dihadapi dan dirasakan
orang yang terpanggil secara gamblang karena dunia mereka mungkin sempit dan
terbatas. Mereka memang bisa mendalami ilmu agamanya secara penuh, tetapi
mereka juga kehilangan teman dan keluarga di sepanjang membaktikan dirinya. Ini
yang perlu setiap umat ketahui.
Cara setiap terpanggil menghadapi
pergumulannya. Misalnya, kerinduan untuk bertemu keluarga saat ditugaskan di
tempat yang jauh, mengakrabkan diri dengan sesama rekan se-biara, hingga
menghadapi kesepiannya. Hal ini justru dapat membuka simpati orang untuk datang
ke biara ‘menilik’ para Suster, Bruder, dan Rama.
Memang, tidak bisa selalu
melakukan kunjungan, terutama di masa pandemi ini. Tetapi, hal sederhana
seperti menyapa dan menemani beberapa menit sudah bisa mengobati rasa sepi
mereka. Sepi adalah konsekuensi dari panggilan mereka. Para terpanggil bergumul
dengan masalahnya sendiri dalam diam dan hidup bakti mereka pada Tuhan.
Mempromosikan hidup panggilan
adalah kesempatan untuk menyampaikan pergumulan itu dengan sukacita. Tidak
harus melulu menyampaikan hal baik dari hidup membiara. Tetapi, para terpanggil
ini dapat menyampaikan kisah pembiaraannya dengan jujur dan tulus sehingga
setiap pesan panggilan dapat tersalur dengan baik dalam hati setiap orang.
Tetap semangat menjalani hidup bakti, ya, Suster, Bruder, dan Rama!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar