23 Okt 2021

Yaaaa... "Namanya juga Manusia"

Kayaknya selama kerja, minggu lalu paling banyak kelewatnya. Inginnya sih, mencari-cari alasan atas kelalaian ini, dan memang ada yang bilang kalau memaklumi ‘skip’nya saya minggu lalu. Tapi, tetap saja, ini saya yang salah. WKWKKW. maaf ya gaes.

 

Dulu, saya dan teman pernah mendiskusikan perihal pemakluman atas perilaku buruk atau ceroboh manusia. Ini diawali dengan frasa, “namanya juga manusia”. Seseorang cenderung menggunakan kalimat itu untuk, secara tidak langsung, meminta orang memaklumi bahwa ia tidak sempurna dan bisa salah.

 

Ya, memang kesempurnaan hanya milik yang Kuasa. Kita hanya kumpulan manusia yang tidak sempurna.

 

Tapi, bukan berarti itu alasan bagi seseorang untuk membuat pemakluman diri atas kelalaian atau kecerobohannya. Saya tahu, dalam postingan beberapa minggu lalu, saya dengan angkuhnya bilang, ‘bukan dalam hal pekerjaan’, bahwa saya ceroboh. Tapi, ternyata, ada juga cerobohnya di minggu lalu.

 

Padahal, minggu itu adalah minggu kedua, dua episode tayang perdana. Untungnya sih memang gaada masalah, tapi kan jadi nambah kerjaan orang lain, yang harusnya saya sudah siapkan. Ya memang sudah disiapkan sih, hanya lupa ditaruh ke project yang dikerjakan.

 

Mau dibilang sudah dimaklumi, tetap saja, perasaan bahwa saya melalaikan tanggung jawab di minggu lalu itu tidak hilang. Hehehehe. Rasanya pingin minta maaf terus, yang saya juga tahu jawabannya gak apa-apa.

 

Di luar skip di kerja, banyak banget skip ketinggalan barang. Yang gini gini, saya jadi ngerepotin orang buat dititipin. Makasi ya, rangorang yang saya titip-titipin. Sekali, dua kali, mungkin gak apa, kalau berkali-kali, bisa saja mereka jengah dengan perilaku saya.

 

Semoga saya, jiwa-jiwa baik itu tetap ada ya. HEHE.

 

Ya kembali lagi, pada diskusi saya dan teman saya perihal “namanya juga manusia”. Pemakluman itu memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Tapi, kami berpikir bahwa tidak baik kalau frasa itu digunakan untuk pemakluman sifat buruk seseorang. Ada yang namanya usaha untuk memperbaiki diri, baik secara perilaku maupun kesalahan yang dilakukan.

 

Tidak. Saya tidak perlu menggurui siapapun yang hendak menggunakan frasa itu sebagai pemakluman atas tindakan buruknya. Namun, ada baiknya mengakui dan meminta maa kalau ada perilaku yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tersinggung. Tentu saja, setelahnya, kita harus memperbaiki diri agar tidak perlu mengeluarkan jurus “yaah, namanya juga manusia”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar