1 Apr 2020

Refleksi Dini Hari Bumi


Memperingati hari bumi (22 April), saya mencoba mengajak merefleksikan isu lingkungan ini melalui tulisan.

bentuk-bentuk mikroplastik

Bumi, dimana saat ini kita tinggali, adalah tempat bernaung berbagai makhluk hidup. Makhluk hidup tentunya perlu habitat untuk hidup. Habitat yang terlintas dalam benak kita pastilah alam liar dimana flora dan fauna hidup dan berkembang. Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara geografi dan geologi, habitat berarti tempat kediaman atau kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia dengan kondisi tertentu pada permukaan bumi. Pengertian ini menegaskan bahwasannya habitat adalah milik seluruh makhluk hidup di bumi, bukan hanya hutan dan laut.
                Manusia, yang menurut alkitab ditunjuk, sebagai penguasa ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang merayap di bumi, serta tumbuh-tumbuhan berbiji, ternyata belum dapat sebijak yang diharap oleh Sang Pencipta dalam memelihara habitatnya. Manusia menelan mentah-mentah kata taklukanlah dan penuhilah bumi, sehingga terjadilah di tahun ini 7,7 miliar orang berdesakan mengisi lahan di bumi.
Orang-orang ini tentunya memerlukan kebutuhan dasar hidup, sandang, pangan, dan papan. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini bagi seluruh umat menusia ternyata tidak seimbang. Manusia melakukan inovasi dan eksploitasi terhadap habitat makhluk lain guna memenuhi kepuasan dirinya. Kepuasan yang tentunya tidak akan pernah di dapat oleh manusia, selalu meminta lebih dan lebih.
Dalam memenuhi kepuasan itu, praktis menjadi jalan yang efektif, menurut manusia. Banyak teknologi yang dikembangkan manusia untuk mendukung hal tersebut. Dengan dalih kepraktisan tadi, plastik dan semua produk tidak sustain lainnya bertambah banyak. Berita tentang paus di Wakatobi yang mati karena menelan banyak sampah seharusnya menjadi tanda darurat sampah plastik.
Membosankan memang, ada orang yang membahas plastik melulu kemudian dibilang sebagai SJW atau social justice warrior. Lah kenyataannya, memang semakin banyak gaya hidup fancy berplastik ria. Mulai dari kopi susu, botol Air Minum dalam Kemasan (AMDK) yang modelnya unik, sheet mask yang sekali pakai buang, dan delivery food yang semakin dimudahkan karena adanya ojek online.
Plastik, sudah menjadi masalah, mulai dari ukuran yang terlihat maupun yang disepelekan alias mikro. Pada laman resmi oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mikroplastik dijelaskan sebagai zat plastik yang berukuran sangat kecil, bahkan tak lebih dari mikron. Dalam artikel yang sama, mikroplastik ini, salah satunya, terbuat dari polimer dan turunannya, yang berarti dari kantong plastik yang berubah menjadi partikel kecil tetapi tidak terurai.
Efek dari itu, jelas sudah terlihat, hewan yang memakan plastik yang dikira sebagai makanannya baik ukuran besar maupun mikro ditemukan terdampai di pantai, mati, tersangkut plastik, dan lain sebagainya. Oke, kita sebagai manusia, tidak munkin secara sadar memakan gelas plastik habis minum kpisusu fancy itu, dong. Tapi, bagaimana dengan mikroplastik?
Ukuran yang sangat kecil membuat ikan menganggap partikel mikroplastik itu adalah plankton atau entitas kecil lainnya. Lalu, ikan memakan partikel tersebut. Dampaknya untuk hewan tentunya tidak bisa tercerna dengan baik oleh ikan, atau pun hewan lain yang kita konsumsi apabila bukan vegan atau vegetarian. Kalau sudah dikeluarkan oleh hewan melalui buangannya, kita selamat. Kalau tidak, tentu bisa termakan juga ke tubuh kita.
Plastik dalam bentuk partikel kecil ini, masuk ke tubuh tidak hanya melalui hewan yang kita konsumsi. Mikroplastik juga terkandung dalam cairan dan kita tidak menyadari saat meneguknya. Dalam investigasi TEMPO (diterbitkan pada maret 2018) hasil penelitian Global State University of New York yang didukung oleh Orb Media, organisasi media nirlaba di Amerika Serikat, menunjukan bahwa AMDK yang beredar luas ternyata mengandung mikroplastik.

peneliti memeriksa air minum dalam kemasan

Tempo juga bekerjasama dengan laboratorium FMIPA- Universitas Indonesia (UI), dan memeriksa juga kandungan mikroplastik dalam beberapa AMDK produksi dan yang beredar luas di dalam negeri. Ternyata, sampel AMDK yang ada di Jakarta, Medan, dan Denpasar mengandung mikropastik dengan kisaran antara 6-247 mikrometer. Kita ternyata mengonsumsi dan meneguk plastik tanpa kita menyadarinya. Lantas, apa dampaknya pada tubuh makhluk hidup yang tidak sengaja mengonsumsinya?
Dalam riset yang dilakukan oleh LIPI ditemukan adanya tumor yang dialami oleh hewan yang mengonsumsi mikroplastik. Hal ini berarti ada kemungkinan bahwa bisa berakibat buruk untuk hewan dan tumbuhan yang ada di suatu tempat. Reza Cordova yang meneliti mikroplastik ini menyatakan bahwa dapat berdampak pada manusia. Kesehatan manusia yang paling terkena dampak pertama adalah pencernaan.
Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia, menjelaskan dalam artikel di lamannya, mikroplastik bisa membawa mikroorganisme pathogen. Mikroorganisme ini bisa menyerang saluran pencernaan dan bisa merusak peredaran darah serta infeksi pada bagian lain. Artikel ini diterbitkan pada juni 2018. Pada bulan-bulan berikutnya muncul artikel-artikel yang membahas bagaimana dampaknya pada tubuh manusia.
Secara alami, manusia memang mengeluarkan benda yang tidak tercerna keluar dari tubuh. Namun, pecahan mikroplastik ini ternyata tidak seluruhnya ikut keluar bersama dengan kotoran, tetapi masih ada yang tertinggal di usus. Mikroplastik ini dapat merobek usus atau lambung karena tidak bsia tercerna dengan baik. Parahnya kalau masuk ke dalam sel darah, bisa mengganggu sistem saraf pusat. Hal ini dijelaskan Reza, dalam theconversation.id.
Ahli Toksikolog UI Budiawan, dalam investigasi TEMPO, menjelaskan bahwa partikel yang sama atau lebih kecil dari sel manusia bisa berpotensi membahayakan karena misa diserap dan masuk ke dalam darah. Sel darah merah sendiri memiliki diameter sekitar 8 mikrometer. Ia juga mengatakan bahwa dapat mempengaruhi kerja ginjal dan hati.
Merujuk pada penelitian pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel itu terhadap plankton di perairan bebas yang tercemar, Ahli Nutrisi Tan Shot Yen mengatakan bahwa semakin kecil partikelnya akan semakin mudah diserap sel tubuh. Menurutnya, ada dampak bahaya terburuk tentang gangguan pertumbuhan dan reproduksi.
Mikroplastik memang masih menjadi bahaya yang akan selalu ada selama konsumsi plastik di masyarakat tinggi. Sampah secara umum, baik plastik maupun bukan, sudah merupakan permasalahan dunia dari segi pengelolaan. Dalam Statistik Lingkungan Hidup Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, timbulan sampah di Indonesia mencapai 65,2 juta ton per tahun. Walau sudah ada data bagaimana dampaknya, lagi-lagi manusia dengan gaya hidupnya, sangat sulit mengurangi sampah yang dihasilkannya.
Siapa coba yang bisa menolak tren kopi susu dan bubble tea? Sebenarnya beberapa produk sudah mengingatkan, bahkan memberi diskon kalau membeli menggunakan tumbler atau botol minum yang kita bawa. Lalu muncul komentar, “kan, jadi enggak bisa difoto buat ig.” Ah, manusia idak akan ada puasnya.
Solusinya, gerakan 3R, Reduce-Reuse-Recycle, mulai kembali digaungkan. Kita harus mengurangi (Reduce) pembelian bareng tidak perlu, pemakaian benda yang tidak diperlukan dan lainnya. Lalu, kita bisa menggunakan kembali (Reuse) barang berulang kali sampai ia tidak bisa dipakai lagi dan rusak. Kemudian, kita bisa memanfaatkan kembali (Recycle) barang yang ada sehingga menjadi kreasi baru atau bentuk bagi dan dipergunakan lagi. Kelemahan dari solusi ini adalah masih menghasilkan sampah. Benda yang sudah di recycle tentu akan berakhir menjadi sampah apabila dimanfaatkan menjadi hal yang kurang berguna.
Ide lain muncul dan mulai dicoba untuk menjadi gaya hidup baru, yaitu zero waste atau gaya hidup tanpa sampah. Gaya hidup ini diinisiasi secara individu oleh beberapa orang. Gerakan ini juga mulai disuarakan oleh aktivis lingkungan. Pada awal tahun 2018, saya mengikuti kelas zero waste yang dilakukan oleh Siska Nirmala, mantan Jurnalis Pikiran Rakyat, yang merupakan salah satu individu yang sudah menerapkan gaya hidup tanpa sampah ini dalam perjalanan petualangannya dan kehidupannya sehari-hari.

Siska dalam menjelaskan barang bawaannya saat zero waste adventurenya.

Siska menyuarakan gaya hidup tanpa sampahnya itu melalui buku Zero Waste Adventure dan instagramnya @zerowasteadventure. Siska banyak berbagi bagaimana pengalamannya mengubah gaya hidupnya secara bertahap untuk mengurangi sampah sama sekali dari tahun 2013. Bagaimana ia mengurangi jajan di minimarket dan berhenti makan mi instan selama tujuh tahun belakangan ini. Ia membeli minyak dengan jerigen, dan mengubah juga cara memasaknya dengan tidak melakukan deep fry, untuk mengurangi minyak jelantah.
                Dalam mengurangi plastik dan kemasan sekali pakai, Siska menyarankan untuk membawa tempat makan dan reusable bottle. Bila harus membungkus makanan dan bawa pulang, bawa saja tempat makan sendiri. Penggunaan kantong plastik di pasar dan selama belanja, ia siasati dengan membawa kantong jaring serta membawa tas belanja sendiri. Memang butuh perjuangan dan konsisten, juga harus mengingatkan berkali-kali ke pedagang agar tidak menaruh belanjaan dan makanan miliknya dalam kemasan plastik.
                Siska juga menjelaskan bahwa memulai gaya hidup tanpa sampah ini bisa dilakukan dari hal yang dianggap mudah. Kalau yang dianggap mudah membawa reusable bottle, harus konsisten bawa itu terus dan usahakan tidak beli minuman dalam kemasan. Konsisten dalam upaya mengurangi sampah ini perlu dilakukan dari diri sendiri dahulu. Dari langkah kecil yang konsisten kita lakukan, kita bisa mendorong orang lain untuk bisa mengikuti apa yang kita lakukan. Kalau kata Siska, “Jangan berpikir untuk mengubah dunia, kalo belum bisa mengubah diri sendiri.” Jadi, apa usaha kalian mengurangi mikroplastik yang perlahan menggerogoti kesehatan kita?




Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar