Memperingati hari bumi (22 April),
saya mencoba mengajak merefleksikan isu lingkungan ini melalui tulisan.
![]() |
| bentuk-bentuk mikroplastik |
Bumi, dimana
saat ini kita tinggali, adalah tempat bernaung berbagai makhluk hidup. Makhluk
hidup tentunya perlu habitat untuk hidup. Habitat yang terlintas dalam benak
kita pastilah alam liar dimana flora dan fauna hidup dan berkembang. Merujuk
pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, secara geografi dan geologi, habitat berarti
tempat kediaman atau kehidupan tumbuhan, hewan, dan manusia dengan kondisi tertentu
pada permukaan bumi. Pengertian ini menegaskan bahwasannya habitat adalah milik
seluruh makhluk hidup di bumi, bukan hanya hutan dan laut.
Manusia,
yang menurut alkitab ditunjuk, sebagai penguasa ikan-ikan di laut dan
burung-burung di udara dan atas segala binatang merayap di bumi, serta
tumbuh-tumbuhan berbiji, ternyata belum dapat sebijak yang diharap oleh Sang
Pencipta dalam memelihara habitatnya. Manusia menelan mentah-mentah kata
taklukanlah dan penuhilah bumi, sehingga terjadilah di tahun ini 7,7 miliar
orang berdesakan mengisi lahan di bumi.
Orang-orang
ini tentunya memerlukan kebutuhan dasar hidup, sandang, pangan, dan papan.
Keinginan untuk memenuhi kebutuhan ini bagi seluruh umat menusia ternyata tidak
seimbang. Manusia melakukan inovasi dan eksploitasi terhadap habitat makhluk
lain guna memenuhi kepuasan dirinya. Kepuasan yang tentunya tidak akan pernah
di dapat oleh manusia, selalu meminta lebih dan lebih.
Dalam memenuhi
kepuasan itu, praktis menjadi jalan yang efektif, menurut manusia. Banyak
teknologi yang dikembangkan manusia untuk mendukung hal tersebut. Dengan dalih kepraktisan
tadi, plastik dan semua produk tidak sustain
lainnya bertambah banyak. Berita tentang paus di Wakatobi yang mati karena
menelan banyak sampah seharusnya menjadi tanda darurat sampah plastik.
Membosankan
memang, ada orang yang membahas plastik melulu kemudian dibilang sebagai SJW
atau social justice warrior. Lah
kenyataannya, memang semakin banyak gaya hidup fancy berplastik ria. Mulai dari
kopi susu, botol Air Minum dalam Kemasan (AMDK) yang modelnya unik, sheet mask
yang sekali pakai buang, dan delivery
food yang semakin dimudahkan karena adanya ojek online.
Plastik, sudah
menjadi masalah, mulai dari ukuran yang terlihat maupun yang disepelekan alias
mikro. Pada laman resmi oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
mikroplastik dijelaskan sebagai zat plastik yang berukuran sangat kecil, bahkan
tak lebih dari mikron. Dalam artikel yang sama, mikroplastik ini, salah
satunya, terbuat dari polimer dan turunannya, yang berarti dari kantong plastik
yang berubah menjadi partikel kecil tetapi tidak terurai.
Efek dari itu,
jelas sudah terlihat, hewan yang memakan plastik yang dikira sebagai makanannya
baik ukuran besar maupun mikro ditemukan terdampai di pantai, mati, tersangkut
plastik, dan lain sebagainya. Oke, kita sebagai manusia, tidak munkin secara
sadar memakan gelas plastik habis minum kpisusu fancy itu, dong. Tapi,
bagaimana dengan mikroplastik?
Ukuran yang
sangat kecil membuat ikan menganggap partikel mikroplastik itu adalah plankton
atau entitas kecil lainnya. Lalu, ikan memakan partikel tersebut. Dampaknya
untuk hewan tentunya tidak bisa tercerna dengan baik oleh ikan, atau pun hewan
lain yang kita konsumsi apabila bukan vegan atau vegetarian. Kalau sudah
dikeluarkan oleh hewan melalui buangannya, kita selamat. Kalau tidak, tentu
bisa termakan juga ke tubuh kita.
Plastik dalam
bentuk partikel kecil ini, masuk ke tubuh tidak hanya melalui hewan yang kita
konsumsi. Mikroplastik juga terkandung dalam cairan dan kita tidak menyadari
saat meneguknya. Dalam investigasi TEMPO (diterbitkan pada maret 2018) hasil
penelitian Global State University of New York yang didukung oleh Orb Media,
organisasi media nirlaba di Amerika Serikat, menunjukan bahwa AMDK yang beredar
luas ternyata mengandung mikroplastik.
![]() |
| peneliti memeriksa air minum dalam kemasan |
Tempo juga
bekerjasama dengan laboratorium FMIPA- Universitas Indonesia (UI), dan
memeriksa juga kandungan mikroplastik dalam beberapa AMDK produksi dan yang
beredar luas di dalam negeri. Ternyata, sampel AMDK yang ada di Jakarta, Medan,
dan Denpasar mengandung mikropastik dengan kisaran antara 6-247 mikrometer.
Kita ternyata mengonsumsi dan meneguk plastik tanpa kita menyadarinya. Lantas,
apa dampaknya pada tubuh makhluk hidup yang tidak sengaja mengonsumsinya?
Dalam riset
yang dilakukan oleh LIPI ditemukan adanya tumor yang dialami oleh hewan yang
mengonsumsi mikroplastik. Hal ini berarti ada kemungkinan bahwa bisa berakibat
buruk untuk hewan dan tumbuhan yang ada di suatu tempat. Reza Cordova yang
meneliti mikroplastik ini menyatakan bahwa dapat berdampak pada manusia.
Kesehatan manusia yang paling terkena dampak pertama adalah pencernaan.
Ikatan
Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia, menjelaskan dalam artikel di lamannya,
mikroplastik bisa membawa mikroorganisme pathogen. Mikroorganisme ini bisa
menyerang saluran pencernaan dan bisa merusak peredaran darah serta infeksi
pada bagian lain. Artikel ini diterbitkan pada juni 2018. Pada bulan-bulan berikutnya
muncul artikel-artikel yang membahas bagaimana dampaknya pada tubuh manusia.
Secara alami,
manusia memang mengeluarkan benda yang tidak tercerna keluar dari tubuh. Namun,
pecahan mikroplastik ini ternyata tidak seluruhnya ikut keluar bersama dengan
kotoran, tetapi masih ada yang tertinggal di usus. Mikroplastik ini dapat merobek
usus atau lambung karena tidak bsia tercerna dengan baik. Parahnya kalau masuk
ke dalam sel darah, bisa mengganggu sistem saraf pusat. Hal ini dijelaskan
Reza, dalam theconversation.id.
Ahli
Toksikolog UI Budiawan, dalam investigasi TEMPO, menjelaskan bahwa partikel
yang sama atau lebih kecil dari sel manusia bisa berpotensi membahayakan karena
misa diserap dan masuk ke dalam darah. Sel darah merah sendiri memiliki
diameter sekitar 8 mikrometer. Ia juga mengatakan bahwa dapat mempengaruhi
kerja ginjal dan hati.
Merujuk pada penelitian
pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel
itu terhadap plankton di perairan bebas yang tercemar, Ahli Nutrisi Tan Shot
Yen mengatakan bahwa semakin kecil partikelnya akan semakin mudah diserap sel
tubuh. Menurutnya, ada dampak bahaya terburuk tentang gangguan pertumbuhan dan
reproduksi.
Mikroplastik
memang masih menjadi bahaya yang akan selalu ada selama konsumsi plastik di
masyarakat tinggi. Sampah secara umum, baik plastik maupun bukan, sudah
merupakan permasalahan dunia dari segi pengelolaan. Dalam Statistik Lingkungan
Hidup Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, timbulan sampah di Indonesia
mencapai 65,2 juta ton per tahun. Walau sudah ada data bagaimana dampaknya,
lagi-lagi manusia dengan gaya hidupnya, sangat sulit mengurangi sampah yang
dihasilkannya.
Siapa coba yang
bisa menolak tren kopi susu dan bubble tea? Sebenarnya beberapa produk sudah
mengingatkan, bahkan memberi diskon kalau membeli menggunakan tumbler atau
botol minum yang kita bawa. Lalu muncul komentar, “kan, jadi enggak bisa difoto
buat ig.” Ah, manusia idak akan ada puasnya.
Solusinya, gerakan
3R, Reduce-Reuse-Recycle, mulai kembali digaungkan. Kita harus mengurangi
(Reduce) pembelian bareng tidak perlu, pemakaian benda yang tidak diperlukan
dan lainnya. Lalu, kita bisa menggunakan kembali (Reuse) barang berulang kali
sampai ia tidak bisa dipakai lagi dan rusak. Kemudian, kita bisa memanfaatkan
kembali (Recycle) barang yang ada sehingga menjadi kreasi baru atau bentuk bagi
dan dipergunakan lagi. Kelemahan dari solusi ini adalah masih menghasilkan
sampah. Benda yang sudah di recycle tentu akan berakhir menjadi sampah apabila
dimanfaatkan menjadi hal yang kurang berguna.
Ide lain
muncul dan mulai dicoba untuk menjadi gaya hidup baru, yaitu zero waste atau
gaya hidup tanpa sampah. Gaya hidup ini diinisiasi secara individu oleh beberapa
orang. Gerakan ini juga mulai disuarakan oleh aktivis lingkungan. Pada awal
tahun 2018, saya mengikuti kelas zero waste yang dilakukan oleh Siska Nirmala, mantan
Jurnalis Pikiran Rakyat, yang merupakan salah satu individu yang sudah
menerapkan gaya hidup tanpa sampah ini dalam perjalanan petualangannya dan
kehidupannya sehari-hari.
![]() |
| Siska dalam menjelaskan barang bawaannya saat zero waste adventurenya. |
Siska
menyuarakan gaya hidup tanpa sampahnya itu melalui buku Zero Waste Adventure dan instagramnya @zerowasteadventure. Siska
banyak berbagi bagaimana pengalamannya mengubah gaya hidupnya secara bertahap
untuk mengurangi sampah sama sekali dari tahun 2013. Bagaimana ia mengurangi
jajan di minimarket dan berhenti makan mi instan selama tujuh tahun belakangan
ini. Ia membeli minyak dengan jerigen, dan mengubah juga cara memasaknya dengan
tidak melakukan deep fry, untuk
mengurangi minyak jelantah.
Dalam
mengurangi plastik dan kemasan sekali pakai, Siska menyarankan untuk membawa
tempat makan dan reusable bottle. Bila harus membungkus makanan dan bawa
pulang, bawa saja tempat makan sendiri. Penggunaan kantong plastik di pasar dan
selama belanja, ia siasati dengan membawa kantong jaring serta membawa tas
belanja sendiri. Memang butuh perjuangan dan konsisten, juga harus mengingatkan
berkali-kali ke pedagang agar tidak menaruh belanjaan dan makanan miliknya
dalam kemasan plastik.
Siska
juga menjelaskan bahwa memulai gaya hidup tanpa sampah ini bisa dilakukan dari
hal yang dianggap mudah. Kalau yang dianggap mudah membawa reusable bottle, harus konsisten bawa itu terus dan usahakan tidak beli
minuman dalam kemasan. Konsisten dalam upaya mengurangi sampah ini perlu
dilakukan dari diri sendiri dahulu. Dari langkah kecil yang konsisten kita
lakukan, kita bisa mendorong orang lain untuk bisa mengikuti apa yang kita
lakukan. Kalau kata Siska, “Jangan berpikir untuk mengubah dunia, kalo belum
bisa mengubah diri sendiri.” Jadi, apa usaha kalian mengurangi mikroplastik
yang perlahan menggerogoti kesehatan kita?
Sumber:



Tidak ada komentar:
Posting Komentar