2 Okt 2021

Experience is What Makes Who You Are Today

 new saturday, new reflections of last week.

Saya membuka tulisan dengan mengganti pepatah yang tertulis di SD saya dulu, “Experience is the best teacher”. Ya, kalau untuk kecerobohan saya ditulisan minggu lalu, pepatah ini tepat. Namun, saya rasa judul tulisan ini lebih tepat, pengalaman adalah yang membentuk dirimu hari ini.

Saat saya dibangku SD, pepatah ini dipasang dipapan dan setiap lantai. Memang sih, ada pepatah lain yang dipasang untuk memotivasi anak-anak SD yang belajar di sana. Tetapi, pepatah itu tidak sekadar dipasang, para guru pun berulang kali mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.

Ia memang guru terbaik sekaligus ‘tukang pukul’, ‘penagih hutang’, ‘sahabat’, ‘orang tua’ terbaik. Makanya saya memilih untuk menggantinya untuk judul tulisan ini. Kali ini, saya ingin merefleksikan pengalaman saya menghadapi seseorang yang ditegur oleh orang lain dengan ‘agak keras’ karena kesalahannya sendiri.

Saya memiliki berbagai pengalaman ditempa dan bertemu dengan orang yang superior dan memarahi saya dengan keras. Entah orang tua, senior, bahkan mengikuti pelatihan dengan tentara. Saat mengikuti pelatihan dengan tentara, saya berada di bangku SMP. Saat itu, saya dan teman-teman saya tentu hanya bisa mengeluh sembari menjalani hari di pelatihan yang keras. Itu merupakan kali pertama saya tidur di barak, mandi dengan menyaring air yang tercampur laron, tiarap setiap hari, dan makan dengan diburu waktu.

Teman SMP yang masuk SMA yang sama dengan saya sempat bertanya kepada saya, karena pada suatu mata pelajaran mengajukan pertanyaan itu pada masing-masing siswanya, “menurutmu, apa pengalaman hidup yang mengubah hidupmu?” Saya pun menjawab, “Ikut LDK OSIS-MPK dan pelatihan bersama tentara yang waktu itu, lho” “iya juga ya”

Pengalaman itu jelas yang terlintas pertama dihidup saya yang mengubah diri saya. Walaupun ada pengalaman lainnya, tetapi pengalaman itu membekas dalam diri saya dan membentuk sayan menjado pribadi yang lebih tangguh. Pengalaman itu mengajarkan banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup, tetapi kamu harus menghadapinya. Inilah awal saya mengenal pengalaman ‘survival’ atau bertahan hidup dalam situasi yang tidak menyenangkan.

Setelah itu, saya memiliki berbagai pengalaman organisasi yang mengharuskan saya bertemu dengan pihak yang berbeda-beda sikapnya. Saya menyadari bahwa orang memiliki cara tersendiri dalam menegur orang lain. Ada yang tegas dan keras. Ada pula yang lembut dan perlahan.

Pengalaman lain yang pernah saya jalani adalah bergabung dengan organisasi pecinta alam di masa perkuliahan. Kalau kamu mencari berita tentang ini di internet, kamu tahu betapa ngerinya ditakuti oleh berita buruk tentang organisasi ini. Tapi, saya justru tidak takut menghadapinya hingga pelantikan anggota.

Saya punya dasar pengalaman dari pelatihan tentara tadi. Saya tidak takut ‘dirancang’ untuk hidup di alam bebas yang tidak menguntungkan. Tidak hanya alam, sih, teman dan anggota yang kurang sejalan pemikirannya, tetapi harus bekerja sama, juga sering ditemui. Selain itu, kalau dari organisasi, saya juga belajar bagaimana perbedaan dalam berbicara kepada senior dan kepada teman. Ini juga termasuk dalam bagaimana menempatkan diri saat serius dan bercanda, serta mengeluh.

Pengalaman ini pun dibangun dengan saya yang pernah melakukan kerja magang di berbagai tempat. Saya melihat bagaimana seseorang bekerja dan terlibat dalam kerja di suatu perusahaan. Dari sinilah, saya melihat bahwa menghormati orang lain itu penting dalam dunia kerja. Tak hanya masalah besar dan tentang pekerjaan, tetapi juga masalah sepele seperti mengomunikasikan keperluanmu pada atasan atau rekan kerja lain, misalnya.

Pekan lalu, rekan kerja saya dari bagian lain, terkena tegur atasan. Ia ‘tidak sengaja’ mengungkap keluhannya dan ‘setengah memaksa’ untuk menggunakan tempat yang sedang digunakan bagian saya. Saat itu sedang dalam jam kerja bagian saya dan saya sedang mengerjakan sesuatu. Ia datang dan ditegur oleh atasan dan rekan kerja saya dengan ‘agak keras’.

Saya yang sedang bekerja tentu bingung harus berbuat apa karena saya sendag mengerjakan tugas saya. Tanpa kami tahu saat itu, Ia menangis. Saya, rekan, dan atasan saya baru mengetahui setelahnya, bahwa ia menangis karena teguran tadi. Entah apa alasannya yang terburu-buru ingin meminjam tempat itu, tetapi ia salah karena ‘memaksa’ dan ‘memotong’ kerja orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu sebelumnya.

Setelah itu, saya merenung dan berpikir. Kalau saya berada di posisi dia dan mendapat teguran keras, apa yang akan saya lakukan? Apa saya akan menangis juga?

Menilik kembali pengalaman saya, menangis tentu bukan hal yang akan saya lakukan. Saya tentu akan menerima bahwa saya salah karena tidak sopan dan meminta izin untuk menggunakan tempat itu setelah mereka selesai. Saya sudah ditempa dengan menyaksikan dan merasakan berbagai orang yang menegur dengan keras sehingga hal itu biasa.

Namun, baginya, itu bukanlah hal yang biasa ia dapatkan. Kita juga tidak pernah tahu ia pernah mengalami atau mungkin trauma dibentak. Yang jelas, saya tahu bahwa pengalaman saya inilah yang membentuk saya sekarang. Seseorang itu dibentuk berdasarkan tingkatan pengalaman apa yang pernah dialaminya hingga hari ini. Jadi, jangan pernah menyamakan seseorang dengan orang lain karena perbedaan pengalaman itu nyata dan sangat berpengaruh membentuk seseorang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar