new saturday, new reflections of last week.
Saya membuka tulisan dengan mengganti pepatah yang tertulis
di SD saya dulu, “Experience is the best teacher”. Ya, kalau untuk kecerobohan
saya ditulisan minggu lalu, pepatah ini tepat. Namun, saya rasa judul tulisan
ini lebih tepat, pengalaman adalah yang membentuk dirimu hari ini.
Saat saya dibangku SD, pepatah ini dipasang dipapan dan
setiap lantai. Memang sih, ada pepatah lain yang dipasang untuk memotivasi
anak-anak SD yang belajar di sana. Tetapi, pepatah itu tidak sekadar dipasang,
para guru pun berulang kali mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik.
Ia memang guru terbaik sekaligus ‘tukang pukul’, ‘penagih
hutang’, ‘sahabat’, ‘orang tua’ terbaik. Makanya saya memilih untuk
menggantinya untuk judul tulisan ini. Kali ini, saya ingin merefleksikan
pengalaman saya menghadapi seseorang yang ditegur oleh orang lain dengan ‘agak
keras’ karena kesalahannya sendiri.
Saya memiliki berbagai pengalaman ditempa dan bertemu dengan
orang yang superior dan memarahi saya dengan keras. Entah orang tua, senior,
bahkan mengikuti pelatihan dengan tentara. Saat mengikuti pelatihan dengan
tentara, saya berada di bangku SMP. Saat itu, saya dan teman-teman saya tentu
hanya bisa mengeluh sembari menjalani hari di pelatihan yang keras. Itu
merupakan kali pertama saya tidur di barak, mandi dengan menyaring air yang
tercampur laron, tiarap setiap hari, dan makan dengan diburu waktu.
Teman SMP yang masuk SMA yang sama dengan saya sempat
bertanya kepada saya, karena pada suatu mata pelajaran mengajukan pertanyaan
itu pada masing-masing siswanya, “menurutmu, apa pengalaman hidup yang mengubah
hidupmu?” Saya pun menjawab, “Ikut LDK OSIS-MPK dan pelatihan bersama tentara
yang waktu itu, lho” “iya juga ya”
Pengalaman itu jelas yang terlintas pertama dihidup saya
yang mengubah diri saya. Walaupun ada pengalaman lainnya, tetapi pengalaman itu
membekas dalam diri saya dan membentuk sayan menjado pribadi yang lebih
tangguh. Pengalaman itu mengajarkan banyak hal tidak menyenangkan dalam hidup,
tetapi kamu harus menghadapinya. Inilah awal saya mengenal pengalaman
‘survival’ atau bertahan hidup dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Setelah itu, saya memiliki berbagai pengalaman organisasi
yang mengharuskan saya bertemu dengan pihak yang berbeda-beda sikapnya. Saya
menyadari bahwa orang memiliki cara tersendiri dalam menegur orang lain. Ada
yang tegas dan keras. Ada pula yang lembut dan perlahan.
Pengalaman lain yang pernah saya jalani adalah bergabung
dengan organisasi pecinta alam di masa perkuliahan. Kalau kamu mencari berita
tentang ini di internet, kamu tahu betapa ngerinya ditakuti oleh berita buruk
tentang organisasi ini. Tapi, saya justru tidak takut menghadapinya hingga
pelantikan anggota.
Saya punya dasar pengalaman dari pelatihan tentara tadi.
Saya tidak takut ‘dirancang’ untuk hidup di alam bebas yang tidak
menguntungkan. Tidak hanya alam, sih, teman dan anggota yang kurang sejalan
pemikirannya, tetapi harus bekerja sama, juga sering ditemui. Selain itu, kalau
dari organisasi, saya juga belajar bagaimana perbedaan dalam berbicara kepada
senior dan kepada teman. Ini juga termasuk dalam bagaimana menempatkan diri
saat serius dan bercanda, serta mengeluh.
Pengalaman ini pun dibangun dengan saya yang pernah
melakukan kerja magang di berbagai tempat. Saya melihat bagaimana seseorang
bekerja dan terlibat dalam kerja di suatu perusahaan. Dari sinilah, saya
melihat bahwa menghormati orang lain itu penting dalam dunia kerja. Tak hanya
masalah besar dan tentang pekerjaan, tetapi juga masalah sepele seperti
mengomunikasikan keperluanmu pada atasan atau rekan kerja lain, misalnya.
Pekan lalu, rekan kerja saya dari bagian lain, terkena tegur
atasan. Ia ‘tidak sengaja’ mengungkap keluhannya dan ‘setengah memaksa’ untuk
menggunakan tempat yang sedang digunakan bagian saya. Saat itu sedang dalam jam
kerja bagian saya dan saya sedang mengerjakan sesuatu. Ia datang dan ditegur
oleh atasan dan rekan kerja saya dengan ‘agak keras’.
Saya yang sedang bekerja tentu bingung harus berbuat apa
karena saya sendag mengerjakan tugas saya. Tanpa kami tahu saat itu, Ia
menangis. Saya, rekan, dan atasan saya baru mengetahui setelahnya, bahwa ia
menangis karena teguran tadi. Entah apa alasannya yang terburu-buru ingin
meminjam tempat itu, tetapi ia salah karena ‘memaksa’ dan ‘memotong’ kerja
orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu sebelumnya.
Setelah itu, saya merenung dan berpikir. Kalau saya berada
di posisi dia dan mendapat teguran keras, apa yang akan saya lakukan? Apa saya
akan menangis juga?
Menilik kembali pengalaman saya, menangis tentu bukan hal
yang akan saya lakukan. Saya tentu akan menerima bahwa saya salah karena tidak
sopan dan meminta izin untuk menggunakan tempat itu setelah mereka selesai.
Saya sudah ditempa dengan menyaksikan dan merasakan berbagai orang yang menegur
dengan keras sehingga hal itu biasa.
Namun, baginya, itu bukanlah hal yang biasa ia dapatkan.
Kita juga tidak pernah tahu ia pernah mengalami atau mungkin trauma dibentak.
Yang jelas, saya tahu bahwa pengalaman saya inilah yang membentuk saya
sekarang. Seseorang itu dibentuk berdasarkan tingkatan pengalaman apa yang
pernah dialaminya hingga hari ini. Jadi, jangan pernah menyamakan seseorang
dengan orang lain karena perbedaan pengalaman itu nyata dan sangat berpengaruh
membentuk seseorang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar