Pekan lalu, saya baru menyelesaikan serial tv berjudul ‘Squid Game’. Bagi yang menontonnya, mungkin, kalian paham bagaimana kontrovesial dan menggugah rasa kemanusiaan dalam diri kita. Namun, selain permainan anak-anak dan adegan ‘berdarah’ lain dalam serial itu, saya tertarik membahas episode terakhir tentang pandangan Il-Nam dan Gi-Hun tentang memandang hidup.
Il-Nam mengatakan, saya gubah versi saya dengan inti yang
sama karena dari bahasa korea ya khaaan, dia mengatakan, bahwa orang yang tidak
memiliki uang dan memiliki terlalu banyak uang memiliki persamaan, yaitu
sama-sama tidak menyenangkan. Ia juga mengatakan saat memiliki terlalu banyak
uang, apa pun yang dibeli, makan, minum, akan membosankan pada akhirnya.
Lagi-lagi berakhir tidak menyenangkan.
Lalu, apa dong arti menyenangkan dalam hidup dan uang bagi
seseorang yang memiliki banyak dan tidak punya uang?
Hidup menjadi terlihat berbeda, terutama saat kita memandang
orang lain mempunyai sesuatu yang lebih dari kita. Padahal, kita bisa saja
sama-sama iri akan hal yang tidak dimiliki orang lain. Bagi Gi-Hun, uang adalah
hal yang penting dalam hidupnya karena ia berutang dan hidup berkekurangan.
Sedangkan bagi Il-Nam, hidupnya terlalu membosankan karena memiliki uang yang
berlebih dan apapun yang diinginkan bisa tercapai.
Nah, kebosanan dalam hidup Il-Nam itu mendorongnya untuk
mengikuti Squid Game karena ingin merasakan senangnya bermain sewaktu kecil.
Sedangkan, Gi-Hun terpaksa ikut Squid Game karena iming-iming hadiah uang besar
yang ditawarkan. Satu menganggap hal itu menyenangkan, satu pergi karena
keterpaksaan dan perlu uang untuk hidup.
Saya merenungkan bahwa hidup tak melulu soal uang. Iya, uang
memang penting dalam hidup kita. Apa sih yang gratis di dunia ini? Tetapi,
pelajaran pentingnya adalah bagaimana kita memaknai hidup kita dan mengarahkan
diri pada sesuatu yang berharga bagi diri sendiri dan orang yang paling kita
sayangi. Il-Nam yang ingin kembali ke masa kecil dan merasakan kesenangan yang
sama. Gi-Hun yang ingin berjuang untuk anak dan ibunya.
Tujuan hidup seseorang memang berbeda. Tetapi, selain
sukses, orang ingin menjadi pribadi yang bahagia. Bahagia pun memiliki arti
berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang perlu uang dan menjadi kaya untuk
menjadi bahagia pas sudah kaya, malah gak bahagia kayak Gi-Hun. Ada yang punya
banyak uang, susah mencari kebahagiaan karena selalu tersedia kayak Il-Nam.
Bagi saya, bahagia adalah bagaimana menghabiskan waktu yang
berkualitas bersama orang yang saya sayangi. Waktu tidak bisa dibeli seperti
barang. Tetapi, waktu adalah hal yang diprioritaskan seseorang, yang disediakan
seseorang untuk suatu hal atau orang lain. Memberikan waktu berarti kita
memberikan bagian dari hidup yang yang tidak bisa diambil kembali. Mana bisa
kita memutarbalikkan waktu, kan?
Memberikan bagian hidup kita haruslah dihabiskan pada orang
yang tepat. Kita tentu tak ingin memberikan bagian hidup yang paling berharga
kepada sesuatu yang salah. Menikmati yang disukai memang tidak ada salahnya.
Tetapi ada baiknya, kita memikirkan jauh ke depan. Bagaimana kita memaknai
hidup kita di dunia ini? Apakah sudah diberikan ke orang yang tepat atau hanya
membuang-buang waktu dan menyesal pada kemudian hari?
Semoga kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri sehingga
dapat mengisi makna hidup kita lebih baik lagi!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar