9 Okt 2021

Merenungkan Arti Hidup dari Serial Squid Game

Pekan lalu, saya baru menyelesaikan serial tv berjudul ‘Squid Game’. Bagi yang menontonnya, mungkin, kalian paham bagaimana kontrovesial dan menggugah rasa kemanusiaan dalam diri kita. Namun, selain permainan anak-anak dan adegan ‘berdarah’ lain dalam serial itu, saya tertarik membahas episode terakhir tentang pandangan Il-Nam dan Gi-Hun tentang memandang hidup.

Il-Nam mengatakan, saya gubah versi saya dengan inti yang sama karena dari bahasa korea ya khaaan, dia mengatakan, bahwa orang yang tidak memiliki uang dan memiliki terlalu banyak uang memiliki persamaan, yaitu sama-sama tidak menyenangkan. Ia juga mengatakan saat memiliki terlalu banyak uang, apa pun yang dibeli, makan, minum, akan membosankan pada akhirnya. Lagi-lagi berakhir tidak menyenangkan.

Lalu, apa dong arti menyenangkan dalam hidup dan uang bagi seseorang yang memiliki banyak dan tidak punya uang?

Hidup menjadi terlihat berbeda, terutama saat kita memandang orang lain mempunyai sesuatu yang lebih dari kita. Padahal, kita bisa saja sama-sama iri akan hal yang tidak dimiliki orang lain. Bagi Gi-Hun, uang adalah hal yang penting dalam hidupnya karena ia berutang dan hidup berkekurangan. Sedangkan bagi Il-Nam, hidupnya terlalu membosankan karena memiliki uang yang berlebih dan apapun yang diinginkan bisa tercapai.

Nah, kebosanan dalam hidup Il-Nam itu mendorongnya untuk mengikuti Squid Game karena ingin merasakan senangnya bermain sewaktu kecil. Sedangkan, Gi-Hun terpaksa ikut Squid Game karena iming-iming hadiah uang besar yang ditawarkan. Satu menganggap hal itu menyenangkan, satu pergi karena keterpaksaan dan perlu uang untuk hidup.

Saya merenungkan bahwa hidup tak melulu soal uang. Iya, uang memang penting dalam hidup kita. Apa sih yang gratis di dunia ini? Tetapi, pelajaran pentingnya adalah bagaimana kita memaknai hidup kita dan mengarahkan diri pada sesuatu yang berharga bagi diri sendiri dan orang yang paling kita sayangi. Il-Nam yang ingin kembali ke masa kecil dan merasakan kesenangan yang sama. Gi-Hun yang ingin berjuang untuk anak dan ibunya.

Tujuan hidup seseorang memang berbeda. Tetapi, selain sukses, orang ingin menjadi pribadi yang bahagia. Bahagia pun memiliki arti berbeda-beda untuk setiap orang. Ada yang perlu uang dan menjadi kaya untuk menjadi bahagia pas sudah kaya, malah gak bahagia kayak Gi-Hun. Ada yang punya banyak uang, susah mencari kebahagiaan karena selalu tersedia kayak Il-Nam.

Bagi saya, bahagia adalah bagaimana menghabiskan waktu yang berkualitas bersama orang yang saya sayangi. Waktu tidak bisa dibeli seperti barang. Tetapi, waktu adalah hal yang diprioritaskan seseorang, yang disediakan seseorang untuk suatu hal atau orang lain. Memberikan waktu berarti kita memberikan bagian dari hidup yang yang tidak bisa diambil kembali. Mana bisa kita memutarbalikkan waktu, kan?

Memberikan bagian hidup kita haruslah dihabiskan pada orang yang tepat. Kita tentu tak ingin memberikan bagian hidup yang paling berharga kepada sesuatu yang salah. Menikmati yang disukai memang tidak ada salahnya. Tetapi ada baiknya, kita memikirkan jauh ke depan. Bagaimana kita memaknai hidup kita di dunia ini? Apakah sudah diberikan ke orang yang tepat atau hanya membuang-buang waktu dan menyesal pada kemudian hari?

Semoga kita bisa terus belajar dan memperbaiki diri sehingga dapat mengisi makna hidup kita lebih baik lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar