gabrielle's
10 Jun 2023
Menjadi Realistis, Kritis Terkikis
27 Sep 2022
“Are you happy, Stephen?”
Sekitar bulan mei, saya sempat mengurangi melihat postingan Instagram dan twitter, alias social media yang biasanya saya gunakan. Bukan berarti ngga ngikutin atau detoks social media, engga, hanya melewati story atau cuitan atau postingan teman-teman. Lalu, ketika saya membuka dan melihat kembali, ada satu perasaan yang muncul dalam hati. Mungkin, tepat kalau dikatakan iri. Kalau kata filsafat stoa, iri merupakan salah satu emosi negatif yang tidak sejalan dengan alam. Nah, yang katanya, kalau kita mempraktikkan latihan ajaran stoa ini hendak dikurangi bahkan tidak ada sehingga ada bahagia.
Bahagia. Jadi ingat, Stephen Strange yang ditanya Christine, “Are you happy, Stephen?”
Bahagia, lagi-lagi kalau menurut salah satu filsuf stoa, saat kita tidak merasa cemas, sedih, dan takut. Salah satu lini penting dalam mengendalikan “emosi negatif” ini ya dengan melatih apa yang bisa kita kendalikan dan tidak. Tapi kan ya… (lagi-lagi pemaklumkan yang tidak seharusnya digunakan) namanya juga manusia, susah dong kalau harus dipaksa mengendalikan emosi negatif yang terkadnag gak bisa dikendalikan ini. Kalau cara filosofi stoa ya, dilatih.
TAPI, ini kan refleksi bahagia menurut saya, sekaligus merapel absennya tulisan di sini, karena menyelesaikan buku filosofi teras, jadi ya sekalian aja tulisan pembacaaan filosofi teras kali ya…
Balik, ke pertanyaan Christine ke Strange, ya, (sok ikrib bgt strange Christine wqwq) Strange gengsi lah ya ke nikahan mantan bilangnya ngga hepi. Hehe ya ini ngga lagi ngulik marvel kok. Bahagia buat masing-masing orang artinya beda-beda. Beberapa waktu lalu, pas mulai tulisan ini, ada baru ngomongin kalo ada orang yang pengen nyari cara ngebahagiain orang. Ya susah.
Menurut saya, pencapaian kebahagiaan seseorang hanya bisa dicapai dan diketahui oleh masing-masing orang. Arti bahagia kan berbeda-beda. Ini akan muter-muter aja kayanya karena saya sendiri belum bisa memastikan apakah saya sudah seratus persen bahagia (pastinya tidak dan belum). Maksudnya adalah tujuan hidup orang yang berbeda-beda membuat bahagia menurut satu orang dengan orang lai itu berbeda. Kalau dalam filosofi teras, Henry Manampiring menjelaskan bahwa bahagia itu bukan tujuan, tetapi efek dari tujuan hidup seseorang.
Membaca filosofi teras, saya jadi mengerti bahwa tidak ada nasib baik dan nasib buruk dalam hidup seseorang. Semua kejadian dalam hidup ini netral, tapi bagaimana diri kita sendiri mengartikannya yang menjadikan kejadian tersebut baik atau buruk. Dalam konteks bahagia menurut saya pun begitu, bahagia itu bagaimana kita mengartikan hal-hal sederhana dalam hidup dan mensyukurinya. Kalau sejalan dengan tujuan hidup kita, hal tersebut sudah selayaknya membuat kita bahagia.
Nah, balik ke mengusahakan bahagia, menurut saya (setelah membaca stoa), itu ternyata bisa dan ada, karena kebahagiaan sejati menurut stoa akan bisa dicapai dan bisa dilatih. Kalau dipikir-pikir saya sudah melatihnya sejak lama, ya, sejak banyak kesempatan menahan emosi. Tapi, menahan emosi dengan mengendalikan emosi negatif itu beda. Menahan emosi, ya, emosinya tetap ada di sana, hanya saja tidak disampaikan. Sedangkan, mengendalikan emosi, ya, emosi negatif tersebut, yang utamanya seharusnya tidak perlu ada, karena berasal dari luar (tidak bisa kita kendalikan) dan sesuatu yang netral, kita bisa menyikapinya dengan respon yang baik dan berfokus pada solusi.
Dalam setiap kejadian yang menimbulkan emosi negatif ini, ada baiknya kita mengambil jeda, berpikir dengan tenang emosi apa yang ada dan timbul dari kejadian tersebut (mengingat bahwa kejadiana tersebut netral dan emosi yang timbul adalah interprestasi kita), dan setelah tenang, kita dapat memikirkan respon yang bisa kita keluarkan. Jadi, sebuah kejadian terjadi, dan membuat kita merasakan emosi negatif (iri, cemburu, kesal, marah), bukan sesuatu yang harus disikapi atau direspon negatif dan tidak seharusnya mengganggu kita.
Tapi, ya berhubung kalau ada kejadian mesti pikirin dulu negatifnya diolah biar dikendalikan itu susah, ya harus dilatih-latih terus, apalagi kalau ada sesuatu yang triggering peristiwa buruk dalam hidup kita. Latihan menjadi bahagia ala stoa ini gak mudah tapi bisa dan mungkin dilakukan. Saya mau berusaha melatihnya, tapi rasanya kalau sudah menyangkut orang terdekat ya mending keluarin aja ya marahnya wkwkw. Gak gak, ga gitu konsepnya wq.
Intinya… kebahagiaan seseorang itu tidak bisa dicapai oleh orang lain, hanya orang tersebut sendirilah yang bisa mencapai kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati yang katanya, tidak ada emosi negatif itu ya bahkan filsuf stoa pun tidak ada yang benar-benar mengklaim dirinya seratus persen bisa mencapai ‘sejati’ itu. Kebahagiaan itu bahkan bukanlah tujuan hidup kita, tetapi efek dari proses kita dalam menjalani dan mencapai tujuan hidup kita.
Dalam hidup kita, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk respon orang lain, kesehatan, harta, pekerjaan, dan lainnya yang terjadi karena pengaruh dan campur tangan orang lain. Begitu pula dengan permasalahan dalam hidup, kita bisa menganggap suatu kejadian saebagai masalah apabila kita menganggap nya begitu. Interpretasi kita akan suatu keadaanlah yang mendefinisikan sebuah keadaan sebagai hal buruk atau hal baik. Kalau kita fokus terhadap apa yang kita kendalikan, kita mengendalikan pikiran kita agar memandang suatu kejadian sebagai suatu hal baik sehingga tidak terpuruk dalam suatu keadaan.
Dalam keadaan yang tidak diinginkan, kita pasti akan langsung berpikir dan merespon dengan kurang baik. Ada baiknya kita berhenti terlebih dahulu, kemudian memikirkan, “Apakah hal ini terjadi sepenuhnya karena kita? Apakah kita sendiri yang menginginkan hal tersebut? Kenapa saya harus kesal/sedih/marah/iri dengan keadaan ini?” Kalau hal ini terjadi di luar kendali kita, kita bisa mencoba memikirkan respon yang tepat dengan kepala dingin. Kemudian, kita baru merespon kejadian tersebut dengan baik dan memiliki solusi yang tepat.
Kalau kita berfokus pada solusi, kita tentu akan berusaha pada hal tersebut dan bukan pada ‘masalah’ atau ‘kejadian buruk’nya. Kita tahu apa yag harus dilakukan setelahnya. Premeditatio malorum yang dalam filosofi teras adalah bagaimana kita mengontemplasi derita atau memikirkan seua kemungkinan terburuk yang terjadi. Saya selalu melakukan hal ini. Kalau di filosofi teras mungkin disarankan pagi hari, tapi saya biasa melakukannya malam hari, sebelum tidur, dan memikirkan bukan yang akan terjadi keesokan hari saja tetapi untuk ke depannya. Overthinking lah kalo kata anak jaman now. Saya sering sekali memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Tetapi, kalau saya sudah pernah memikirkannya, saya pun sudah memikirkan bagaimana dan solusi apa kalau benar sampai terjadi hal tersebut. Artinya, saya sudah siap menghadapi hal buruk tersebut, meski belum terjadi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan.
Nah, saya pun masih terus melatih respon otomatis dalam pikiran saya agar tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang tidak bisa saya kendalikan dan berfokus pada apa yang bisa saya kendalikan. Terkadang, banyak hal masih membuat saya mudah tergelitik dan terdorong untuk marah/sedih/kesal, padahal hal tersebut bisa dihadapi dengan tenang. Mudah-mudahan rasa marah/sedih/kesal/iri saya yang datang secara otomatis dalam menghadapi suatu kejadian dapat tersalur dengan baik dalam bentuk yang baik (menulis seperti ini misalnya) sehingga tidak memberikan dampak buruk pada orang lain dan diri saya sendiri. *finger crossed* cheeeeers!
27 Mei 2022
yayayaa, gajian yeyeye
Habis membaca cuitan seseorang bahwa ia belajar agar tidak terlalu totalitas di tempat kerja. Ya memang, kerja memang sewajarnya dan seperlunya. Tapi bukan berarti tidak totalitas pada apa yang menjadi job description pekerjaan kita. Ini juga dituliskan pada cuitan berikutnya. bahwa ia melakukan yang terbaik dan bertanggung jawab. Tidak totalitas bukan berarti kerja awur-awuran dan seadanya, maksud si pencuit adalah bekerjalah sesuai job description sebaik-baiknya.
Bekerja sebaik-baiknya dan sesuai porsinya berarti kita tidak mengorbankan sesuatu di luar pekerjaan kita. Kalau bahasanya pencuit tulisan ini, “sampe ga punya kehidupan” (selain bekerja). Orang mungkin melihat bahwa saya sebelumnya adalah seseorang yang total dalam pekerjaan saya sampai terlihat tidak punya kehidupan. Padahal, tidak seperti itu. Ya… keliatannya aja. Padahal di luar kerja ya tetep aktif inainu. Tapi, saat jamnya kerja, ya saya melakukan apapun itu sebaik-baiknya, setotal-totalnya, dan tetap seperlunya. Kalau terlalu baik, ya saya juga sadar tidak seberapa dihargainya.
Menelisik pada organisasi lain yang saya ikuti, di luar kerja, saya tahu bahwa memang seharusnya melakukan sesuatu itu seperlunya. Meski dalam hal ini adalah melakukan pelayanan. Tetapi, kalau tetalu total dan (lagi-lagi) sampai tidak punya kehidupan selain itu dan terkesan dimanfaatkan karena bisa apa saja. Ya, memang sebaiknya kurangi dan cobalah mencari aktifitas lain.
Selain itu, saya juga memandang bahwa keperluan di kantor itu memang seperlunya. Kalau pekerjaan sudah, ya, sudah. Dengan pengalaman segitunya saat kerja dan berorganisasi, saya merasa bahwa waktu istirahat, meluangkan waktu bersama orang lain di luar kantor dan organisasi, bahkan waktu dengan diri sendiri, adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa miliki. Kalau kantor atau organisasi, dimana kita menjadi bagian di dalamnya, sudah memberi kita ruang untuk hal ini, kita tentu patut bersyukur.
Mengembangkan diri dalam pekerjaan atau organisasi itu tak melulu harus terlalu total hingga tak punya waktu untuk diri sendiri. Tetapi, bagaimana kita sebagai manusia bisa bertumbuh sebagaimana mestinya tanpa merugikan orang lain dan, yang terpenting, diri sendiri. Diri sendiri yang utuh dan sehat secara fisik dan mental tentu akan memberi pengaruh terhadap hubungan dengan orang lain pula.
Berkaca dari pengalaman berpindah-pindah tempat magang (dan sekali tempat kerja), saya pun melihat bagaimana suasana kantor juga mempengaruhi “totalitas” bekerja itu sendiri. Tempat dan suasana kerja itu tentu berpengaruh pada cara kita “mengabdi” pada kerja kita, mulai dari beban kerja, rekan kerja, tempat bekerja, minat dan bakat, dan (tidak bisa dipungkiri) upah dan jaminan kerja. Perbedaan-perbedaan ini tentu saya rasakan, kalau ditempat ini kelebihan dan kekurangannya apa saja, dan di tempat yang lain bagaimana.
Berhubung, tulisan ini dipublikasi di tanggal-tanggal gajian… hehe. Ayo semangat kerja ya, totalitas sesuai jobdesc aja, habis itu hura-hura. Jangan lupa istirahat, minum air putih, nonton Netflix, dan olahraga. Saya juga masih belajar untuk menyeimbangkan ritme kerja dan di luar kerja, hubungan pekerjaan dan personal, dan fokus mengembangkan diri lebih baik lagi. Ya tentunya, mengurangi terlalu focus kerja dan gapunya kehidupan di luar, berusaha kembali mengambangkan diri, nulis-nulis lagi, nonton series lagi, olahraga lagi. Lagian, ini kan refleksi untuk diri saya sendiri. Kelak kalau lupa, bisa baca lagi. Semangat aku, dan kamu semua yang membaca tulisan ini.
20 Apr 2022
Mengutip @yajugaya, "Yang Lain Mencari Perhatian, Aku Mencuri"
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk paling caper di muka bumi. Hal ini berarti 7 milyar lebih manusia di bumi ini melakukan sesuatu demi dilihat, diperhatikan, dipedulikan orang lain. Entah, itu kolektif atau personal, seseorang ingin mencari perhatian orang lain. Mau ngomong apasik u, lagi caper yy? Ya karena abis ngeliatin orang caper di demo yg didokumentasikan dan tersebar luas di jagat maya.
21 Mar 2022
Seperti Gendam, eeh, Dendam maksudnya
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, kata gnolbo alias Eka Kurniawan, yang didaptasi menjadi film dan menang Locarno. Ya kalo di film sih, Iteung mati-matian bales dendam untuk Ajo Kawir. Tapi, apakah dendam itu perlu? benci itu begitu kuat hingga dendam? Dendam itu apa? lalu kenapa saya merasa tidak perlu mendendam pada seseorang?
27 Feb 2022
Belajar Seumur Hidup
Menurut bapak-ibu guru di Sekolah, Belajar itu gak cuma dari sekolah tapi seumur hidup. Belajar bukan hanya menghafal membuka buku-buku, mendapat nilai, menerima rapot. Tetapi, bagaimana kita memaknai setiap pengalaman dan belajar dari sana. Ya, lagi lagi, kata guru dan tulisan kata mutiara di sekolah, sih, pengalaman adalah guru terbaik alias experience is the best teacher. Cara kita memaknai "guru-guru" dalam hidup dan mengambilnya menjadi sebuah pembelajaran itu yang penting sehingga kita bisa berkembang sebagai manusia seutuhnya.
22 Nov 2021
Mikirin Kata Orang?
This is been a trouble to me the last 5 years and still counting kayanya. Dulu, saya menganggap orang tuh segitu mengganggunya buat saya sehingga apapun katanya akan saya pikirkan sampai masuk ke dalam pikiran dan sedalam itu. Ya, saya pun sampai merasa terganggu dengan pikiran saya sendiri.
Memikirkan kata orang, memang tak akan ada habisnya. Saya bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya banyak mengubah cara saya memandang dunia. Singkat memang, tapi caranya menyampaikan kekompleksan cara memandang dunia itu membuat saya memikirkan ulang banyak hal.
Pada akhirnya, kata-kata dia lah yang saya pikirkan. Ia mengubah saya yang pemarah menjadi seseorang yang… “ya ngapain marah”, karena saya sempat bertanya, “lo gak pernah marah ya?”. Ia sempat bercerita tentang marahnya dan kapan ia marah dan yaa... karena saya gak pernah lihat dia marah jadi gak bisa ngebayanginnya gimana.
Siapapun yg kenal saya, pasti tahu saya gak pernah terlihat marah. Yaaaaa… jangan dah.
Membiasakan diri seperti sekarang bukan proses yang mudah. Setelah orang itu pergi, tentu saja, saya kembali menjadi orang yang pemarah, ketus, and I see myself as the meanest person I’ve ever known. Ya, lagi-lagi, datang orang lain yang menyadarkan saya dan mampu menenangkan ‘amukan’ yang tak teredam dalam diri saya. Tapi, ini membuat saya justru mematikan rasa dalam diri saya. Dari seorang yang sulit berekspresi, saya semakin tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik (sampai sekarang dan masih terus belajar memperbaiki ini).
Banyak hal dalam hidup saya yang memaksa saya ‘mengeluarkan’ emosi atau perasaan saya, tetapi karena saya sudah ‘dipaksa’ meredam perasaan saya sejak kecil, hal ini menjadi sesuatu yang sulit. Pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik.
Oke, balik ke kata orang….
Kata orang, saya bukan orang yang gampang dipancing emosi. Iya. Emang. Walaupun dulu saya pemarah, saya mungkin marah karena banyak memikirkan perkataan orang. Setelah saya belajar ‘tidak marah’ dari teman saya itu, saya justru lebih memperhatikan hal lain, yaitu tidak memikirkan perkataan orang.
Hal ini memang sesuatu yang sangat tidak mudah. Tapi, hidup memang sejatinya memilih, kan? Saya memilih untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak mau saya pikirkan. Buat apa saya membuat Lelah diri memikirkan hal yang tidak menyenangkan yang dikatakan orang lain? Selama saya tidak mengusik hidup orang, tidak mengganggu orang lain, dan melakukan hal yang membuat saya senang, kenapa saya harus memikirkan kata orang?
Saya berusaha tidak memikirkan kata orang dan kasak-kusuk tentang saya. Buat apa? Gossip dan ngomongin orang di belakang… mending ngomong langsung lah, sini. Saya akan tanggapi daripada ngomong di belakang saya dan menyebar gossip yang tidak-tidak. Kalau iri, bilang dan lebih baik kenalan dan berteman dengan saya agar tahu kebenarannya, bukan ngomongin di belakang.
7 Nov 2021
“Happiness is a choice, not an achievement” – Bungkus Choco Pie
Sebenernya, kalo dipikir tentang bahagia… Siapa yang tau tentang bahagianya sesesorang? Coba, kalau ditanya, “kamu sudah bahagia belum?”Mungkin, bagi beberapa orang, ia bisa menjawab sudah dan mengatakan bagaimana ia merasa bahagia. Tapi, ada juga orang yang masih mengusahakan bahagianya.
Kalau ditanya apa arti bahagia bagi saya, entah, saya juga belum menemukannya. Kalau dibilang, bahagia itu pilihan… saya bingung mengatakannya. Memang sih, rasa bahagia itu tak bisa selamanya, kan hidup itu dinamis, kadang ada masa sedih, kadang bahagia. Tapi, saya bisa dengan yakin mengatakan kapan-kapan saja saya merasa bahagia, meski belum sepenuhnya.
Kalau dibilang pilihan… saya ingin memilih untuk berada di memori itu selamanya. Walaupun di muka, saya bilang kalau saya ingin menghidupi saat ini apa adanya, tapi ada waktu-waktu kamu ingin menyimpan memori saat kamu bahagia. Rasanya ingin menghentikan waktu saat itu terjadi, dan saat sudah lewat, tentunya kamu ingin kembali lagi merasakan hal yang sama.
Tapi, untuk sampai pada titik perasaan yang sama, bukanlah yang yang mudah, bahkan mustahil.
Bahagia pun menjadi hal yang berbeda setiap saat aku merasakannya. Perasaan bahagia itu perasaan yang penuh. Ia seakan memenuhi ruang-ruang hati dan membuatmu merasa hangat. Mungkin perasaan itulah yang ingin dijaga, disimpan, rasa hangat atas bahagia.
Kalau dibilang bahagia itu pilihan. Banyak hal yang rasanya ingin saya pilih, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalau saja itu benar bisa membuat saya bahagia. Tapi, perasaan ragu akan kebenaran bisa membuatku bahagia atau tidak inilah yang selalu membuatku ragu memilih. Biasanya, aku membiarkan seseorang memilihkan untukku atau ya katamu, karena ngalir aja.
Pilihan yang tidak dipaksakan itu memang membahagiakan. Saya ingin memilih bersama orang-orang yang tidak membuatku merasa buruk. Mengerti, bahkan mengusahakan apapun. Secara pribadi, dan kalau yang dikatakan teman saya benar, aku punya tes bagi orang-orang di sekitarku. Ia yang tak lolos, biasanya belum tentu kuanggap teman. Hanya sebagian kecil, kecil sekali, yang bisa menembus tes itu, dan ada satu yang mampu lolos sempurna. Sayangnya,say belum memilih bahagia itu.
Menelisik ke belakang, orang-orang begitu dinamis. Tak selamanya yang dikatakannya pada tes itu selamanya sama. Tunggu saja bertahun, ia lelah biasanya. Aku bersyukur kalau tidak berubah. Sayangnya, tak mungkin kan… aku pun berubah. Bahagiaku menjadi lebih sederhana, dalam pandanganku. Menghabiskan waktu, sentuhan sederhana, perhatian kecil. Bahagia.
Kalau bahagia itu pilihan… kenapa omongan dan pilihan seseorang dapat memengaruhi bahagia orang lain? Tak bisakah, sesuatu tetap adanya sehingga bahagia seseorang tak mengusik orang lain? Lagi-lagi, memang bahagia bukan pencapaian, tapi aku juga tidak yakin kalau itu pilihan. Pilihan sih pasti, tapi apa benar itu pilihan yang tepat untuk bahagia seseorang? Apa pilihan ku tepat?
23 Okt 2021
Yaaaa... "Namanya juga Manusia"
Kayaknya selama kerja, minggu lalu paling banyak kelewatnya. Inginnya sih, mencari-cari alasan atas kelalaian ini, dan memang ada yang bilang kalau memaklumi ‘skip’nya saya minggu lalu. Tapi, tetap saja, ini saya yang salah. WKWKKW. maaf ya gaes.
Dulu, saya dan teman pernah mendiskusikan perihal pemakluman atas perilaku buruk atau ceroboh manusia. Ini diawali dengan frasa, “namanya juga manusia”. Seseorang cenderung menggunakan kalimat itu untuk, secara tidak langsung, meminta orang memaklumi bahwa ia tidak sempurna dan bisa salah.
Ya, memang kesempurnaan hanya milik yang Kuasa. Kita hanya kumpulan manusia yang tidak sempurna.
Tapi, bukan berarti itu alasan bagi seseorang untuk membuat pemakluman diri atas kelalaian atau kecerobohannya. Saya tahu, dalam postingan beberapa minggu lalu, saya dengan angkuhnya bilang, ‘bukan dalam hal pekerjaan’, bahwa saya ceroboh. Tapi, ternyata, ada juga cerobohnya di minggu lalu.
Padahal, minggu itu adalah minggu kedua, dua episode tayang perdana. Untungnya sih memang gaada masalah, tapi kan jadi nambah kerjaan orang lain, yang harusnya saya sudah siapkan. Ya memang sudah disiapkan sih, hanya lupa ditaruh ke project yang dikerjakan.
Mau dibilang sudah dimaklumi, tetap saja, perasaan bahwa saya melalaikan tanggung jawab di minggu lalu itu tidak hilang. Hehehehe. Rasanya pingin minta maaf terus, yang saya juga tahu jawabannya gak apa-apa.
Di luar skip di kerja, banyak banget skip ketinggalan barang. Yang gini gini, saya jadi ngerepotin orang buat dititipin. Makasi ya, rangorang yang saya titip-titipin. Sekali, dua kali, mungkin gak apa, kalau berkali-kali, bisa saja mereka jengah dengan perilaku saya.
Semoga saya, jiwa-jiwa baik itu tetap ada ya. HEHE.
Ya kembali lagi, pada diskusi saya dan teman saya perihal “namanya juga manusia”. Pemakluman itu memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Tapi, kami berpikir bahwa tidak baik kalau frasa itu digunakan untuk pemakluman sifat buruk seseorang. Ada yang namanya usaha untuk memperbaiki diri, baik secara perilaku maupun kesalahan yang dilakukan.
Tidak. Saya tidak perlu menggurui siapapun yang hendak menggunakan frasa itu sebagai pemakluman atas tindakan buruknya. Namun, ada baiknya mengakui dan meminta maa kalau ada perilaku yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tersinggung. Tentu saja, setelahnya, kita harus memperbaiki diri agar tidak perlu mengeluarkan jurus “yaah, namanya juga manusia”.
17 Okt 2021
Life changes, katanya sih gitu
3 Events in 1 Week
Oke. Ada baiknya kita memulai perjalanan menelisik minggu lali ini dengan yang menyenangkan terlebih dahulu. Ya, gak menyenangkan-menyenangkan amat sih, kan dijadiin refleksi.
Ya, Namanya juga kerja ketemu berbagai masalah yunik yang tida diduga. Mulai dari harus ngebantu tim yang masih kekurangan orang, sampai ada kabar tidak menyenangkan, sampai kedatangan teman lama ke tim.
Konteks membantu tim yang kekurangan orang ini sebentulnya membantu saya lebih mengembangkan diri dan membuat saya kembali membiasakan diri untuk mewawancarai narasumber. Pertama kali diberi tugas, rasa deg-degan itu tidak hilang seharian. Detak jantung yang berdegup cepat membuat lupa perihal penting, pertanyaan narasumber.
Saat itu, saya tentu fokus untuk membriefing narsum tentang pertanyaan saya. Tapi saat kamera menyala, perekam suara berjalan, buyar sudah. Saya hanya bisa mengeluarkan pertanyaan yang ada dibenak sekenanya sambal berusaha melihat kembali catatan pertanyaan untuk narasumber yang ada di gawai saya. Saat itu saya lupa untuk mematikan fitur sleep otomatis di gawai saya.
Namun, setelah sekali wawancara berjalan, saya mulai bisa terbiasa. Meski rasa deg-degan itu tak hilang. Tetapi, saya tidak berpikir bahwa melakukan wawancara ini adalah beban, meski memang bukan job description saya. Saya haya melihat ini sebagai peluang, bahwa ke depannya, saya mungkin bisa mendapat kesempatan untuk menjalani job description yang lain. Tapi, saat ini, saya masih ingin berdinamika di pola baru dan cara kerja ini. Heu. Life changes emang.
Setelah wawancara ini, datanglah hari, dimana, teman saya bergabung dalam tim yang kurang orang ini. Ia yang sebelumnya belum pernah kerja di media bentuk ini tentu mengalami culture shock kali ya. Ya, akhirnya ia memang mendapat teguran dari atasan, tetapi saya terus meyakinkannya agar tidak menyerah. Bisa lah, belum nyesuaiin aja kali ya.
Kabar lain lagi, dateng dari bagian lain lagi. Ini minggu emang lagi temanya perubahan kali ya. Ada rumor tentang perubahan lain yang kayaknya akan ganggu flow kerja, ya untungnya diinterupsi dan gak jadi.
Tapi, kalo pun beneran ada perubahan, ya gak apa-apa. Life change, people change. Work flow change. WKWKWKW.
Oke penutupnya harus rada rapihan kali ya, ini mah curhat nanggung aja. Dalam hidup, memang adaptasi itu tak terhindarkan sifatnya. Kita gak bisa seenaknya memilih, “aku gak suka”, lalu pindah gitu aja. Tapi, ada sistem yang lebih besar yang sudah berjalan. Kita lah yang harus beradaptasi, bukan sistem besar itu yang mengikuti mau kita. Egois itu namanya. Ada baiknya kita melihat situasi yang lebih besar dahulu, baru kita melihat keadaan diri kita sendiri.