10 Jun 2023

Menjadi Realistis, Kritis Terkikis

Dulu, menulis bagi saya adalah ruang menumpahkan unek-unek yang bisa saya manfaatkan menjadi "sesuatu". "Sesuatu" yang bisa menjadi pekerjaan atau ruang untuk merefleksikan diri dan berpikir kritis. Namun, kini, dunia audiovisual menguasai ruang semua pihak, terutama sejak pandemi. Muncul banyak pemberitaan singkat, cepat, dan langsung. Artis-artis media sosial baru bermunculan dan makin marak dengan sebutan selebgram, influencer, ataupun konten kreator. Media sosial pun mengubah fokus dari visual dan tulisan menjadi tampilan video singkat. Lalu, siapa lagi hendak membaca tulisan esai panjang?
.
Idealisme, tai kucing. Bisa makan apa kita dari idealisme? Waktu saya kuliah, ada teman saya mengatakan, disclaimer katanya ia kutip dari bapaknya, "kalau sampe umur dua-lima, lo masih idelis dan jadi aktivis..." hehe... lupa saya kata-kata tepatnya, intinya, kalau sampai umur segitu masih mendahulukan idealisme, kamu tidak realistis. Saya pernah hanya menganggap ini pernyataan kosong, jadi saya anggap angin lalu. Saat itu, saya sedang getol "bersuara", bermedium tulisan, ikut aksi berbagai LSM dan gerakan (meski tidak selalu dan rutin konsisten), juga datang ke berbagai pameran di ruang kolektif yang menyediakan ruang untuk seniman independen dan ruang untuk kaum marjinal. Masa itu, saya melihat bagaimana turun langsung ke lapangan, meninjau keadaan aslinya, itu berdampak, sangat berdampak, bagi siapapun untuk memahami bahwa perhatian dan usaha menjadi sepaham itu penting. Hal ini terutama dalam memahami kaum marjinal dan minoritas yang ruang suaranya diambil mayoritas. Rasanya, ini adalah titik puncak saya dalam memandang suatu secara kritis, "sok aktivis", dan........ belum mencapai krisis. haha.

Perjalanan saya dengan segala ke-idealis-an saya, mulai dari kritik pemerintah, alam, perempuan, kaum muda, dan lawan patriarki. Ya, pasti masih sampai sekarang, tapi saya sudah tidak lagi ikut gerakan sesuatu atau "sok sok" lainnya. Paham tetap dalam pikiran, tapi perbedaan cara pikir merespon terhadap yang berseberangan yang berubah. Ya ngga berubah banyak, karena vokal juga ngga terlalu tapi ikut serta aja.

Titik baliknya adalah krisis skripsi wqwq dan pandemi. Selama awal kuliah dan mundur ke belakang, saya menjadi pembaca yang masif dan mendorong diri lebih kritis dalam berpikir apapun. Namun, sejak bergeser dari buku dan lebih aware terhadap dunia digital, saya justru mulai mengkikis cara berpikir yang sudah dibangun dari membaca (buku) tersebut. Pada gawai, awalnya, saya masih membaca berbagai berita panjang dan esai, juga tulisan mendalam sampai mengikuti nawala dari suatu media yang cukup populer. Lalu, berbagai aktivitas kegiatan mahasiswa ternyata cukup menyita energi dan waktu hingga waktu membaca dan menulis tersebut sulit dicari kembali. Semakin naik jenjang, saya semakin tidak mengikuti dan tidak membaca sampai akhirnya krisis itu. Pada titik balik itu, kebetulan waktunya hampir bersamaan, ini diawali dengan magang di suatu kantor. Berbagai demo dan segala macam gerakan, dulu, saya mungkin turun ikut serta. Namun, saat itu saya "bekerja" meski magang. Saya punya tanggung jawab yang harus diselesaikan, saya diberi upah oleh kantor tersebut. persetan kapitalisme tapi saya dibayar korporat untuk menambah pemasukkan. Realistis.

Hilanglah sudah rasa menyuarakan keadilan secara utuh, turun langsung ke lapangan dan lainnya. Saat itu membaca masih. Bergeser ke skripsi dan pandemi, bacaan saya pun jadi hanya seputar pendukung skripsi dan nonton netflix. Tidak ada lagi bacaan lain yang membantu mengasah kemampuan berpikir kritis itu. Menjadi Realistis, harus lulus, segera. Padahal materi skripsi saya terkait kritis, bagaimana media menggunakan pengaruhnya pada reporternya dan memperngaruhi tulisannya. Lalu, saya lulus dan fokus utama harua kerja, apa aja. setelah kerja, pindah kerja, sekarang lalilulelo bles~ hilang~ yang penting kerja dapat uang, realistis dan minim kritis.

Pandemi pun mengubah diri saya. Bagaimana proses seseorang yang selalu meluap-luap dan melihat ke luar menjadi fokus akan dirinya. Bagaimana semua diajak untuk fokus akan kesehatan diri sendiri terlebih dahulu, baru keluarga, teman, rekan, dan lain sebagainya. Berusaha Realistis pada diri sendiri dan selesaibakan permasalahan apapun dalam diri.

Perlahan tapi pasti memang, saya berusaha mengembalikan kebiasaan membaca itu. Saya mulai dari buku lagi. Seakan kembali ke rasa menyukai buku segitunya, saya berusaha kembali membaca banyak buku. Tidak serta-merta, saya langsung bisa fafifuwasweswos buku, literasi, kritis, alam, perempuan, pemerintah. Setidaknya kembali mengenal proses dan cara pikirnya. Tidak, tidak akan kembali, setidaknya cukup pada diri sendiri bisa kembali kritis dan bisa selesai akan diri sendiri.

Kembali pada tidak realistis kalau idealis di umur dua-lima. Saya memandang hal ini bahwa bukan tidak realistis tetapi sebagai manusia kita berubah. Bukan jadi sailor moon, tapi manusia senantiasa berubah sesuai tuntutan zaman, tuntutan usia. Usia yang memasuki awal "dewasa" ini adalah awal untuk seseorang menentukan arah hidupnya. Bukan tidak kritis, ya itu, mungkin, ada yang fokusnya sudah berubah tidak lagi bisa mendahulukan idealisme. Ia harus mendahulukan tuntutan kebutuhan keluarga, finansial, dan lain sebagainya. Selamat memikirkan arah hidup sobi-sobi quarter life crisis yang diambil pandemi krisisnya~

27 Sep 2022

“Are you happy, Stephen?”

Sekitar bulan mei, saya sempat mengurangi melihat postingan Instagram dan twitter, alias social media yang biasanya saya gunakan. Bukan berarti ngga ngikutin atau detoks social media, engga, hanya melewati story atau cuitan atau postingan teman-teman. Lalu, ketika saya membuka dan melihat kembali, ada satu perasaan yang muncul dalam hati. Mungkin, tepat kalau dikatakan iri. Kalau kata filsafat stoa, iri merupakan salah satu emosi negatif yang tidak sejalan dengan alam. Nah, yang katanya, kalau kita mempraktikkan latihan ajaran stoa ini hendak dikurangi bahkan tidak ada sehingga ada bahagia.

 

Bahagia. Jadi ingat, Stephen Strange yang ditanya Christine, “Are you happy, Stephen?”

 

Bahagia, lagi-lagi kalau menurut salah satu filsuf stoa, saat kita tidak merasa cemas, sedih, dan takut. Salah satu lini penting dalam mengendalikan “emosi negatif” ini ya dengan melatih apa yang bisa kita kendalikan dan tidak. Tapi kan ya… (lagi-lagi pemaklumkan yang tidak seharusnya digunakan) namanya juga manusia, susah dong kalau harus dipaksa mengendalikan emosi negatif yang terkadnag gak bisa dikendalikan ini. Kalau cara filosofi stoa ya, dilatih.

 

TAPI, ini kan refleksi bahagia menurut saya, sekaligus merapel absennya tulisan di sini, karena menyelesaikan buku filosofi teras, jadi ya sekalian aja tulisan pembacaaan filosofi teras kali ya…

 

Balik, ke pertanyaan Christine ke Strange, ya, (sok ikrib bgt strange Christine wqwq) Strange gengsi lah ya ke nikahan mantan bilangnya ngga hepi. Hehe ya ini ngga lagi ngulik marvel kok. Bahagia buat masing-masing orang artinya beda-beda. Beberapa waktu lalu, pas mulai tulisan ini, ada baru ngomongin kalo ada orang yang pengen nyari cara ngebahagiain orang. Ya susah.

 

Menurut saya, pencapaian kebahagiaan seseorang hanya bisa dicapai dan diketahui oleh masing-masing orang. Arti bahagia kan berbeda-beda. Ini akan muter-muter aja kayanya karena saya sendiri belum bisa memastikan apakah saya sudah seratus persen bahagia (pastinya tidak dan belum). Maksudnya adalah tujuan hidup orang yang berbeda-beda membuat bahagia menurut satu orang dengan orang lai itu berbeda. Kalau dalam filosofi teras, Henry Manampiring menjelaskan bahwa bahagia itu bukan tujuan, tetapi efek dari tujuan hidup seseorang. 

 

Membaca filosofi teras, saya jadi mengerti bahwa tidak ada nasib baik dan nasib buruk dalam hidup seseorang. Semua kejadian dalam hidup ini netral, tapi bagaimana diri kita sendiri mengartikannya yang menjadikan kejadian tersebut baik atau buruk. Dalam konteks bahagia menurut saya pun begitu, bahagia itu bagaimana kita mengartikan hal-hal sederhana dalam hidup dan mensyukurinya. Kalau sejalan dengan tujuan hidup kita, hal tersebut sudah selayaknya membuat kita bahagia.

 

Nah, balik ke mengusahakan bahagia, menurut saya (setelah membaca stoa), itu ternyata bisa dan ada, karena kebahagiaan sejati menurut stoa akan bisa dicapai dan bisa dilatih. Kalau dipikir-pikir saya sudah melatihnya sejak lama, ya, sejak banyak kesempatan menahan emosi. Tapi, menahan emosi dengan mengendalikan emosi negatif itu beda. Menahan emosi, ya, emosinya tetap ada di sana, hanya saja tidak disampaikan. Sedangkan, mengendalikan emosi, ya, emosi negatif tersebut, yang utamanya seharusnya tidak perlu ada, karena berasal dari luar (tidak bisa kita kendalikan) dan sesuatu yang netral, kita bisa menyikapinya dengan respon yang baik dan berfokus pada solusi. 

 

Dalam setiap kejadian yang menimbulkan emosi negatif ini, ada baiknya kita mengambil jeda, berpikir dengan tenang emosi apa yang ada dan timbul dari kejadian tersebut (mengingat bahwa kejadiana tersebut netral dan emosi yang timbul adalah interprestasi kita), dan setelah tenang, kita dapat memikirkan respon yang bisa kita keluarkan. Jadi, sebuah kejadian terjadi, dan membuat kita merasakan emosi negatif (iri, cemburu, kesal, marah), bukan sesuatu yang harus disikapi atau direspon negatif dan tidak seharusnya mengganggu kita.

 

Tapi, ya berhubung kalau ada kejadian mesti pikirin dulu negatifnya diolah biar dikendalikan itu susah, ya harus dilatih-latih terus, apalagi kalau ada sesuatu yang triggering peristiwa buruk dalam hidup kita. Latihan menjadi bahagia ala stoa ini gak mudah tapi bisa dan mungkin dilakukan. Saya mau berusaha melatihnya, tapi rasanya kalau sudah menyangkut orang terdekat ya mending keluarin aja ya marahnya wkwkw. Gak gak, ga gitu konsepnya wq.

 

Intinya… kebahagiaan seseorang itu tidak bisa dicapai oleh orang lain, hanya orang tersebut sendirilah yang bisa mencapai kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Kebahagiaan sejati yang katanya, tidak ada emosi negatif itu ya bahkan filsuf stoa pun tidak ada yang benar-benar mengklaim dirinya seratus persen bisa mencapai ‘sejati’ itu. Kebahagiaan itu bahkan bukanlah tujuan hidup kita, tetapi efek dari proses kita dalam menjalani dan mencapai tujuan hidup kita. 

 

Dalam hidup kita, ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, termasuk respon orang lain, kesehatan, harta, pekerjaan, dan lainnya yang terjadi karena pengaruh dan campur tangan orang lain. Begitu pula dengan permasalahan dalam hidup, kita bisa menganggap suatu kejadian saebagai masalah apabila kita menganggap nya begitu. Interpretasi kita akan suatu keadaanlah yang mendefinisikan sebuah keadaan sebagai hal buruk atau hal baik. Kalau kita fokus terhadap apa yang kita kendalikan, kita mengendalikan pikiran kita agar memandang suatu kejadian sebagai suatu hal baik sehingga tidak terpuruk dalam suatu keadaan.

 

Dalam keadaan yang tidak diinginkan, kita pasti akan langsung berpikir dan merespon dengan kurang baik. Ada baiknya kita berhenti terlebih dahulu, kemudian memikirkan, “Apakah hal ini terjadi sepenuhnya karena kita? Apakah kita sendiri yang menginginkan hal tersebut? Kenapa saya harus kesal/sedih/marah/iri dengan keadaan ini?” Kalau hal ini terjadi di luar kendali kita, kita bisa mencoba memikirkan respon yang tepat dengan kepala dingin. Kemudian, kita baru merespon kejadian tersebut dengan baik dan memiliki solusi yang tepat.

 

Kalau kita berfokus pada solusi, kita tentu akan berusaha pada hal tersebut dan bukan pada ‘masalah’ atau ‘kejadian buruk’nya. Kita tahu apa yag harus dilakukan setelahnya. Premeditatio malorum yang dalam filosofi teras adalah bagaimana kita mengontemplasi derita atau memikirkan seua kemungkinan terburuk yang terjadi. Saya selalu melakukan hal ini. Kalau di filosofi teras mungkin disarankan pagi hari, tapi saya biasa melakukannya malam hari, sebelum tidur, dan memikirkan bukan yang akan terjadi keesokan hari saja tetapi untuk ke depannya. Overthinking lah kalo kata anak jaman now. Saya sering sekali memikirkan dan mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Tetapi, kalau saya sudah pernah memikirkannya, saya pun sudah memikirkan bagaimana dan solusi apa kalau benar sampai terjadi hal tersebut. Artinya, saya sudah siap menghadapi hal buruk tersebut, meski belum terjadi saya sudah tau apa yang harus saya lakukan.

 

Nah, saya pun masih terus melatih respon otomatis dalam pikiran saya agar tidak terlalu terpengaruh dengan apa yang tidak bisa saya kendalikan dan berfokus pada apa yang bisa saya kendalikan. Terkadang, banyak hal masih membuat saya mudah tergelitik dan terdorong untuk marah/sedih/kesal, padahal hal tersebut bisa dihadapi dengan tenang. Mudah-mudahan rasa marah/sedih/kesal/iri saya yang datang secara otomatis dalam menghadapi suatu kejadian dapat tersalur dengan baik dalam bentuk yang baik (menulis seperti ini misalnya) sehingga tidak memberikan dampak buruk pada orang lain dan diri saya sendiri. *finger crossed* cheeeeers!

27 Mei 2022

yayayaa, gajian yeyeye

 Habis membaca cuitan seseorang bahwa ia belajar agar tidak terlalu totalitas di tempat kerja. Ya memang, kerja memang sewajarnya dan seperlunya. Tapi bukan berarti tidak totalitas pada apa yang menjadi job description pekerjaan kita. Ini juga dituliskan pada cuitan berikutnya. bahwa ia melakukan yang terbaik dan bertanggung jawab. Tidak totalitas bukan berarti kerja awur-awuran dan seadanya, maksud si pencuit adalah bekerjalah sesuai job description sebaik-baiknya.

 

Bekerja sebaik-baiknya dan sesuai porsinya berarti kita tidak mengorbankan sesuatu di luar pekerjaan kita. Kalau bahasanya pencuit tulisan ini, “sampe ga punya kehidupan” (selain bekerja). Orang mungkin melihat bahwa saya sebelumnya adalah seseorang yang total dalam pekerjaan saya sampai terlihat tidak punya kehidupan. Padahal, tidak seperti itu. Ya… keliatannya aja. Padahal di luar kerja ya tetep aktif inainu. Tapi, saat jamnya kerja, ya saya melakukan apapun itu sebaik-baiknya, setotal-totalnya, dan tetap seperlunya. Kalau terlalu baik, ya saya juga sadar tidak seberapa dihargainya.

 

Menelisik pada organisasi lain yang saya ikuti, di luar kerja, saya tahu bahwa memang seharusnya melakukan sesuatu itu seperlunya. Meski dalam hal ini adalah melakukan pelayanan. Tetapi, kalau tetalu total dan (lagi-lagi) sampai tidak punya kehidupan selain itu dan terkesan dimanfaatkan karena bisa apa saja. Ya, memang sebaiknya kurangi dan cobalah mencari aktifitas lain.

 

Selain itu, saya juga memandang bahwa keperluan di kantor itu memang seperlunya. Kalau pekerjaan sudah, ya, sudah. Dengan pengalaman segitunya saat kerja dan berorganisasi, saya merasa bahwa waktu istirahat, meluangkan waktu bersama orang lain di luar kantor dan organisasi, bahkan waktu dengan diri sendiri, adalah sebuah privilege yang tidak semua orang bisa miliki. Kalau kantor atau organisasi, dimana kita menjadi bagian di dalamnya, sudah memberi kita ruang untuk hal ini, kita tentu patut bersyukur.

 

Mengembangkan diri dalam pekerjaan atau organisasi itu tak melulu harus terlalu total hingga tak punya waktu untuk diri sendiri. Tetapi, bagaimana kita sebagai manusia bisa bertumbuh sebagaimana mestinya tanpa merugikan orang lain dan, yang terpenting, diri sendiri. Diri sendiri yang utuh dan sehat secara fisik dan mental tentu akan memberi pengaruh terhadap hubungan dengan orang lain pula.

 

Berkaca dari pengalaman berpindah-pindah tempat magang (dan sekali tempat kerja), saya pun melihat bagaimana suasana kantor juga mempengaruhi “totalitas” bekerja itu sendiri. Tempat dan suasana kerja itu tentu berpengaruh pada cara kita “mengabdi” pada kerja kita, mulai dari beban kerja, rekan kerja, tempat bekerja, minat dan bakat, dan (tidak bisa dipungkiri) upah dan jaminan kerja. Perbedaan-perbedaan ini tentu saya rasakan, kalau ditempat ini kelebihan dan kekurangannya apa saja, dan di tempat yang lain bagaimana.

 

Berhubung, tulisan ini dipublikasi di tanggal-tanggal gajian… hehe. Ayo semangat kerja ya, totalitas sesuai jobdesc aja, habis itu hura-hura. Jangan lupa istirahat, minum air putih, nonton Netflix, dan olahraga. Saya juga masih belajar untuk menyeimbangkan ritme kerja dan di luar kerja, hubungan pekerjaan dan personal, dan fokus mengembangkan diri lebih baik lagi. Ya tentunya, mengurangi terlalu focus kerja dan gapunya kehidupan di luar, berusaha kembali mengambangkan diri, nulis-nulis lagi, nonton series lagi, olahraga lagi. Lagian, ini kan refleksi untuk diri saya sendiri. Kelak kalau lupa, bisa baca lagi. Semangat aku, dan kamu semua yang membaca tulisan ini.

 

 

20 Apr 2022

Mengutip @yajugaya, "Yang Lain Mencari Perhatian, Aku Mencuri"

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk paling caper di muka bumi. Hal ini berarti 7 milyar lebih manusia di bumi ini melakukan sesuatu demi dilihat, diperhatikan, dipedulikan orang lain. Entah, itu kolektif atau personal, seseorang ingin mencari perhatian orang lain. Mau ngomong apasik u, lagi caper yy? Ya karena abis ngeliatin orang caper di demo yg didokumentasikan dan tersebar luas di jagat maya.

Demonstrasi mahasiswa, katanya, yg ada di depan DPR minggu lalu sepertinya masih saja terlihat ditungganggi pihak-pihak gak bertanggung jawab. Ya, lihat aja, pengeroyokan dosen UI itu. Tapi, sebenarnya, selama aspirasi itu disampaikan pada forum yang tepat (re: demonstrasi misalnya) ya sudahlah, setidaknya tersampaikan pada pihak berwenang dan pihak DPR juga bertemu dan berbicaran pada pihak pendemo. Namun, tulisan ini tidak akan membahas dema-demo dan tujuan politik demo tersebut, tetapi cara mahasiswa yang cari perhatian dengan tulisan-tulisan pada spanduk demonya.

yang menurut saya, yaelah awikwok bgt ni elah. frik u. bentuk capernya ngga bgt.

Susah-susah, aktivis perempuan melakukan women's march pada hari perempuan dan memperjuangkan RUU TPKS (yang sekarang sudah SAH!!!!) agar perempuan tidak diobjektifikasi. Tapi, tulisan yang dibawa-bawa perempuan ini cenderung menyiratkan sikap seksis dan melanggengkan objektifikasi pada perempuan. Padahal, tidak ada yang lucu dan menarik pada tulisan tersebut. Kata dan frasa yang digunakan memang seolah-olah sengaja menggunakan kata yang ambigu dan seakan mewajarkan objektifikasi pada jenis kelamin tertentu (dalam hal ini, tentu saja, perempuan).

apakah pantas menggunakan kata-kata 'ayang yg naik', 'bercinta tiga ronde', 'harga mi-chat' dan menaruhnya pada poster tulisan besar seakan hal ini normal dan wajar dikatakan secara biasa saja?

Ya, tidak wajar kata-kata seksis dan merendahkan ini dinormalisasi. Kalau ada siapapun yang bercanda dengan kata-kata seksis sebaiknya tidak pantas ditanggapi dan ditertawakan. Sama sekali tidak lucu. Saya sering mengeluhkan dan menemukan meme bernada seksis pada akun-akun shitpost, tapi buat apa dikeluhkan, jelas-jelas dia mendeklarasi akunnya untuk mengunggah hal-hal 'shit'. Yang salah adalah menormalisasi hal tersebut dan menganggap lucu hal-hal yang mengobjektifikasi dan merendahkan orang lain.

Memang ada-ada saja cara untuk mencari perhatian orang lain. Salah satunya, mungkin, mengunggah kata-kata uang kontroversial, seksis, sehinggal viral dan diperbincangkan di jagad maya. Setelahnya, baru deh, penulisnya melakukan klarifikasi yang tetep ngga banget alesannya (ya jelas-jelas salah dan merendahkan). Di era digital ini, orang mudah sekali mencari perhatian dengan membuat sesuatu yang kontroversial sehingga menjadi buah bibir di media sosial dan viral. Viral atas sesuatu yang baik dan mendorong kebaikan sih ngga apa-apa. Tetapi, kalau viral atas sesuatu yang buruk tentunya tidak diinginkan dan tertinggal di dunia maya sampai kapanpun. Jejak digital, kiwari, penyebutannya. Ya, jejak digital itu akan selalu ada dan tertempel pada profil seseorang hingga kapan pun.

Jadi, lakukan hal baik hingga viral dan mencuri perhatian. Jangan lakukan hal buruk untuk viral dan mencari perhatian. Saya bukan anak sastra kayak mbaknya yang menulis tulisan seksis di poster demo tersebut, tapi saya bisa membuat kata-kata yang berasonansi dan tetap berpegang pada esensi. hehe. cheers!



21 Mar 2022

Seperti Gendam, eeh, Dendam maksudnya

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, kata gnolbo alias Eka Kurniawan, yang didaptasi menjadi film dan menang Locarno. Ya kalo di film sih, Iteung mati-matian bales dendam untuk Ajo Kawir. Tapi, apakah dendam itu perlu? benci itu begitu kuat hingga dendam? Dendam itu apa? lalu kenapa saya merasa tidak perlu mendendam pada seseorang?


Dendam artinya, menurut kbbi, berkeinginan keras untuk membalas (kejahatan dan sebagainya). Tetapi, apakah seseorang begitu pantas untuk dibalas perlakuan buruknya? Perlakuan apapun dari seseorang, apalagi yang buruk, tidak perlu dibalas. Menurut saya, Yang Maha Kuasa dan Maha tahu lah yang berhak menentukan balasan atas perbuatan seseorang. Kita, manusia, tidak punya hak sedikit pun menentukan balasan perbuatan seseorang.

Kita hanya bisa menduga, mengira-ngira, dan mendoakan orang tersebut. Entah baik atau pun buruk. Kalau kata mas Tulus dan lagunya yang viral, mah, ya, hati-hati di jalan. Tapi, kalau di twitter seliweran tweet yang tidak mendoakan hati-hati di jalan, juga tidak apa-apa. Manusia hanya bisa berdoa, tapi semua rencana atas seluruh hidup kita, itu sudah digariskan dengan bersahaja oleh Yang Kuasa. 

Sebenarnya tulisan ini tercetus karena seseorang mengatakan, "kamu jangan dendam." Lalu, saya berpikir dan berpikir... tidak terbesit sedikit pun rasa dendam. Pada hari yang sama, hari minggu, bacaan kitab suci di Gereja pun mengatakan perihal yang sama, untuk tidak mendendam. lukas 6: 27-38, hukum kasih. Dalam permenungan pada homili romo, Ia mengisahkan bagaimana rentetan kekerasan itu tidak akan hilang, kalau hanya berpikir tentang balas membalas. Ada hal lain yang bisa dilakukan untuk melawan tanpa harus membalas, kalau kata romo.

Saya juga tidak ingin melawan. Pikiran untuk mendendam kok dilawan, yang bener mah gak kepikiran karena tidak membenci. Justru sebulan ini, saya berefleksi lebih dalam. Menilik, apakah benar saya sepenuhnya dulu seperti itu hingga harus mendendam? atau malah saya (atau dia) sudah mendapat ganjarannya dari Tuhan tanpa kami, masing-masing, sadari, hingga akhirnya kami memang diarahkan untuk berjalan ke arah berbeda.

Saya menyadari bahwa saya tidak sepenuhnya. rasa itu nyata, iya betul. Kepedulian orang sekitar saya, tentunya, nyata. Tapi, bagi saya, rasa itu tidak sepenuhnya alasan utama. Jadi, memang, saya tidak mendendam, bukan karena saya tidak ada rasa, tidak kesal, tidak membenci. Terlebih semata-mata, saya ingin belajar menerima, bahwa banyak hal memang harus berjalan sebagaimana ingin-Nya, bukan rencana-rencana buatan manusia.




Saya percaya bahwa menerima keadaan itu adalah hal yang tidak mudah. Tapi, dia mengajarkan saya untuk menerima. Kalau tidak sesuai keinginan, yaudah, yaudahlah mau gimana lagi. Bukan pasrah, tapi, menerima bahwa sesuatu itu di luar kendali kita. Kita bisa memilih mana yang bisa kita kendalikan dan tidak, terutama untuk membenci atau tidak, mendendam atau tidak. Semata-mata bukan untuk orang lain, diri kita lah yang perlu untuk diajak memahami keadaan dan menerimanya sebagaimana adanya.

27 Feb 2022

Belajar Seumur Hidup

Menurut bapak-ibu guru di Sekolah, Belajar itu gak cuma dari sekolah tapi seumur hidup. Belajar bukan hanya menghafal membuka buku-buku, mendapat nilai, menerima rapot. Tetapi, bagaimana kita memaknai setiap pengalaman dan belajar dari sana. Ya, lagi lagi, kata guru dan tulisan kata mutiara di sekolah, sih, pengalaman adalah guru terbaik alias experience is the best teacher. Cara kita memaknai "guru-guru" dalam hidup dan mengambilnya menjadi sebuah pembelajaran itu yang penting sehingga kita bisa berkembang sebagai manusia seutuhnya.


Nastasha abigail di podcastnya, pernah bilang, kita ketemu seseorang itu pasti ada alesannya, either as a lesson or blessing. Tapi, saya akan mencoba melihat dari prespektif lain, dengan pertanyaan-pertanyaan... Dari mana kita tahu bahwa seseorang itu 'ditemukan' dengan alasan? Bagaimana kalau blessing dan lesson bisa datang dari orang yang sama? 

ngga usah asumsi dan menduga-duga siapa. ini refleksi diri. cuma ditulis aja biar gak lupa.

Ada yang bilang gini, "kedewasaan seseorang itu gak diliat dari umur ya, ya itu contohnya si x". Ini mungkin menandakan bahwa ia belajar dan melihat tentang kedewasaan, bagaimana seseorang dengan perspektif tertentu menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya dan bertindak tidak sesuai umurnya. Ya, jelas, bertemu dengan orang seperti ini bukan blessing. ya lesson aja, kalo bisa jangan berurusan karena ngeselin sikapnya. Tapi, apa dengan ngeselin kita berhenti kenal, bicara, tahu, dan kerja sama dengan orang tersebut? Ya, kan, tentu saja tidak, apalagi dengan kondisi tertentu yang mengharuskan berhadapan dengan orang yang seperti itu.

Belajar itu dari mana saja. mungkin, bertemu dengan seseorang yang entah dari mana, mudah mengungkapkan pertanyaan yang membuat saya tercengang alias 'buseh ni orang baru ketemu dah nyari kesempatan nyari tau' WKWKW. Ya, saya pasti cuma cengar cengir, karena dia tidak perlu tau, hhh, kepo. Kalo ini, ya belajar untuk bisa menjelaskan keadaan sejujurnya dan seperlunya.

Tentu, ada yang terang-terangan mengatakan ia belajar sesuatu dari seseorang dan mensyukurinya. Nah, ini. apakah ini bisa masuk ke kategori apa? blessing bisa, lesson bisa. Ia mendapat pelajaran dari orang lain, tapi ia juga merasa mendapat blessing karena mengenal orang itu. Kedua hal ini didapat dari orang yang sama, berarti tidak bisa atau, tetapi blessing and lesson. Memilih mengenal seseorang yang menjadi blessing dan lesson adalah baik. Kita mengerti bahwa pelajaran bisa kita ambil dari orang itu, sekaligus bersyukur mengenal orang tersebut. Bersamaan. bukan berarti orang tersebut buruk atau baik sekali, tapi, ya, kita syukuri semua baiknya, pelajari buruknya. Blessing is a strong word and being a lesson to others too. Pelajaran yg buruk juga tetap pelajaran apalagi kalo kata orang tua, "jangan sampe kayak kakakmu tuh", hehe ini mengutip nastasha abigail juga.

ya, meski ngutip-ngutip, pernah bertemu nastasha abigail ya blessing, punya pengalaman di acara 'mendengar bersama' dan playlist itu yang selalu didengerin kalau lagi mumet. But, this time, saya sedang melihat kembali dan berusaha menerapkan hal ini bahwa seseorang yang hadir di dalam hidup itu selalu datang sebagai keduanya, lessons and blessings. Some good times, its a blessings. Some tough times, its a lessons. Jadi, bukan suatu pilihan, ia sebagai blessing atau lessons, but both, dan yuk, sama-sama belajar satu sama lain, berusaha perbaiki diri, heal from each other traumas, oh your traumas youve made, it sticks and i really try to accept and deny its not coming from you. Tapi, gapapa.

cheeeers

22 Nov 2021

Mikirin Kata Orang?

This is been a trouble to me the last 5 years and still counting kayanya. Dulu, saya menganggap orang tuh segitu mengganggunya buat saya sehingga apapun katanya akan saya pikirkan sampai masuk ke dalam pikiran dan sedalam itu. Ya, saya pun sampai merasa terganggu dengan pikiran saya sendiri.

 

Memikirkan kata orang, memang tak akan ada habisnya. Saya bertemu dengan seseorang yang pada akhirnya banyak mengubah cara saya memandang dunia. Singkat memang, tapi caranya menyampaikan kekompleksan cara memandang dunia itu membuat saya memikirkan ulang banyak hal.

 

Pada akhirnya, kata-kata dia lah yang saya pikirkan. Ia mengubah saya yang pemarah menjadi seseorang yang… “ya ngapain marah”, karena saya sempat bertanya, “lo gak pernah marah ya?”. Ia sempat bercerita tentang marahnya dan kapan ia marah dan yaa... karena saya gak pernah lihat dia marah jadi gak bisa ngebayanginnya gimana.

 

Siapapun yg kenal saya, pasti tahu saya gak pernah terlihat marah. Yaaaaa… jangan dah.

 

Membiasakan diri seperti sekarang bukan proses yang mudah. Setelah orang itu pergi, tentu saja, saya kembali menjadi orang yang pemarah, ketus, and I see myself as the meanest person I’ve ever known. Ya, lagi-lagi, datang orang lain yang menyadarkan saya dan mampu menenangkan ‘amukan’ yang tak teredam dalam diri saya. Tapi, ini membuat saya justru mematikan rasa dalam diri saya. Dari seorang yang sulit berekspresi, saya semakin tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik (sampai sekarang dan masih terus belajar memperbaiki ini).

 

Banyak hal dalam hidup saya yang memaksa saya ‘mengeluarkan’ emosi atau perasaan saya, tetapi karena saya sudah ‘dipaksa’ meredam perasaan saya sejak kecil, hal ini menjadi sesuatu yang sulit. Pada akhirnya, saya tetap tidak bisa menyampaikan perasaan saya dengan baik.

 

Oke, balik ke kata orang….

 

Kata orang, saya bukan orang yang gampang dipancing emosi. Iya. Emang. Walaupun dulu saya pemarah, saya mungkin marah karena banyak memikirkan perkataan orang. Setelah saya belajar ‘tidak marah’ dari teman saya itu, saya justru lebih memperhatikan hal lain, yaitu tidak memikirkan perkataan orang. 

 

Hal ini memang sesuatu yang sangat tidak mudah. Tapi, hidup memang sejatinya memilih, kan? Saya memilih untuk menutup telinga dari hal-hal yang tidak mau saya pikirkan. Buat apa saya membuat Lelah diri memikirkan hal yang tidak menyenangkan yang dikatakan orang lain? Selama saya tidak mengusik hidup orang, tidak mengganggu orang lain, dan melakukan hal yang membuat saya senang, kenapa saya harus memikirkan kata orang?

 

Saya berusaha tidak memikirkan kata orang dan kasak-kusuk tentang saya. Buat apa? Gossip dan ngomongin orang di belakang… mending ngomong langsung lah, sini. Saya akan tanggapi daripada ngomong di belakang saya dan menyebar gossip yang tidak-tidak. Kalau iri, bilang dan lebih baik kenalan dan berteman dengan saya agar tahu kebenarannya, bukan ngomongin di belakang.

7 Nov 2021

“Happiness is a choice, not an achievement” – Bungkus Choco Pie

 Sebenernya, kalo dipikir tentang bahagia… Siapa yang tau tentang bahagianya sesesorang? Coba, kalau ditanya, “kamu sudah bahagia belum?”Mungkin, bagi beberapa orang, ia bisa menjawab sudah dan mengatakan bagaimana ia merasa bahagia. Tapi, ada juga orang yang masih mengusahakan bahagianya.

 

Kalau ditanya apa arti bahagia bagi saya, entah, saya juga belum menemukannya. Kalau dibilang, bahagia itu pilihan… saya bingung mengatakannya. Memang sih, rasa bahagia itu tak bisa selamanya, kan hidup itu dinamis, kadang ada masa sedih, kadang bahagia. Tapi, saya bisa dengan yakin mengatakan kapan-kapan saja saya merasa bahagia, meski belum sepenuhnya.

 

Kalau dibilang pilihan… saya ingin memilih untuk berada di memori itu selamanya. Walaupun di muka, saya bilang kalau saya ingin menghidupi saat ini apa adanya, tapi ada waktu-waktu kamu ingin menyimpan memori saat kamu bahagia. Rasanya ingin menghentikan waktu saat itu terjadi, dan saat sudah lewat, tentunya kamu ingin kembali lagi merasakan hal yang sama.

 

Tapi, untuk sampai pada titik perasaan yang sama, bukanlah yang yang mudah, bahkan mustahil.

 

Bahagia pun menjadi hal yang berbeda setiap saat aku merasakannya. Perasaan bahagia itu perasaan yang penuh. Ia seakan memenuhi ruang-ruang hati dan membuatmu merasa hangat. Mungkin perasaan itulah yang ingin dijaga, disimpan, rasa hangat atas bahagia.

 

Kalau dibilang bahagia itu pilihan. Banyak hal yang rasanya ingin saya pilih, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Kalau saja itu benar bisa membuat saya bahagia. Tapi, perasaan ragu akan kebenaran bisa membuatku bahagia atau tidak inilah yang selalu membuatku ragu memilih. Biasanya, aku membiarkan seseorang memilihkan untukku atau ya katamu, karena ngalir aja.

 

Pilihan yang tidak dipaksakan itu memang membahagiakan. Saya ingin memilih bersama orang-orang yang tidak membuatku merasa buruk. Mengerti, bahkan mengusahakan apapun. Secara pribadi, dan kalau yang dikatakan teman saya benar, aku punya tes bagi orang-orang di sekitarku. Ia yang tak lolos, biasanya belum tentu kuanggap teman. Hanya sebagian kecil, kecil sekali, yang bisa menembus tes itu, dan ada satu yang mampu lolos sempurna. Sayangnya,say belum memilih bahagia itu.

 

Menelisik ke belakang, orang-orang begitu dinamis. Tak selamanya yang dikatakannya pada tes itu selamanya sama. Tunggu saja bertahun, ia lelah biasanya. Aku bersyukur kalau tidak berubah. Sayangnya, tak mungkin kan… aku pun berubah. Bahagiaku menjadi lebih sederhana, dalam pandanganku. Menghabiskan waktu, sentuhan sederhana, perhatian kecil. Bahagia.

 

Kalau bahagia itu pilihan… kenapa omongan dan pilihan seseorang dapat memengaruhi bahagia orang lain? Tak bisakah, sesuatu tetap adanya sehingga bahagia seseorang tak mengusik orang lain? Lagi-lagi, memang bahagia bukan pencapaian, tapi aku juga tidak yakin kalau itu pilihan. Pilihan sih pasti, tapi apa benar itu pilihan yang tepat untuk bahagia seseorang? Apa pilihan ku tepat?

23 Okt 2021

Yaaaa... "Namanya juga Manusia"

Kayaknya selama kerja, minggu lalu paling banyak kelewatnya. Inginnya sih, mencari-cari alasan atas kelalaian ini, dan memang ada yang bilang kalau memaklumi ‘skip’nya saya minggu lalu. Tapi, tetap saja, ini saya yang salah. WKWKKW. maaf ya gaes.

 

Dulu, saya dan teman pernah mendiskusikan perihal pemakluman atas perilaku buruk atau ceroboh manusia. Ini diawali dengan frasa, “namanya juga manusia”. Seseorang cenderung menggunakan kalimat itu untuk, secara tidak langsung, meminta orang memaklumi bahwa ia tidak sempurna dan bisa salah.

 

Ya, memang kesempurnaan hanya milik yang Kuasa. Kita hanya kumpulan manusia yang tidak sempurna.

 

Tapi, bukan berarti itu alasan bagi seseorang untuk membuat pemakluman diri atas kelalaian atau kecerobohannya. Saya tahu, dalam postingan beberapa minggu lalu, saya dengan angkuhnya bilang, ‘bukan dalam hal pekerjaan’, bahwa saya ceroboh. Tapi, ternyata, ada juga cerobohnya di minggu lalu.

 

Padahal, minggu itu adalah minggu kedua, dua episode tayang perdana. Untungnya sih memang gaada masalah, tapi kan jadi nambah kerjaan orang lain, yang harusnya saya sudah siapkan. Ya memang sudah disiapkan sih, hanya lupa ditaruh ke project yang dikerjakan.

 

Mau dibilang sudah dimaklumi, tetap saja, perasaan bahwa saya melalaikan tanggung jawab di minggu lalu itu tidak hilang. Hehehehe. Rasanya pingin minta maaf terus, yang saya juga tahu jawabannya gak apa-apa.

 

Di luar skip di kerja, banyak banget skip ketinggalan barang. Yang gini gini, saya jadi ngerepotin orang buat dititipin. Makasi ya, rangorang yang saya titip-titipin. Sekali, dua kali, mungkin gak apa, kalau berkali-kali, bisa saja mereka jengah dengan perilaku saya.

 

Semoga saya, jiwa-jiwa baik itu tetap ada ya. HEHE.

 

Ya kembali lagi, pada diskusi saya dan teman saya perihal “namanya juga manusia”. Pemakluman itu memang sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Tapi, kami berpikir bahwa tidak baik kalau frasa itu digunakan untuk pemakluman sifat buruk seseorang. Ada yang namanya usaha untuk memperbaiki diri, baik secara perilaku maupun kesalahan yang dilakukan.

 

Tidak. Saya tidak perlu menggurui siapapun yang hendak menggunakan frasa itu sebagai pemakluman atas tindakan buruknya. Namun, ada baiknya mengakui dan meminta maa kalau ada perilaku yang merugikan orang lain atau membuat orang lain tersinggung. Tentu saja, setelahnya, kita harus memperbaiki diri agar tidak perlu mengeluarkan jurus “yaah, namanya juga manusia”.

17 Okt 2021

Life changes, katanya sih gitu

 3 Events in 1 Week

Oke. Ada baiknya kita memulai perjalanan menelisik minggu lali ini dengan yang menyenangkan terlebih dahulu. Ya, gak menyenangkan-menyenangkan amat sih, kan dijadiin refleksi.

Ya, Namanya juga kerja ketemu berbagai masalah yunik yang tida diduga.  Mulai dari harus ngebantu tim yang masih kekurangan orang, sampai ada kabar tidak menyenangkan, sampai kedatangan teman lama ke tim. 

Konteks membantu tim yang kekurangan orang ini sebentulnya membantu saya lebih mengembangkan diri dan membuat saya kembali membiasakan diri untuk mewawancarai narasumber. Pertama kali diberi tugas, rasa deg-degan itu tidak hilang seharian. Detak jantung yang berdegup cepat membuat lupa perihal  penting, pertanyaan narasumber.

Saat itu, saya tentu fokus untuk membriefing narsum tentang pertanyaan saya. Tapi saat kamera menyala, perekam suara berjalan, buyar sudah. Saya hanya bisa mengeluarkan pertanyaan yang ada dibenak sekenanya sambal berusaha melihat kembali catatan pertanyaan untuk narasumber yang ada di gawai saya. Saat itu saya lupa untuk mematikan fitur sleep otomatis di gawai saya. 

Namun, setelah sekali wawancara berjalan, saya mulai bisa terbiasa. Meski rasa deg-degan itu tak hilang. Tetapi, saya tidak berpikir bahwa melakukan wawancara ini adalah beban, meski memang bukan job description saya. Saya haya melihat ini sebagai peluang, bahwa ke depannya, saya mungkin bisa mendapat kesempatan untuk menjalani job description yang lain. Tapi, saat ini, saya masih ingin berdinamika di pola baru dan cara kerja ini. Heu. Life changes emang.

Setelah wawancara ini, datanglah hari, dimana, teman saya bergabung dalam tim yang  kurang orang ini. Ia yang sebelumnya belum pernah kerja di media bentuk ini tentu mengalami culture shock kali ya. Ya, akhirnya ia memang mendapat teguran dari atasan, tetapi saya terus meyakinkannya agar tidak menyerah. Bisa lah, belum nyesuaiin aja kali ya.

Kabar lain lagi, dateng dari bagian lain lagi. Ini minggu emang lagi temanya perubahan kali ya. Ada rumor tentang perubahan lain yang kayaknya akan ganggu flow kerja, ya untungnya diinterupsi dan gak jadi. 

Tapi, kalo pun beneran ada perubahan, ya gak apa-apa. Life change, people change. Work flow change. WKWKWKW. 

Oke penutupnya harus rada rapihan kali ya, ini mah curhat nanggung aja. Dalam hidup, memang adaptasi itu tak terhindarkan sifatnya. Kita gak bisa seenaknya memilih, “aku gak suka”, lalu pindah gitu aja. Tapi, ada sistem yang lebih besar yang sudah berjalan. Kita lah yang harus beradaptasi, bukan sistem besar itu yang mengikuti mau kita. Egois itu namanya. Ada baiknya kita melihat situasi yang lebih besar  dahulu, baru kita melihat keadaan diri kita sendiri.